Cerita Momo Cuma Nulis Aja Mbak Kunti di Rumah Seberang Jalan

Mbak Kunti di Rumah Seberang Jalan

Mbak Kunti di Rumah Seberang Jalan – Hari ini malam jumat lho… saya mau ngelanjutin cerita yang di tulisan yang ini. Sebab tulisan yang lama belum rampung semua kalau ngomongin rumah kosong. Sesuai dengan penjelasan saya sebelumnya, kali ini rumahnya tepat di depan rumah Emak.

*semua foto di sini nggak nyambung sama tulisan yaa. Hanya pemanis saja. *tulisan sebelumnya di sini.

Saya nggak akan kasih gambar karena nggak mau kena masalah dikemudian hari. Langsung aja yaa ceritanya.

Kadang Saya Ngerasa Kampung Saya ini Sepi, Rumahnya Sering pada Kosong

Rumah samping kiri misal. Karena orangtuanya sudah meninggal, sisanya cuma beberapa anak. Pernah isinya sepupu saya doang.

Rumah sebelah kanan. Isinya nenek-nenek yang suka kepo sama saya. “Lho, kamu kerjanya udahan?” gitu terus kalimat tanya dia kalau saya lagi njemur baju di belakang. Emang tipikal nenek kepo gitu. Neneknya tinggal sendirian tanpa anak dan cucu. Rumah ini super rame kalau lebaran doang.

Belakang rumah Nenek, ada rumah anak nenek. Lantai dua. Saat ini dikontrakkan karena penghuni lamanya punya dua rumah. Beberapa pengalaman saya soal rumah anaknya nenek, pernah lihat semacam api terbang dan masuk dapur. Saya lihatnya nggak sendiri. Tapi bareng temen yang sama-sama lari pas lihat kejadian ini.

Tapi bukan rumah-rumah sebelah yang bakalan saya ceritakan. Melainkan rumah yang pas ada di depan. Pemilik rumahnya sama kayak cerita di post sebelumnya.

sumber pixabay

Awalnya rumah biasa, dihuni, hingga…

Pemiliknya meninggal. Rumah dan tanahnya jadi warisan. Dulu normal-normal aja, nggak ada kejadian yang gimana-gimana. Di tanah pekarangan itu posisinya ada dua rumah. Satu rumah kecil yang tusuk sate dan satu rumah besar.

Gambarannya begini. Samping kanan rumah Emak itu ada gang kecil. Nah, pas banget kalau gang lurus, mereka bikin rumah kecil tuh di situ. Itu namanya rumah tusuk sate. Padahal sebelum ada bangunan baru itu isinya cuma tanah kosong. Temat saya dan kawan-kawan main gundu. Cuma hati-hati aja kejatuhan bluluk (kelapa kecil).

Mulailah ada gonjang-ganjing rebutan warisan. Hingga pilihan menjual rumah beserta tanahnya tak terelakan lagi. Udah tahu kan? Kalau pemilik baru ini cuan banget. Bagi dia beli rumah dan tanah di kampung itu sudah macam jajan es kopi kekinian saja.

Sebelum benar-benar dijual, rumah ini lumayan lama kosong. Walaupun sempat dikontrakkan beberapa kali. Tetep aja kosongnya lama.

Model rumahnya itu rumah biasa yang punya kaca gede-gede itu lho. Dari luar masih kelihatan gitu kalau ada apa-apa di dalamnya, jadi, kacanya bisa buat kepo-kepo. Rumahnya lantai satu dengan sekeliling ditanami pohon sukun.

Sosok Hantu di Pekarangannya Terkenal Pede

Saat masih dikontrakkan, yang kontrak terakhir kerjanya bikin kandang, apapun kandangnya kalau ada yang pesan. Bapaknya jago banget buat.

Sayangnya, Bapak ini nggak berani bikin kandang malam-malam. Karena keseringan melihat sosok tinggi besar di pekarangan kalau malam. Hal itu bikin dia nggak fokus kalau kerja.

Kalau menurut tetangga sebelahnya sih kejadian kayak gini biasa aja. Karena sudah keseringan kejadian.

Berbekal pengetahuan ini. Mandeng-mandeng ke kebon rumah ini lebih baik saya hindari aja.

Soal Mbak Kunti ini…. Emm yhaaa… Terkadang tuh…

Sering denger bunyinya kalau ada buibu yang hamil.

Tetangga belakang yang sering denger, biasanya kayak bunyi ketawa atau menangis. Kalau pengalaman saya, dengernya kayak suara “ngesss” entog (salah satu itik dari keluarga bebek yang lebih pendek). Itu sih kata yang lain ya, kalau “ngess” ini diartikan sebagai bunyi dari Mbak Kunti.

Hal kayak gini nggak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Untuk urasan entog, kami-kami ini sebagai anak daerah selalu diwanti-wanti waspada dan berdoa seumpama melihat entog terbang di malam hari dan sendirian entognya. Karena nggak wajar, entog biasanya ada bersama dengan kelompok.

Nahhh…. kalau penampakannya di rumah tetangga depan kayak gini;

Rumahnya jendelanya gede-gede, nggak ada hordenganya juga tuh. Jadi dari luar masih bisa lihat meski dalam keadaan malam hari.

Suatu ketika ada tetangga jauh lagi hajatan. Para Buibu suka bantuin tuh. Lewatlah mereka di rumah tetangga depan. Lewat jalan sampingnya, semacam gang senggol. Mereka melihat sosok perempuan dengan baju putih di dalam rumah.

Tapi belum curiga, dipikirknya memang ada penghuni. Hingga Buibu tadi tanya sama Mbak Saya.

“Iku umah ana wonge beli?” (itu rumah ada orangnya tidak?”)

“Laka, durung ana kang ngontrak maning.” (Tidak ada, belum ada yang mengontrak lagi)

“Jadi, isun mau ndeleng memedi kayane.” (jadi, saya tadi lihat hantu kayaknya).

Nah barulah Buibu tadi ketakutan sambil cerita dan nggak mau lewat jalan yang sama lagi.

Keadaan Rumah Kini Sudah Berubah

Kalau kisah Mbak Kunti yang kelihatan di jendela, ini masih model rumah lama. Nggak lama usai dibeli pemilik baru, rumah dan pekarangannya dibongkar. Rumah kecil yang tusuk sate udah nggak ada. Jadi, lurusan gangnya cuma taman dan joglo kecil aja.

Model rumah di depan rumah saya ini dibuat lumayan unik. Pagarnya pakai bata merah khas keraton. Kalau zaman sekarangnya sih wajib banget kayak balai desa atau kecamatan pakai tembok bata merah.

Rumahnya masih lantai satu tapi dibuat tinggi banget. Yang mewahnya adalah bagian ukiran bagian depan, jendela, dan ujung-ujung rumah. Katanya sih, kayak gitu aja sudah ngabisin duit 350 juta.

Belum biaya yang lain kayak kolam ikan yang ada kodok lagi pipis, joglo, lampu-lampu khas keraton, bata merah sampai gerbang kayu.

Saat rumah ini belum dipagari, ada aja bocah-bocah yang numpang foto-foto di ukirannya. Karena emang unik dan bagus. Kalau musim lebaran, rumah itu nggak lebih cuma buat foto-foto aja sama yang punya. Orang kaya mah bebas cuy.

Emak saya pernah iseng tanya ke adik dari pemilik rumah. Kayak gini;

“Iku umah ngo nonggoni sapa?” (itu rumah buat dihuni sama siapa?)

“Mbuh iku. Jurig kayae.” (Nggak tahu, jurig kayaknya)

Wkwkwkwk.

Emak saya kalau komentarin horang kayah yang satu ini bilangnya begini, “ada orang tuh mabuk perempuan, nah ini mabuk rumah, di Jakartanya juga sama aja, bikin rumah terus nggak ditempatin.”

Begitulah. Emang hobinya bikin rumah aja. Ditempatinnya nggak. Jadi, para demit di kampung saya, rumahnya jauh lebih bagus daripada manusia-manusia tetangganya guys. Hahah.

Lagi-lagi, saya belajar bahwa dalam berucap harus hati-hati. Asal bicara rumahnya untuk ditempati dedemit, menurut tetangga yang pas rumahnya bersebelahan, sering banget denger suara orang ngobrol tapi nggak jelas ngobrol apa. Kalau nggak gitu, ada suara anak-anak yang terkekeh-kekeh.

Tiap Bangun Pagi, atau Lebih Tepatnya Kesiangan

Saya pas banget mandeng rumah itu lewat jendela samping. Rumah besar, kebun luas, tapi lagi-lagi nggak dihuni sama manusia. Kesannya sayang aja. Tapi jelas terserah yang punya rumah. Apa itu ya? tipikal orang kaya yang duitnya bingung mau beli apaan lagi. Bahkan kapal pesiar aja katanya punya.

Penutup.. Balik Lagi Ke Mbak Kunti

Belakangan, karena ada yang hamil. Saya sering denger suara aneh-aneh kalau malam. Mulai dari orang ngobrol nggak jelas sampai suara burung. Ada yang bilang juga, itu suara kunti. Nggak tahu burung apaan. Suka kesel saya sama diri sendiri. Mana lagi bawaannya susah tidur pula.

Yhaa. Sudah dulu. Kapan-kapan saya nulis temanya jurig lagi.

Beginilah nasib tinggal di kampung, di kota begitu nggak sih?

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 Comment

  1. Di kosanku juga sama Mbak. Katanya sih ada yang nempatin juga. Perempuan sama banyak anak kecil. Kalau yang indigo bisa lihat. Tapi, gak pernah aneh2 sih mereka. Gak ganggu. Cuman kalau larut malam yagitu. Dapurnya bikin merinding. Kalau sekarang habis renovasi, lantai bawah jadi kafe dan area belakang, outdoor, terang oleh lampu2 hiasan lucu. Gak terlalu horor. Cuma pernah kata mas penjaga di bawah lihat sekelebat bayangan kunti pas jam 2 dini hari. Habis gitu mereka nyetel mp3 ceramah. Kenceng banget. Aku yg di lantai atas sampai kedengaran. Kirain udah subuh. 😅😅😅

    1. yhaa ampun. hantunya diceramahin yaaa jadinya, apa mempan? kok malah lucu ya.
      tapi Mulya nggak pernah “kopi darat” sapa hantunya kan. aahh mending jangan kelihatan deh. sekali ngelihat bakalan jadi pengalaman tak terlupakaaan!!!