Memaksakan Diri untuk Menulis

Memaksakan Diri untuk Menulis  – Sejauh ini saya sudah rutin menulis sekian hari, semenjak tulisan saya yang ini. Sepanjang saya menulis setiap harinya, saya lebih memaksakan diri. Hasilnya? Seperti yang bisa kalian baca sendiri.

Pada perjalanannya, saya tidak terlalu memikirkan banyak hal. Saya tidak menulis menggunakan outline dan nggak mikirin kata kunci sama sekali. Spontan saja mau menulis seperti apa.

Membuat kalimat demi kalimat pun nggak mikir panjang, udah, beranikan diri untuk menulis saja. Kemudian saya ikuti bagaimana pemikiran saya sampai di titik terakhir suatu postingan. Saya juga merasa kadang tulisan saya terlalu acak walaupun dalam satu tulisan. Tapi, yha sudah, begitulah isi kepala manusia yang nggak linear.

Ide Muncul dan Tenggelam Setiap Harinya

Sering nggak? Pada waktu tertentu kamu merasa kayak gini. “kayaknya ini oke untuk ditulis.” Tapi, karena tidak kunjung ada eksekusi. Akhirnya ide tadi menghilang begitu saja.

Akhirnya kamu nggak nulis sama sekali. Blasss… mengikuti males demi males.

Menulis setiap harinya memaksa saya untuk mau nggak mau untuk menulis di hari itu juga. Akhirnya ada aja bahas bacotan saya di blog.

sumber pixabay

Ternyata Ide itu Ada Saja

Teman saya pernah tanya bagaimana caranya menulis di blog.

Saya jawab. “Udah, tinggal tulis saja nggak usah banyak mikir kayak gimana.”

Praktek sendiri terus menerus dengan evaluasi dan evaluasi. Itulah yang terjadi pada saya saat ini. Makanya tidak ada label yang tepat selain saya hanyalah seorang amatiran dalam hal apapun, termasuk menulis, termasuk jadi narablog. Eh kalau pujangga sih saya nol besar ya.

Karena saya percaya ide itu ada saja, kadang saya mengawali tulisan dengan hanya menulis saja. Kemudian biarkan semuanya berlalu berlanjut dengan kalimat demi kalimat.

Menulis adalah Kutukan

Mengerikan memang.

Sejauh teman-teman di wp datang dan pergi begitu saja. Saya masih setia di sini. Entah kepada siapa kesetiaan ini dipersembahkan *halah.

Keinginan untuk menulis sempat sedikit menyurut, tapi nyatanya belum pernah pudar. Kalau disuruh berhenti menulis, kayaknya susah aja jadinya.

Susah.

Di saat sakit atau apapun yang terjadi pada diri saya. Saya belum pernah lupa kalau saya punya “panggung sepi dan kecil” bernama blog.

Saya pasti rindu sekali kalau nggak nulis. Pasti rindu sekali.

Kayaknya ada yang aneh aja kalau nggak nulis. Lebih mapus daripada dikoyak-koyak sepi. Bahkan saat sakit gigi saja. Saya masih mikir, waaahh ini kayaknya dibuat konten oke juga.

Jangan kaget ya, nanti saya bikin tulisan caranya menjaga kebersihan ketek. Btw, kira-kira WHO pernah ada himbauan cara mencegah kebersihan ketek nggak? Keknya belum ada kan ya. hoho…

Hari Gini Blog Masih Musim Gitu? Masih Cuan?

Nggak jarang saya dengar kalimat tanya begitu.

Sedih jadinya.

sumber pixabay

Kenapa ya? orang-orang itu selalu memandang uang sebagai hal utama. Kayak cita-cita aja, merujuk pada profesi. Kemudian profesi dipilih-pilih sebagai sumber pendapatan yang bikin hidup jadi ena-ena.

“Jadi ini saja gajinya besar.”

“Jadi ini saja nanti tunjangannya bakalan ada sampai kamu tua.”

Begitu terus.

Makanya saya enggan melabeli diri saya punya profesi anu-anu. Ditanya kerjaan, nanti saya jawab serabutan. Lah emang serabutan juga.

Saya nggak tahu sih blog itu ada musimnya apa nggak. Emangnya mangga? Ada musim jelasnya. Yang saya tahu sependek ini masih ada saja orang yang ngeblog. Khusunya di wp, buktinya “timeline” saya masih diwarnai dengan tulisan-tulisan baru para blog yang saya ikuti.

Tentang bisa cuan apa nggak? Yha cobain aja sendirilah. Nanti tahu jawabannya.

Katanya Menulis itu Kayak Otot, Harus dilatih

Makanya saya latihan selama 100 hari ini. Bisa apa nggak?

100 tulisan juga bukan cuma angka. Saya nggak mau juga nulis asal jadi yang penting hari itu ada di postingan baru. Meskipun saya ambil tema sekenanya. Mungkinkah karena zodiak saya Leo dengan weton pon? Saya kurang paham juga.

Cara main saya bukan begitu. Saya nggak mau diingat menjadi bloger yang menulisnya setengah hati. Kalau ada saya misuh-misuh kayak di tulisan yang ini, misuhnya dari hati yang paling dalam. *halah. Misuh saya pun tidak boleh ada unsur kebencian di dalamnya.

Sejauh ini…

Saya melewati hari demi hari yang ekspektasinya nggak macam-macam soal pengunjung. Karena segala jenis kecemasan dan kesedihan sering kali berasal ketika kita banyak mengharapkan sesuatu.

Saya juga pernah dapat nasehat kayak gini;

Mencari ilmu jangan hanya seperti mencari daging buah. Kalau hanya mencari daging buah, kita akan dapat sedikit sekali manfaatnya, dan itu biasanya cuma untuk diri sendiri, bukan orang lain. Tapi, kalau kita mencari bijinya, lalu menanam kembali, ilmu itu sangat akan berguna di masa depan, bahkan setelah kita mati.

Noh kan…

Jadi, saya juga bisa aja sih bilang, saya menulis dalam rangka saya belajar. Disamping alasan-alasan lain. Yha, manusia memang selalu punya seribu alasan.

Balajar nyari biji… kemudian ditanam kembali.

Biji…

Oh biji..

*penutupnya kok gini banget.

Namanya aja belajar kan yaa. Saya mau ngutip tulisan Guenawan Mohamad pernah saya tulis di sini.

Ya sudah…

Segitu saja tulisan hari ini. Selamat malam duhai kekasih…

Baique. Saya mau dangdutan dulu.

 

 

19 komentar pada “Memaksakan Diri untuk Menulis

  • 20/03/2020 pada 10:19 PM
    Permalink

    Entah masih musim atau enggak, yang jelas sekarang saya malah lagi belajar konsisten di WP.
    Wordpress itu tempat paling enak buat cerita, selain diary tentunya..
    Terus nulis di sini kak Momo, biarin aja orang datang dan pergi, silih berganti. Yang penting kita berusaha tetap setia.. eaaaa/apaan ci aku😅😅

    Balas
    • 21/03/2020 pada 5:18 AM
      Permalink

      setia itu berat.
      berat.
      dan manusia gampang goyah hatinya.
      🤨

      Balas
  • 20/03/2020 pada 10:46 PM
    Permalink

    Banyak orang sepemikiran dirimu. Menulis bebas setiap hari walau kata orang mengabaikan kualitas, tetap ada manfaatnya menurutku. Melatih kebiasaan dan jari jemari tidak kaku dibanding yg tidak pernah nulis. Tetapi belajar tetap harus diusahakan. Long life education. Kalau berkenan gabung komunitas Ikatan Kata ( ikatankata.home.blog.

    See u

    Balas
      • 20/03/2020 pada 11:06 PM
        Permalink

        Gak banyak. Hanya diminta photo profile dan mencantumkan logo IK di blog pribadi. Itu aja.

        Balas
      • 21/03/2020 pada 1:02 AM
        Permalink

        Hari gini masih nulis diblog, emangnya masih musim? masih!!!
        Sayapun bisa stress kalo ga buka WP, enaknya di WP bisa menumpahkan segala unek unek dan melatih otak saya terus berpikir.

        Balas
        • 21/03/2020 pada 5:21 AM
          Permalink

          nah itu. urusan managemen stres juga.

          Balas
    • 21/03/2020 pada 5:19 AM
      Permalink

      terima kasih kak ajakannya 😊😊😊

      Balas
  • 20/03/2020 pada 11:45 PM
    Permalink

    saya juga kalo nulis suka loncat-loncat, tidak sistematis dan tidak linear emang ini isi kepala.
    tulisan yang saya konsep dan rencanakan kebanyakan mangkrak di daftar draft, mau diselesaikan udah gak relevan, sebagiannya malah lupa dulu itu mau nulis apa sih? Tulisan gini amat. hahahahaa. yang impulsif seringnya malah yang selesai sampai dipost.

    Balas
    • 21/03/2020 pada 5:21 AM
      Permalink

      impulsif itu saya banget. hahahaha

      Balas
  • 21/03/2020 pada 4:51 AM
    Permalink

    Awal ngeblog, saya selalu nemu topik pas blogwalking. Jadi, ceritanya terinspirasi dari kawan-kawan narablog. Dan ternyata nggak cuma saya sendiri yang begitu. Narablog lain juga. Makanya, biasanya kalau ada berita seru, semuanya nulis tentang itu dan jagad blogosphere Indonesia penuh dengan topik yang sama hahaha…

    Tetap semangat ngeblog ya! Masih banyak kok yang ngeblog. Tenang aja. 🙂

    Balas
    • 21/03/2020 pada 11:54 AM
      Permalink

      aaahh yaaa kak. saya tenang kok. heheh. btw, salam kenal ya.
      yep bener banget, jalan-jalan ke blog lain juga bisa kasih inspirasi

      Balas
  • 21/03/2020 pada 8:29 AM
    Permalink

    ideku suka lari-lari, ga segera dieksekusi terus ilang. semenjak seminggu lalu draftku sudah 6 coba mbak. ga ada yg selesai.. hahaha. lama ga nulis bikin ototnya lemes hahaha

    Balas
    • 21/03/2020 pada 11:30 AM
      Permalink

      tuh kan tuh kan.
      coba satu aja nulisnya 😭😭😭

      Balas
  • 21/03/2020 pada 9:05 AM
    Permalink

    Kak Momooo, apa kabaaar? 😭
    Huhuhu, akhirnya bisa baca tulisan kak Momo lagi~ ❤
    Saya kalau nulis blog sih selalu pakai struktur ya, biar alur ceritanya lebih enak dibaca (kebiasaan dari jaman SD pas lomba mengarang)~ 🤣
    Tapi akhir-akhir ini sulit euy nemu waktu senggang untuk nulis di blog, soalnya lagi fokus beresin tesis-yang-kayaknya-kok-gak-selesai-selesai… 😭

    Balas
    • 21/03/2020 pada 11:22 AM
      Permalink

      yaaa ampunnn jangan nangis Gung😭
      yaaampoon udah tesis aja, perasaan belum lama cerita mau lanjoot sekolah apa gimana 😂 pinter baaat kamu Gung 🤣🤣🤣

      ditunggu cerita wisuda laginyaaa Gungg 😌

      Balas

Tinggalkan Balasan