Cerita Momo perjalanan hidup minimalis Melepaskan Buku-Buku, Sedikit Saja yang Disimpan

Melepaskan Buku-Buku, Sedikit Saja yang Disimpan

Melepaskan Buku-Buku, Sedikit Saja yang Disimpan – Saya adalah orang yang nggak pernah ngerti kenapa kamar saya sungguh berantakkan. Diberesin sebentar, agak rapi. Kemudian acak-acakkan kembali.

Prihatin sendiri.

Hingga saya memberi kesimpulan bahwa kalau kamar saya mau rapi, satu-satunya cara adalah saya nggak ada di kamar itu. Alias kamarnya nggak pernah saya “apa-apaain.”

Manusia memang suka merusak ya?

Atau saya berpulang ke Pencipta untuk kemudian barang-barang saya di kamar jadi milik orang lain.

Wih.

Baeqla my love.

Tulisan ini mau ngomongin perjalanan seni hidup minimalis yang coba saya terapkan. Tertatih-tatih saya melakukannya. Tapi lama-lama seru juga, saya jadi membatasi diri di mana pengennya mendapatkan “sesuatu terus.”

sumber: pixabay

Jujur aja, buku itu sulit dilepaskan.

Sedikit demi sedikit buku-buku itu saya kumpulkan dari usia belasan tahun hingga mau tiga puluh tahunan, barulah saya benar-benar mau melepaskan mereka di tahun 2019 lalu.

Jumlahnya ratusan. Dua ratusan kayaknya. Cukuplah mengorbankan lemari jadi mleot sebab terlalu berat menanggung beban.

Kalau dipandang kayaknya sedikit. Tapi kalau lagi musim bersih-bersih. Sumpah itu melelahkan sekali. Dihitung pakai nominal uang, nyatanya nggak sedikit. Banyak, bayangkan saya kalau satu buku 50rb.

Kalau dikasih ke orang, rasanya sayang banget.

Cerita saya soal dua lipstik yang dimiliki ada di tulisan yang ini.

Hingga saya memberanikan diri untuk melepaskannya.

Kalau saya mati nanti. Jelas itu kepastian. Saya nggak punya wewenang mau diapain bukunya. Gimana kalau bukunya dikremasi kayak celana dalem bekas punya saya? bagaimana jika keluarga saya yang hidup melakukan tindakan demikian?

Mikir lagi…

Itu buku rata-rata hanya baca satu atau beberapa kali untuk buku tertentu. Dipajang gitu aja nggak ada gunanya.

Hingga sampailah saya memilah buku. Mana yang diberikan ke perpustakaan, mana yang akan disimpan, mana yang akan dijual kembali. Lumayanlah ada uang yang saya dapetin lagi.

Untuk presentasenya 10% disimpan, 30 % dijual, 60% diberikan ke perpustakaan.

Hampir setengahnya langsung “nggak ada”. 30% buku yang dijual juga merujuk pada waktu untuk “pergi”, yaaakalik langsung ada yang beli. Dalam satu tahun barulah benar-benar menyisakan yang mau disimpan saja.

sumber pixabay

Perasaan saat melepaskan.

Saya memilih buku baik-baik. Memeriksa lembarannya takut ada uang nyelip atau catatan tertentu. Lumayan yaaampun, berasa kaya mendadak gitu kalau nemu duit di dalam buku. Padahal duit-duit sendiri.

Setelah semuanya selesai. Saya bawa sampai tiga kali kunjungan ke perpus, sebab nggak muat di motor cuy.

Ada kelegaan usai dilepaskan. Salah satu dari buku itu semoga memberikan sesuatu bagi pembacanya. Karena saya pernah ada di titik demen banget sama buku dan jadi doyan baca. Suka baca bikin gatel untuk nulis.

Sama kayak melepaskan mantan guys. Semoga ada orang di luar sana ada yang menemukannya dan bahagia karenanya. *pret.

Suka nulis akhirnya saya kayak sekarang. Tidak berserabut, tidak berakar tunggang, dan tidak punya biji dengan keping dua. Untuk masalah menulis, kayaknya saya miskin peningkatan sih. Kecuali udah lemes aja ngebacot lewat tulisan.

Ruang yang menjadi lebih kosong.

Kalau di dunia arsitektur, karena kosonglah bangunan jadi punya makna. Pintu ada bukan karena daun pintunya, melainkan karena ada ruang kosong yang ia tutupi.

Saya pikir, melepaskan juga sama membahagiakannya dengan mendapatkan sesuatu. Tidak seburuk yang saya pikirkan selama ini.

Untuk urusan bersih-bersih jadi lebih mudah. Tapi urusan buku hanyalah beberapa elemen doang yang di kamar. Skincare di pojokan yaaa Tuhanku. Ampuni hamba.

Menyoal seni hidup minimalis juga mengajarkan saya untuk menyikapi buku-buku berikutnya yang saya miliki. Belakangan, saya jarang membeli buku sebelum yang lama selesai dibaca. Saya juga jarang membeli buku fisik. Cenderung lebih ke e-book dengan segala kekurangannya.

Kalau masalah suka. Saya lebih suka buku fisik. Tapi lama-lama suka juga sama e-book. Yha, saya emang gampangan. Gampang suka, nggak mau ribet aja sih intinya. Mana kalau ebook itu harganya jauh lebih murah banget dibandingkan buku fisik. Sering dapat voucher potongan juga.

Eemm yaah.

Punya sedikit buku nggak masalah. Kalau nggak punya rasa lega untuk melepaskan, itulah yang masalah.

Saya lebih belajar banyak dari melepaskan daripada mendapatkan sesuatu, terlebih, kayaknya Tuhan suka banget cepet-cepet ngambil yang saya suka. Kayaknya Doi ingin banget saya banyak belajar soal melepaskan.

Melepaskan dengan kesadaran ternyata lebih melegakan dibandingkan dipaksa lepas karena sebab tertentu.

Sekian.

Kalian suka nimbun buku?

Atau suka nimbun cucian jangan-jangan?

Terima kasih sudah sudi mampir di sini.

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 Comment

  1. Wello. Penimbun buku hadir. Kemudian dia masuk ruang simpan buku Mbak Momo, memilah-milah, tengok kiri-kanan, fyuh gak ada sisitivi, ambil satu, difoto2, taruh lagi ke raknya, lalu ke dapur minta esteh manis, lalu pamit pulang. 😅😅😅

    Kata si Pi hidup memang soal melepaskan. Selain buku, senyummu juga sulit dilepaskan dari pikiranku. 😁

  2. Sayaa tiap book fair pasti beli banyak buku, setidaknya lebih dari tiga kan sudah masuk itungan banyak kaan. Habis beli masuk kardus, gak tau bacanya kapan. padahal kata konmari saat terbaik baca buku itu pas beli di awal. kalo gk kebaca di momen itu berarti gak bakal dibacaa. Hahahaa

    Gitulah, intinya saya suka menimbun buku, tapi lebih lebih lebiiih suka lagi menimbun rindu. Walau tida terbalas. Sad