Cerita Momo Cuma Nulis Aja Ketika Saya dipanggil Tante

Ketika Saya dipanggil Tante

Ketika Saya dipanggil Tante – Saat itu saya ada di dalam toilet dengan posisi duduk. Ruangan toiletnya memanjang. Tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran toilet. Pencahayaannya juga sangat terang, sudah seperti studio yang digunakan untuk syuting saja.

Karena pencahayaannya yang cukup semena-mena itu, membuat saya mampu melihat paha saya dengan baik. Ya, paha. Posisi duduk dan pencayaan yang baik semacam harmoni yang membuat saya tertunduk cukup lama. Meski urusan dengan toilet itu sudah tidak ada. Saya masih duduk dengan serius.

Paha saya ini sama sekali tidak estetik. Betapa permukaan kulitnya sungguh kering, itu pun sudah ditambah dengan ketidak elokan bernama selulit.

Selulit ini sudah saya dapatkan sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Bukan baru tahu pas duduk di toilet saat itu. Jelas bukan karena faktor usia kenapa ada selulit di sana. Anak SMP kelas VIII bahkan terlalu muda untuk diberi cobaan semacam selulit. Mungkin faktor nasib saja.

Yah, nasib. Lagi-lagi.

Paha saya ini penuh dengan kekurangannya nyaris absolut, begitu kesimpulannya saat itu.

Untuk urusan kulit kering. Saya merasakan sekali ketika masuk usia 30an. Kulit saya mudah sekali kering.

Dalam posisi duduk menunduk penuh keprihatinan memandang paha itu. Ada suara anak kecil memanggil dari luar.

“TANTEEEEEEE DI MANAAA?”

Baiklah. Sesi memandang paha sendiri telah habis. Mari kita keluar.

Saat itu kami ada di klinik. Anak kecil tadi mencari saya karena menunggu Ibunya yang ada di ruang tindakan. Kemudian lihat saya sudah tidak ada lagi di kursi tunggu. Jadilah teriak-teriak.

Sebutan Kakak

Ponakan saya paling besar saat tulisan ini dibuat sudah kuliah. Dari kecil saya sudah punya ponakan (yah kakak saya sudah berproduksi dan menghasilkan keturunan yang fertil :v ). Maka dari dulu pula saya dipanggil dengan sebutan Kakak, saat itu jelas saya dan keponakan pernah sama-sama ada pada usia di bawah umur. Bukan panggilan Bibi atau Tante.

Keterusanlah sampai keponakan yang paling cilik. Semua panggil Kakak. Bahkan anak-anak dari sepupu atau cucu dari sepupu.

Dipanggil Kakak adalah semacam kebiasaan. Bahkan Kakak-kakak saya sendiri manggi saya Kak, kemudian pada minta duit. Luar biasa sekali. Kenapa saya seperti yang paling tua.

Jadi, dipanggil tante adalah…

Adalah ketidakbiasaan di telinga dan lapis-lapis hubungan keluarga. Dulunya, ada ketidaknyaman saat dipanggil tante.

Sekarang tidak lagi.

Semua menjadi kewajaran saja. Tidak perlu ada agresi untuk melawannya. Hal itu menjadi tidak perlu. Ketidaknyamanan itu pun hilang begitu saja.

Saya oke-oke saja dipanggil Tante.

Padahal kalau mau diartikan secara personal. Saya seperti dipanggil Ahjumma dalam bahasa korea. Yang mana bener-bener diartikan sebagai perempuan yang lebih tua.

Tua

Memandang paha dengan prihatian kemudian dibangunkan dengan terakan “Tante!” adakah semacam pesan tersendiri.

Bahwa saya telah tua.

Uban-uban di kepala bahkan sudah tumbuh di usia kepala 2. Mungkin mereka-mereka akan lebih subur di kepala 3.

Ketika dibawah sinar matahari pagi, saya memandang punggung tangan saya. Ada bintik-bintik coklat. Ingatan saya melayang ke mendiang adik saya. Adik saya itu semacam disetel cepat soal penuaan. Tutup usia di 23 tahun. Ubannya banyak sekali saat itu dan tangannya mengingatkan saya pada Nenek.

Ketika orang seusianya lepas kuliah. Ia lulus hidup. Telah usai agendanya dan berapa seumur hidupnya tunduk akan ketentuan-ketentuan yang dituliskan untuknya.

Proses menua itu ternyata tidak terlalu menyakitkan juga.

Uban yang tumbuh. Ya tumbuh saja. Tidak sakit. Justru lebih sakit ketika tumbuh gigi.

Kulit yang mengering itu pun ya mengering saja. Saya kemudian menerjemahkannya bahwa mungkin saya kurang minum atau butuh pelembab ekstra.

Menua itu…

Mungkin seperti memasuki ruangan penuh kegelapan. Setelah dimasuki ruangan-ruangan itu, ternyata gelap hanyalah gelap. Tidak ada selain gelap itu sendiri. Bahkan tidak ada Titan satu pun.

Tanda-tanda penuaan tidak bisa hindari. Mau tidak mau akan muncul. Tapi jelas bisa diakrabi dan jelas bisa dijinakkan. Sehingga tanda-tanda itu muncul lebih anggun. *teteup.

Jadi, untuk saya, mohon rajinlah minum.

 

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 Comment

  1. Baiklah…
    aku juga kan manggil tante. wkwkwkw
    Tante mo hihihihi

    Aku dulu juga paling ogah dipanggil mas oleh sepupu yang jauh lebih tua dariku. namun sekarang aku mulai terbiasa memanggilnya dengan sebutan adik,. Entah apa alasannya. sekian lama manggilnya mbak, namun sekarang manggil adik. mungkin biar terlihat belagu aja kali yah, hahah