Cerita Momo Cuma Nulis Aja Love is Blind: Reality Show Netflix yang Halah Masa Sih!

Love is Blind: Reality Show Netflix yang Halah Masa Sih!

Love is Blind : Reality Show Netflix yang Halah Masa Sih! – Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya demen banget bahas acara netflix. Begitulah, kalau bingung, saya tinggal panggil ingatan saya tentang apa-apa yang sudah saya tonton. Nulisnya nggak lama, setengah jam kelar.

Sreeeettt sreeet… *yaakalik bunyinya begini.

Ini sih tulisan saya yang cukup agak “emmm gimana gitu” sama salah satu tayangan netflix yang katanya reality show yang kelar di episode 10 belum beberapa minggu lalu. *saya baca tulisan saya ulang. Kenapa belibet, tapi sudahlah.

Awal Nonton; Apaan Sih? Laahh kok malah keterusan

Acara ini kalau saya bilang cukup ekstrim aja. Gimana nggak? Kenalan lewat kapsul dan ujung-ujungnya nikah gitu.

Yha.

Acara ini bertujuan menyatukan pasangan ke dalam pernikahan, selama 6 minggu aja. Selama satu musim acara. Selama 10 episode yang durasinya 1 jam dengan editan penuh tentunya.

Baca juga soal Sex Education Pertama di sini, Kedua di sini.

Begini awalnya, perempuan dan lelaki dikumpulkan dalam tempat yang berbeda dan mereka hanya diperbolehkan bertemu melalui kapsul. Kapsul ini ruangan yang nyaman banget. Ada sofa, selimut, minuman, bahkan makanan. Nah, mereka-mereka ini hanya berkomunikasi lewat kapsul doang. Cuma bisa denger suaranya aja. Nggak lihat mukanya kayak gimana.

Selama beberapa hari tuh kayak gitu. Nunggu sampai mantep. Kalau nggak nemu yang pas? Udahan. Pulang.

Lucu sih. Masing-masing pegang buku terus mencatat siapa-siapa aja yang mereka ajak bicara dan apa aja yang menarik menurut mereka.

Para peserta pun sibuk keluar masuk kapsul. Begitu terus sampai mereka menukan pasangan yang menurut mereka cocok dan siap dipertemukan.

Ketika posisi ketemu, udah tunangan tuh.

Nanti ada acara liburan, ketemu keluarga, sampai di pelaminan. Kilat emang. Bukan tahu bulat doang yang dadakan. Acara ini juga banyak hal-hal mendadak.

Obrolan yang Nyambung dan Tidak, Sampai Edisi Bingung Pilih yang Mana

Ada yang bingung milih siapa.

Ada yang nggak nemu pasangannya.

Ada yang mantep dan nggak lama langsung pengen ketemu.

Waaahhh… rame sih. Tapi, episode pertengahan malah bikin saya muak. Wkwkwk. *nonton aja biar tahu.

Dramanya banyak cuy. Habisnya semua peserta dipertemukan yang menimbulkan percikan-percikan drama. Tapi wajar sih, di mana ada drama, di situ ada penonton. Saya juga suka kok sama drama. Walaupun kadang suka mengesalkan juga.

Di dalam Kapsul Juga Kadang Nemu Obrolan yang Nggak Penting

Agak paham sih. Posisi kapsul digunakan untuk menyingkirkan variabel-variabel tertentu dalam ketertarikan pasangan. Misalnya, nggak ngurusin tuh harus pakai pakaian gimana. Soal ras dan warna kulit juga jadi variabel yang disingkirkan.

Klasik. Temanya ketemu pasangan yang bukan karena fisik, tapi karena kepribadiannya.

Tapi masih ada aja yang bilang, “Keknya kamu ras kulit hitam.”

Emmm… Yaelah Bambang…. Nggak punya topik yang bagusan yaa? *begitulah saya ngebatin.

Ada juga peserta yang kerjaannya tebar pesona terus ke semuanya, sampai dia sendiri bingung mana yang tulus sama dia.

Ada juga yang ragu sama perbedaan usia. Soalnya beda 9-10 tahun. Ceweknya lebih tua.

Tapi Apakah Benar Kayak Judulnya? Cinta itu buta?

Ndasmu.

Nyatanya banyak pertimbangan juga usai ketemu.

Pas ketemu menarik juga sih. Ada yang cowoknya lari ke cewek langsung meluk. Ada yang sama-sama lari. Ada yang salah satunya diam aja.

Tapi, rata-rata mereka saling memuji pas pertama ketemu.

“Yaakkk ampun elu cakep anjay.”

“Yeaaah elu juga cakep Bambankkkk.”

Begitulah mereka. Terus senyum-senyum terus sampi gigi mereka jadi kering.

Saya yang nonton cuma “Aisshhh… lihih.”

Setelah Sebentar Saja Saling Mengenal. Apakah Mereka Beneran Nikah?

Ada yang masih sama-sama mau sampai pelaminan.

Ada yang gagal kawin. Itu lho pas ditanya, “maukah kamu menjadi… anu dan anu…”

Terus Bambangnya nggak mau. Atau Maemunahnya yang nggak mau.

Ada pula yang lari-lari pengantin perempuannya sampai jatuh-jatuh segala, air mata beruraian juga. Ada yang menolak si perempuan karena ngerasa perempuannya belum siap. Padahal si lelakinya suka.

Drama sampai akhir cuy.

Haaaaaddddeeeehhh… Begitulah Saya Nonton 10 episodenya!

Oh iya, acara ini nggak cocok sama anak-anak dibawah umur. Habis begitulah. Kalian paham kan maksud saya apa?

Nggak paham?

Kalau pancasila paham nggak? Hewhew.

Saya nontonnya sebagai alternatif hiburan saja. Tapi, untuk pesertanya oke dalam hal “main dramanya”. Terlebih setingan apa nggak? Apa sih dalam hidup yang nggak setingan? Udahlah. Tinggal tonton aja. Lumayanlah daripada acara katakan cinta di Indonesia tahun 2000an.

Mau lihat icip-icip acaranya? Ada di video ini.

Netflix lagi nyobain pembuktian apakah benar cinta itu buta. Teman saya bilang, tai kucing bisa rasa coklat.

Aah saya sih cuma penonton yang asyik-asyik aja nontonnya. Lumayanlah, Netflix kalau bikin acara kagak setengah-setengah. Gimana? kalian sudah nonton belum?

Abis nonton ini….

Emmm kalau ada yang bilang I Love You?

Jawaban saya kayaknya jadi begini; “You don’t love me. You just love the idea of me or the idea of loving.”

Benar nggak cinta itu buta?

Nggak.

Menurut kalian? Eehh udahlah, nonton aja tayangannya. Hahaha.

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment