Marah Besar

Marah Besar – Dibandingkan mengungkap luapan amarahnya, kebanyakan ketika saya marah. Saya memilih untuk diam. Tapi tidak dengan beberapa hari lalu, saya memilih meluapkan amarah saya tanpa pikir panjang. Saya ucapkan kemarahan itu sampai saya tidak mampu berkata-kata lagi.

Tidak peduli sekotor apapun ucapan yang saya ucapkan. Saya ingin marah hari itu. Saat itu.

Ketika dihadapkan dengan seseorang yang enggan saya hadapi. Saya memilih menepi. Saya menjauh. Saya tidak mau berurusan lagi. Tapi ada kalanya hal itu tidak bisa saya lakukan. Saya melihat orang yang saya benci itu tiap harinya. Karena dengan berat hati saya harus mengakui bahwa orang itu adalah anggota keluarga sendiri.

Kalimat amarah itu keluar. Saya meninggikan suara. Kalimat saya siap dengan dengan ketajamannya.

Saya mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling saya benci sepanjang hidup saya. Bahkan melihatnya saja sudah benci. Apalagi dengan hidupnya yang terus menerus berulah. Saya lelah sekali dengan orang yang tindak tanduknya sama sekali tidak dewasa, selalu menyalahkan orangtua dan tidak tahu terima kasih.

Saya bilang bahwa ketidakberuntungan saya yang paling nyata adalah menjadi saudara kandungnya. Bahwa demi Tuhan saya sudah lelah dengan tiap tingkah lakunya yang sudah tua tapi selalu menyusahkan dan meresahkan.

Kalimat itu muncul. Kalimat tanya yang tidak perlu jawaban, kenapa adik saya yang mati, kenapa tidak orang itu saja yang mati?

Kalian tahu?

Dulu, saat orang itu bertengkar dengan istrinya (sekarang bukan istrinya lagi). Saya mengambil payung dan memukulnya dengan payung kecil sampai payungnya rusak. Hanya payung yang saat itu bisa saya gapai. Mungkin, bila ada pisau di samping saya. Pasti orang itu sudah saya hunus dengan pisau.

Saya marah. Saya marah sekali.

Bahkan saat memendam kemarahan yang tidak bisa saya ungkap dan ucap. Saya lelah sekali. Hidup acapkali melelahkan. Hingga dada ini terasa sungguh sesak.

Setelah kemarahan itu pecah. Saya harus kembali bekerja. Seperti biasa.

Saya tidak bisa untuk tidak marah. Saya lelah.

Next Post

No more post

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *