Ketika Puisi (Putri Marino) dihujat Netizen

Ketika Puisi (Putri Marino) dihujat Netizen – Diantara kegabutan saya yang belum berkesudahan, sampailah saya pada salah satu hal trending di mana netizen menghujat puisi karya Putri Marino. Kemudian terciptalah tulisan ini. Begitulah bloger, apa-apa bisa dijadikan konten.

Sengaja saya menuliskan ini karena ngomongin puisi, lebih lebarnya, karena mengangkat tentang dunia menulis.

Oke, begini…

Saya tahu Putri Marino karena dia main film yang judulnya Posesif dan ia pun istri dari mantannya Laudya Cynthia Bella (Demi apa dong saya googling dulu supaya nulis namanya dengan benar). Ndilalah pernah lihat IG dari Putri Marino yang biasanya ada caption puisi. Jadi, nggak kaget kalau Putri Marino menerbitkan puisinya dalam bentuk buku.

Ada Apa dengan Puisi Karya Putri Marino?

Kepoin dong saya. Walaupun lebih banyak penggalan-penggalan puisinya saya tahu dari hujatan netizen.

Netizen mengkritik sana dan sini. Ada yang mempermasalahkan tanda elipsis atau maksud dari puisi yang dibuat oleh Putri Marino.

Kata mereka begini, kata mereka begitu.

Tapi kata saya begini cuy!

  1. Karya tidak pernah lepas dari kritik

Karya, apapun itu. Sama sekali nggak bisa lepas dari kritik. Mau bikin sepatu kayak Vantela, nggak akan lepas dari kritik netizen yang bilang plagiat merk sepatu lain. Penyanyi bisa dikritik habis-habisan oleh pendengarnya, dll pokoknya.

Kritik sangat wajar ada. Di situlah tempat banyak belajar.

Tapi kalau hujatan?

Saya menanyakan pada diri sendiri di mana bedanya kritik dan hujatan? Saya pikir bedanya tipis tapi kerasa banget. Tipis tapi terasa, persis kayak pakai pembalut, meski tipis, ia terasa ada.

Menurut saya sih begini, nggak tahu kalau yang lain. Saya bisa salah.

Misal kita diposisikan sebagai penilai akan suatu hal. Kita pegang instrumen penilaian. Kalau begini oke, kalau begitu belum oke, kalau begini maka oke banget. Hal-hal yang seperti itu jelas pengetahuannya. Bisa dipelajari. Protokolnya jelas.

Ketika sudah masuk dalam penyampaian kepada orang yang dinilai. Maka di sini urusannya sudah metode. Masuk ke ranah ini butuh ilmu, bukan cuma pengetahuan.

Jadi, kritik yang benar-benar kritik adalah ketika suatu penilaian disampaikan dengan metode yang tepat. Sedangkan hujatan muncul karena metodenya kurang tepat. Kritik punya potensi membawa ke arah lebih baik. Hujatan tidak pernah membawa kemana-mana.

Ibaratkan menjalankan mesin kendaraan, dengan cara menyetir yang tepat, kita bisa tahu kapan harus berhenti, kapan harus melaju, kapan harus ngerem pelan-pelan, kapan putar balik, dengan begitu pengetahuan yang ditaruh di dalam kendaran bisa sampai tujuan dengan baik.

Jika ada orang pincang lewat jalan di depan kita, terus kita nggak tahu namanya. Haruskah kita memanggilnya dengan “hei pincang, sini!”. Meskipun kondisi pincang pada orang tersebut adalah suatu kenyataan (Kondisi pincang, katakanlah adalah pengetahuan).

Netizen sering bilang, kalau bagus katakan bagus. Kalau jelek katakan jelek.

Sebagai netizen juga. Saya selalu tanya ini ke diri saya mengenai karya orang lain; sudah seberapa dalam pengetahuanmu akan hal itu? Apa kapasitas saya melontarkan kritikan jika memang ada?

  1. Hei, ini puisi! Subjektif sekali.

Saya pernah menulis tema tentang puisi di blog ini. Di sini tulisannya.

Jujur, pengetahuan saya tentang puisi itu cetek. Bahkan untuk melabeli apa yang saya tulis dinamakan puisi pun saya agak ragu-ragu. Lebih logis jika saya mengatakan bahwa saya tidak bisa menulis puisi.

Ketika saya menulis dengan tujuan menulis puisi, itu jadi beban. Saya lebih suka menulis sesuka hati, kalau pembaca bilang itu puisi, maka itu akan jadi puisi yang tidak disengaja. Hehe.

Tapi saya juga penikmat puisi. Bagi saya, puisi itu kalimat yang cenderung tidak padat, namun bisa menahan saya dalam durasi yang lebih lama dibandingkan waktu membacanya.

Satu halaman pendek puisi. Bisa membuat saya “ngerem” lama untuk tidak membuka halaman berikutnya. Kadang, puisi yang menurut saya bagus juga bisa selalu terasa seperti bacaan baru. Padahal sudah dibaca 99x.

Jika saya katakan puisinya Aan Mansyur itu bagus, nggak bisa saya menggiring opini itu pada orang lain. Itu sesuatu yang nggak bisa dipaksakan.

Setiap karya apapun, termasuk puisi. Punya ruangnya masing-masing. Punya penikmatnya sendiri-sendiri.

Kalau penikmat musik pop masih menghujat penikmat musik dangdut. Maka yang dia nikmati perlu dipertanyakan lagi. Kerena, jika sudah menikmati akan sesuatu, kenapa masih terganggu dengan “sesuatu yang di luarnya”?

Kalau netizen sudah tahu model puisi yang disukai. Kemudian Putri Marino muncul dengan puisi gayanya sendiri, kenapa harus merasa terganggu dengan cara menghujat? Tinggal nggak beli bukunya kan beres.

  1. Jangan Sampai Karena Hujatan, jadi Takut Menulis

Pernah nggak kalian insecure sama tulisan kalian sendiri. Nulis lama-lama, kemudian merasa tidak aman dengan tulisan sendiri? ragu-ragu, kemudian tulisan itu hanyalah seonggok tulisan yang ada di file-file usang milikmu.

Saya pernah.

Sebegitunya lho nulis. Menulis itu nggak pernah mudah. Bikin blog yang tulisannya nggak seberapa ini pun nggak pernah mudah di mata saya. Memilih kata, menyusun kalimat, itu berat. Melepaskannya ke publik pun butuh keberanian. *bagi saya sih.

Jangan sampai hujatan membuat orang enggan berkarya hingga berhenti berkarya.

Siapapun berhak membuat puisi, Putri Marino, saya, kalian, bahkan preman sekalipun. Bikin puisi nggak dosa.

Lalu, izinkan saya menutup tulisan ini dengan cara yang sederhana.

Wis ngono wae. Wis.

Lho kok malah kentang ya? Nanggung bener daaaaahhhhhhhhhhh.

Penutupnya apa ya?

Ketika Puisi (Putri Marino) dihujat Netizen, saya ingat betapa saya juga pernah membuat tulisan yang katanya puisi dikatain “lebay”. Pernah juga dikatain, “halaaahhh galau melulu.”

Saya juga bertanya pada diri sendiri, “Kapan mau nulis puisi lagi Mo?”

Terima kasih yaa para netizen dan Putri Marino. Kadang, puisi dan dunianya terasa begitu asing. Diam di pojokkan, kini tema ini mendadak muncul jadi bahan diskusi.

*Dan saya punya bahan bikin tulisan di blog. Hoho.

10 komentar pada “Ketika Puisi (Putri Marino) dihujat Netizen

  • 04/01/2020 pada 10:04 PM
    Permalink

    Semua penulis punya jodoh pembacanya masing2. ~

    Tinggal ga beli bukunya ajanah netizin kok repot ~

    Balas
    • 04/01/2020 pada 10:59 PM
      Permalink

      hu uh… tinggal nggak beli aja. 👍

      Balas
  • 04/01/2020 pada 10:29 PM
    Permalink

    Netijen itu udah hampir sama kayak detergen apa pun yg di depan mata suka di bersihin gitu aja nggak peduli itu warna kesayangan apa nggak. Asal tampak seperti noda langsung dah dilibas.

    Padahal warna hitam itu bisa jadi sebuah hiasan. 😂😂😂

    Balas
    • 04/01/2020 pada 11:02 PM
      Permalink

      perumpamaan yang bagus.
      begitulah, maha benar detergen dengan kekuatan 10 tangannya, bukan 10 jari lagi.

      Balas
  • 05/01/2020 pada 1:30 PM
    Permalink

    ahahahaha ternyataaaaa Momo nulis juga tentang ini hihihihihihi….

    Balas
    • 05/01/2020 pada 8:45 PM
      Permalink

      saya duluan Bang. hahahaha….

      gemes saya pengen nulis.

      Balas
      • 05/01/2020 pada 9:20 PM
        Permalink

        hehehee iyaaaaaa… maksudnya aku bukan “setelah aku baru kamu tulis” koq tapi maksudnya kita nulis hal yg sama dengan pendekatan yg beda 🤣🤣🤣

        Balas
  • 05/01/2020 pada 6:37 PM
    Permalink

    oh, dan aku jadi tahu bahwa berita ini lagi hits..

    Balas

Tinggalkan Balasan