Ketika Rumah Bukan Tempat yang Aman untuk Sekadar Bersedih

Ketika Rumah Bukan Tempat yang Aman untuk Sekadar Bersedih – Sebelum tulisan ini keluar, saya sudah membuat enam buah tulisan yang saya pikir akan emosional sekali. Salah satu kelemahan memaksa diri untuk menulis adalah ketika menulis dalam keadaan suasana hati yang buruk.

Ada suatu drama korea yang dialognya bilang begini, “Aku ingin melakukan tidakkan kekanakan dan tidak menyesal esok harinya. Jadi, aku iri padamu.” Lupa di drakor apa.

Yang jelas, saya juga sama-sama iri.

Saat ini himbauan untuk di rumah sedang gencar-gencarnya

Mal di tempat saya tutup dan akan buka kembali pada tanggal 15 april 2020. Sudah di level itu. Tempat-tempat yang biasanya ramai mendadak menjadi sepi. Jalan-jalan juga sudah lengang. Kebetulan, tempat saya berada saat ini adalah zona merah.

Liburan anak sekolah juga sudah diperpanjang, berobat ke puskesmas sudah dilarang kalau pasiennya belum parah dan belum sekarat. Ke dokter gigi kayak yang bukan hal mendesak seperti membersihkan karang gigi pun tidak diperbolehkan.

Di rumah?

Saya bosan.

Saya pengen main.

Atau lebih dari itu. Saya ingin pergi untuk sekadar bersedih sebentar saja. *dan yha, akhirnya saya emosional juga.

Kalau bukan musim COVID-19. Saya sudah mencari suaka untuk menenangkan diri.

Kalau bahasa lainnya. “Cari angin.”

Sekarang susah. Rasanya menyesakkan dada.

Jadi, saya pengen menyisipkan tulisan ini saja.


Hilang dan Ditemukan

Menulis, buat sebagian orang adalah ruang di mana ia bisa mencurahkan segala rasa, kepenatan, jatuh cinta, patah hati, bahagia, sedih, suka cita dan nestapa.

Bagi sebagian lainnya, menulis adalah bagaimana seseorang sekadar mengisi waktu di kala senggang, atau sekadar menuangkan ide yang lalu-lalang di dalam kepala.

Ada beberapa bagian lagi, menulis sudah menjadi bagian dari pekerjaan, tentang bagaimana mencari sesuap nasi, gaji, berbatang emas dan sebongkah berlian.

Bagi yang lain, menulis adalah jalinan harapan yang tak habis-habis. Mungkin ada kehilangan dan kekecewaan di dalamnya. Tapi tak juga henti-hentinya kebetulan.

Apakah kamu percaya pada kebetulan?

Tulisan fiksi yang kamu buat kemarin, adalah gambaran nyata kisah yang terjadi hari ini. Orang yang selama ini jadi inspirasimu dalam menulis, mendadak meninggal esok hari setelah memuji tulisanmu. Orang yang memberikan komentar tulisanmu hari ini, ternyata diam-diam telah mencuri kekasihmu. Tulisan keseharian seseorang yang kamu baca, sebulan kemudian diam-diam memasukkan kisahmu di dalamnya.

Mungkin kalau kita tidak mampu memperhatikan baik-baik, kita bisa terjerat dalam jalinan tersebut. Kemudian kita tak lagi tahu apakah sekadar menulis atau menjalin nasib. Mana yang menjadi subjek atau objek. Apakah itu diam? Apakah itu bergerak? Apa ini nyata? Apa ini fiksi? Atau bisa jadi semuanya hadir dalam peran yang tak pernah pasti. Kita tak pernah tahu atau mungkin tidak terlalu peduli, dalam tulisan segala sesuatu bisa terjadi.

Setelahnya?

Mungkin kita akan lupa. Menjadi asing. Asing pada diri sendiri. Asing pada tulisan sendiri, merasa ada yang aneh pada tulisan orang lain.

Tapi… hei!!!!!

Dengan orang asing. Kita mungkin bisa lebih berinteraksi dengan jujur. Apa adanya barangkali? Agak sedikit malu? Itu wajar. Sangat biasa. Setelah beberapa saat kita akan terbiasa.

Sebagai orang asing dan saling asing. Kita mungkin akan menjaga jarak. Tapi tidak ada kalimat “menutup diri”. Saya tidak akan segan menuliskan hal yang paling memalukan dalam hidup yang pernah dialami padamu. Atau mungkin kita bisa tertawa bersama atas kisah yang sama.

Menakjubkan. Kita tidak perlu bersalaman untuk itu. kamu juga tak perlu tahu siapa nama saya sebenarnya dan detail yang mengiringinya.

Apalah arti sebuah nama?

Saya, kamu, mereka, dia, kalian hanyalah partikel lepas, melayang-layang dalam sebuah tulisan?

Tulisan adalah tempat berbagi. Berbagi nasib? Berbagi gosip? Lebih dari itu, kita telah membagi ruang. Dengan tulisan, kita punya ruang untuk bicara sekaligus mendengar. Tidak peduli itu tulisan yang membuat takjub atau hal remeh.

Saya menyukai hal remeh. Toh, kita harus memberi tempat untuk hal-hal remeh. Membagi hal-hal kecil. Supaya hidup tidak terlalu melelahkan ya?

Mungkin banyak sekali harapan-harapan yang kita titipkan pada tulisan. kita juga semakin sadar di mana tinta pernah digores, di situ waktu telah berlalu. Mungkin terasa cepat. Mungkin seperti berlari.

Akan ada titik di mana kita kehilangan. Mungkin karena kita begitu lambat atau terjatuh saat “berlari”.

Di dalam tulisan, selalu ada yang hilang…

Namun, kita semua tak pernah berhenti mencari. Jika nasib berpihak, harapan akan menemukan akhir ceritanya. Lain kali, kita akan kehilangan lagi.

Tulisan…

Sebuah kotak misterius berisi hal-hal yang hilang dan ditemukan.

Hilang dan ditemukan…

Hilang dan ditemukan…

 

You May Also Like

4 Comments

  1. Pas baca part terakhir jadi inget film pendeknya Angga Sasongko yang colab sama Padi Reborn itu. 😀 Jangan-jangan kita semua ini cuma tokoh dalam cerita?!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *