Membaca Daur 1-4 (Emha Ainun Najib) Memang Tidak Mudah

Membaca Daur 1-4 (Emha Ainun Najib) Memang Tidak Mudah – Judulnya kok curhat sekali. Yha memang begitu adanya. Saya mau berbagi pengalaman membaca itu sulit. Sampe kadang blasss nggak paham maksudnya apa.

Perihal Membaca Daur

Daur adalah tulisan Mbah Nun yang awalnya dipublikasikan di caknun(dot)com tahun 2016, jumlahnya 309 tulisan. Ditulis setiap hari, kemudian dibukukan menjadi empat bagian buku oleh Penerbit Bentang tahun 2017. Jadi, kalau kamu mau baca gratis, tinggal ubek-ubek saja di caknun.com. Daur pertama tayang pada 3 februari 2016 sampai 7 desember 2016.

Nama buku-bukunya, daur 1 anak asuh bernama Indonesia, daur 2 Iblis tidak butuh pengikut, daur 3 mencari buah simalakama dan daur 4 kapal nuh abad 21 . Membacanya terserah yang mana. Suka-suka yang membaca saja. kemudian pada perjalanan hingga kini, ada Daur 5, judulnya Markesot Belajar Ngaji.

Daur, menurut Mbah Nun sendiri nggak ada sama sekali diniatkan untuk masuk penerbitan. Daur dibuatkan untuk anak cucu dan JM sebagai pelok (biji mangga) yang sekiranya nanti bisa ditanam dan dituai entah kapan di kemudian hari.

Merasa terpanggil karena Mbah Nun secara khusus membuat tulisan untuk anak-cucu dan JM. Akhirnya saya beli di playbook soale ono potongan harga, jadi, tak satupun dari semua buku daur saya miliki dalam bentuk fisik buku, semuanya ebook. Rentang membacanya sendiri dari tahun 2016 (dari caknun.com) sampai sekarang, belum pernah rampung. Mungkin juga tidak akan pernah rampung. Wkwkw….

Jika rampung diartikan sebagai selesai membaca. Daur bukan tipikal buku yang sudah dibaca kemudian sudah selesai di situ.

Susah Banget Membaca Esay Mbah Nun?

Saya pernah ditanyai tentang rekomendasi buku yang tulisan Mbah Nun, katanya jangan yang susah. Sepanjang saya membaca buku seperti Markesot Bertutur, Markesot Bertutur Lagi, Sedang Tuhan pun Cemburu, Kiai Hologram, Slilit Sang Kiai, Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, Surat Kepada Kanjeng Nabi, Arus Bawah, Pemimpin yang tuhan, Gelandangan di Kampung Sendiri dan entahlah lupa maning, buku yang judulnya Hidup itu harus Pintar Ngegas Ngerem adalah yang paling “renyah”, mungkin karena kumpulan nasihat Mbah Nun di Maiyahan kali ya?

Untuk tulisan Mbah Nun yang cukup baru seperti Kiai Hologram dan Pemimpin yang tuhan, itu ada “rasa mangganya”. Kalau kumpulan tulisan lama tahun 80an dan 90an adalah contoh nyata betapa konten bisa evergreen. Betapa Mbah Nun adalah guru menulis esay secara mendalam.

Hal yang sering terjadi pada saya ketika membaca tulisan Mbah Nun adalah acap kali dituntun untuk mbaleni bacaan yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Misal, saya membaca salah satu bagian dalam daur, tiba-tiba semacam ada lampu di atas kepala kayak di kartun-kartun sambil mikir “Lho ini kayaknya ada kaitan sama buku Kiai Hologram.”

Dibuka lagi dong bukunya. Kemudian saya menemukan pengalaman baru lagi. Jadi nggak pernah rampung.

Ubeng-ubengan. Hahahah…

Kalau kebanyakan buku menuntun dari A sampai Z. Atau Z ke A.  Mbah Nun ini lain, beliau menulis F kemudian tiba-tiba Z, balik lagi ke A, kemudian sejenak berhenti di D.

Tapi, pada momen yang lain, tulisan yang tadinya A, tiba-tiba terasa seperti H, tapi A ini sama sekali nggak “berantem” sama H. Kemunculan H juga tidak meniadakan A itu sendiri. *ahhh gimana sih jelasinnya. Hiks. Mumet dewe aku.

Kadang saya menasehati diri saya sendiri ketika membaca tulisan Mbah Nun, “Gimana sih, pernah sekolah di mana dimensi nggak sampe dimensi 3 tok, bahkan dimensi ke “n”. Masa mau nyerah?”.

Kadang pula saya merasa beruntung, karena Mbah Nun mau menulis lagi. Daur hadir sesuai perkembangan zamannya. Agak mumet sih baca esay tahun 80an atau 90an awal, yha walaupun daur bukan buku yang “mudah”.

Daur barangkali adalah buku yang harus dikunyah, eh tapi…

Ada buku yang datang untuk ditelan semuanya sampai habis. Ada buku yang datang hanya untuk dicicipi, kemudian yang ada buku yang datang untuk dikunyah. Daur mungkin masuk kategori ke 3.

Tapi juga masuk kategori keempat *punten saya ngarang sendiri. Jika dikunyah maka secara teknik, kandungan nutrisi akan merasuk pada si pengunyah. Maka daur hadir menyadarkan bahwa kandungan nutrisi tidak boleh selesai pada pengunyah itu sendiri.

Mengingat pada bagian tulisan “pelok itu jangan dimakan, tapi harus engkau taman. Pelok itu hakikat persoalan dalam kehidupan. Lika-liku kenyataan. Lapisan-lapisan nilai.  Jarak sangat jauh antara yang engkau ketahui dan realitas yang sebenarnya….”

Sedikit Tentang Sosok Mbah Nun

*uhuk.

Mbah Nun adalah sosok yang saya kagumi, dipikir, saya kok lebih mudah kagum sama Mbah-Mbah ya. Mungkin karena dulu, dari semua anggota keluarga, hanya Kakek saya yang mengajari saya membaca. Jadi, urusan belajar, saya suka aja sama Mbah-Mbah. Hehe.

Bagaimana saya tidak kagum, Mbah Nun adalah anomali dari orang pada umumnya, ia menempuh jalan sunyinya, menempuh “puasanya”. Seseorang yang mewakafkan hidupnya untuk menemani orang kecil. Mbah Nun bahkan sudah “cerai” dengan media besar sejak 22 mei 1998. Mbah Nun menolak jabatan, menjauhi profesionalitas, tapi makin sibuk seiring beliau menua.

“Perkenalan” saya pada Mbah Nun melalui media TV. Tahun 90an, saya yang masih kecil melihat Mbah Nun di TV. Saya baca dengan jelas namanya, Emha Ainun Najib. Entah siapa. Saat itu saya tidak begitu peduli.

Kemudian saya tersasar membaca website yang isinya rangkuman kegiatan Maiyah *lupa kapan, membaca tulisan orang lain yang membicarakannya, membaca esay Mbah Nun sendiri, baca bukunya dari puisi dan cerpen juga, tak ketinggalan nonton video Mbah Nun di youtube.

Hingga detik ini, saya belum pernah melihat Mbah Nun secara langsung. Pun diam-diam saya berdoa,  suatu hari nanti, semoga bisa lihat, sebentar saja, dari jauh nggak apa-apa. Nggak usah poto-potoan. Nggak usah minta ttd juga. Nggak usah salim juga. Hanya memandangnya, menggunakan dan memercayakan pada indra yang saya miliki untuk merasakan hadirnya.

Tiap kali membaca tulisan Mbah Nun, saya membayangkan ia bicara. Dibeberapa detik, saya merasakan kerindukan yang sulit dijelaskan.

Namun, segala kekaguman harus diteruskan kepada Sang Maha. Karena tidak ada apa-apa selain Dia.

Rasanya membaca daur

Kalau sudah biasa dengan tulisan Emha. Daur 1-4 masih ada bagian kemunculan Markesot, Kiai Sidrun dll. Pokoknya nggak akan jauh beda gaya dan iramanya dengan tulisan-tulisan Emha sebelumnya.

Editor buku daur, pernah mengakui bahwa tulisan Emha nyaris sempurna dan dia sangat enggan mengatakan dirinya editor.

Membaca daur, bagi saya adalah memasuki labirin tak berkesudahan. Membaca daur juga melatih kesabaran. Karena saya punya wadah dengan volume tertentu untuk bisa paham. Bahkan untuk bilang paham saja kayaknya nggak berani. Lah wong yang “katanya menulis” tidak mengaku itu tulisan dia kok (ada di daur 13).

Penutup

*aslinya tulisan ditinggal main game.

Kemudian barulah kepikiran bikin penutup.

Kalau pada dasarnya aktivitas manusia adalah mencari dan ketemunya adalah “semoga”. Maka banyak sekali tulisan Mbah Nun yang secara tidak langsung menuntun mikir bareng. Bukan ena-ena ambil apa yang ada. Saya belajar l agi tentang sawang sinawang hal remeh.

Bahkan di umur saya yang sudah tidak ada lagi orang yang bertanya tentang cita-cita. Saya pertanyakan kembali pada diri saya mengenai apa cita-citamu? Sebuah pertanyaan yang biasanya saya sendiri tanyakan kepada anak-anak yang saya temui.

Saya banyak terdiam pada tulisan daur 56 – Tak ada cita-cita yang tercapai.

Markesot mencoba membangkitkan hatinya dengan memunculkan kembali keyakinannya sejak lama bahwa dalam kehidupan di dunia yang sejenak ini belum pernah ada cita-cita yang tercapai.

Belum pernah ada, bahkan tidak pernah ada.

Tidak juga pada para rasul dan nabi. Bahkan, tidak terjadi pada makhluk yang paling dicintai oleh Tuhan semesta alam.

Nanti dulu.

Kalau sekadar cita-cita menjadi presiden, pengusaha sukses, tokoh berprestasi, orang kaya, dan yang macam-macam itu, sangat mudah mencapainya. Apalagi zaman sekarang ini, siapa saja dianggap pantas menjadi apa saja. Pada zaman ketika ukuran yang berlaku adalah kepentingan pihak yang berkuasa atas modal dan perangkat-perangkat sejarah.

Akan tetapi, yang begitu-begitu namanya bukan cita-cita, melainkan ambisi. Jelasnya, ambisi pribadi. Kita punya sepiring hari ini dan jutaan piring nasi untuk makan sampai ke masa depan, sementara orang lain hari ini belum pasti akan bisa makan sepiring nasi. Itu bukanlah pencapaian cita-cita.

Sekali lagi, daur bukan bacaan siap saji. Membaca daur pada akhirnya adalah pengalaman “slulup” pada renungan atas apa yang terjadi pada kehidupan, bisa soal perungan pribadi atau memandang situasi sosial.

Begitulah. Betapa saya bersyukur bisa sedikit membaca tulisan-tulisan daur.

Maka tugas berikutnya barang kali akan berat. Karena “pelok” haruslah ditanam.

Bonus Kutipan;

Bukankah engkau sedang disandera di tengah kegelapan hutan belantara dan diguyur oleh oleh hujan sangat deras yang engkau kewalahan untuk tahu? Apalagi paham? apalagi mengerti? Apalagi bisa atau mampu mengantisipasinya? Apalagi ikhlas untuk sepanjang hidup memperjuangkannya?

Jika anak-cucuku dan para jm dikepung oleh kegelapan, engkau harus berlatih membangkitkan cahaya dari dirimu sendiri. Jika tertindih oleh kepalsuan, engkau tidak bisa berhenti mendekatkan diri agar disahabati oleh Yang Sejati. Jika terbuntu langkah dan tak berdaya, engkau tidak pernah memisahkan diri dari Yang Maha Pembuka dan Maha Berdaya. (daur 41).

3 komentar pada “Membaca Daur 1-4 (Emha Ainun Najib) Memang Tidak Mudah

  • 22/09/2019 pada 2:44 PM
    Permalink

    Halo mbak momotaroooo
    ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/ヽ(´▽`)/

    Saya juga sukak sekali sama tulisan2nya Cak Nun. Ngalir, dalem tanpa muter2 bikin pusing, singkat-padat dan kadang lucu2 nyindir, bikin ngetawain diri sendiri. 😍 Beberapa bagian penjelasan Cak Nun menggambarkan unek2 saya yang sulit dituangin dlm tulisan. Beruntung banget diulas Cak Nun.

    Saya belum pernah baca Daur sih. Pernah megang2 aja kalo nemu di toko buku. 😅 Nice review

    Balas
    • 22/09/2019 pada 6:01 PM
      Permalink

      baca aja di web… kalo mau baca dan nggak beli. hehehhe

      Balas

Tinggalkan Balasan