Lebih Hening

Saya merasakan waktu berjalan melambat ketika usai magrib. Dipikirnya sudah jam 10. Tapi nyatanya masih jam 8.

Apa hidup saya jadi semembosankan itu?

Adik saya doyan nangis. Kadang kejang. Kadang teriak minta “manis” alias minta susu kental manis. Kalau kejang, Bapak saya biasa teriak-teriak manggil yang lain.

Tapi kini dua orang itu telah istirahat dengan damai.

Ibu saya tidak mendadak terjaga sebab adik saya yang tiba-tiba kejang atau dipipisin. Kini, Ibu lebih sering tidur lebih cepat. Tidak ada TV yang menyala. Tidak ada radio yang menyala. Tidak ada suara mesin jahit yang digunakan malam hari juga.

Kadang, terlintas di kepala untuk bersyukur ketika keadaan cukup tenang. Alhamdulillah, Kakak saya nggak ngamuk. Nggak tahu kalau besok-besok.

Sendirian

Abis ini apalagi?

Begitulah kepala saya mendorong diri pelan-pelan. Kadang rajin bikin soal. Kadang buru-buru bikin invoice. Kadang juga cuma scrol twitter. Kadang pula minta kucing saya Acung buat nemenin nonton drakor.

Rebahan yang tidak diganggu ini memang nyaman sekali.

Ternyata. Saat sendirian, nggak ada siapa-siapa. Saya menjadi sangat jujur. Tidak ada pura-pura. Laah mau pura-pura sama siapa?

Saya punya akses internet yang cepat. Langganan Disney+ dan Netflix dan teman-temannya. Sampai bingung mau nonton apa.

Akhirnya malah nontonin video kucing lucu.

Mau nulis di sini. Terus kelupaan mau nulis apa. Tapi tetap nulis aja. Maka jadilah begini.

Saya Sebenarnya Tidak Terlalu Menderita

Suatu malam, saya menangis sejadi-jadinya. Kayaknya saya nggak pernah menangis seperti itu? Bahkan dicampakkan pun nggak begitu.

Saya sedih sebab mengingat hidup Bapak yang lebih memilukan dari melo drama apapun yang pernah saya saksikan.

Ketika mengingat, merunut, betapa saya juga tidak beruntung. Ternyata pada perjalannya, saya masih bisa bertahan. Masih bisa bikin lelucon yang kerap kali hanyalah upaya samar supaya hidup nggak gila.

Dua hari lalu. Saya ngobrol dengan teman lama via WA. Dia bilang, saya orang baik. Dia mendoakan saya yang baik-baik. Dia juga bilang saya pintar.

Lucu.

Saya pikir penilaian itu terlalu bagus.

Apa buktinya saya orang baik? Apalagi pintar?

Saya Merasa Tidak Bahagia

Iya. Saya juga merasa tidak bahagia.

Saya kesal hanya karena beli ketoprak yang rasanya nggak enak. Makanan itu hendak saya buang tapi keburu diminta Mbak In.

Saya memutuskan untuk tidak makan hanya karena lidah saya nggak doyan. Padahal perut saya lapar.

Di luar. Sandiwara adalah salah satu cara saya dalam bertahan hidup. Kalian tahu? Dalam satu hari. entah sudah berapa makian saya lontarkan dalam isi kepala.

Saya tidak setuju ini. Tidak setuju itu. Ingin berkata kasar. Tapi cuma diam saja.

Menghitung Kata

Kata yang meluncur sepertinya lebih sering ketika di dalam kelas saja.

Saya banyak diam.

Kalau libur? Uhhh apalagi.

Bapak Dulu

Bapak saya dulu banyak diam. Banyak bekerja. Sekalinya bicara biasanya marah-marah. Persis kayak Bapak Yeom.

Eeh sayanya begitu.

Yah, semoga yang sudah klik blog saya nggak nyesel baca tulisan saya yang nggak guna ini.

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Comment