Cerita Momo Sebuah Obrolan Membenci Itu Terlalu Mudah

Membenci Itu Terlalu Mudah

Kegiatan paling melelahkan adalah merawat kebencian. Prie GS.

Kalau membenci itu terlalu mudah?

Kata siapa?

Saya.

Siapa itu yang mudah membenci?

Saya.

Ya. Bagi saya membenci itu terlalu mudah. Saya mulai menyadarinya. Dulu-dulu tidak begitu saya pikirkan. Sebagai alasan membenci, kepala saya tidak usah memikirkan persoalan-persoalan yang besar. Tidak perlu yang bersangkutan bersalah pada satu RT, atau semua orang di Indonesia.

Cukup dengan kalau selesai makan tidak membawa piring dan lainnya ke tempat cucian sudah bikin saya benci. Cukup dengan mengambil baju di lemari yang menyebabkan baju yang sudah rapi berantakkan kembali. Cukup dengan melihat suami keluarga saya sama sekali tidak membantu pekerjaan domestik istrinya, padahal si istri cukup kerepotan dengan hal itu.

Cukup dengan keadaan perselingkuhan yang saya saksikan di lingkungan dekat, kemudian orang itu memilih pura-pura tidak tahu dan melanjutkan kehidupan. Cukup dengan melihat orang sehat yang segar bugar tapi malah menggantungkan dirinya pada orang lain.

Cukup Remeh.

Ya, cukup remeh. Tidak usah jauh-jauh benci sama Menteri Pendidikan siapapun itu yang tidak pernah bisa membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Yang dekat-dekat sudah membuat saya benci.

Selain Membenci, Saya Bisa Dendaman

Kalau saya sudah pada puncak marah, saya sangat punya dorongan kuat untuk melukai.

Ketika saya dilukai, saya acapkali berdoa agar yang bersangkutan mendapatkan “luka” yang saya alami dengan sama impasnya. Saya ingin karma bekerja padanya.

Karena perasaaan benci juga kadang saya tidak mau untuk sekadar menengok, menoleh, atau apapun itu. Kalau bisa, di alam dunia, atau di alam lainnya, jangan sampai ketemu sama orang itu. Jangan sampai.

Kalaupun mulut saya berkata memaafkan, tapi kepala saya sama sekali tidak bisa lupa. Ketika ada orang itu muncul, yang pertama-tama saya ingat adalah “bagaimana caranya memperlalukan saya dengan buruk di masa lalu.”

Sekarang dendam yang paling membara adalah dendam dengan kemiskinan. *hah.

Saya Juga Tahu Kegiatan Membenci Ini Melelahkan

Saya benci kakak saya sendiri. Benci sekali.

Saya bahkan ogah sekali menatapkan mata saya padanya.

Sampai pada suatu momen, saya lewat tanpa fokus padanya. Posisi kakak saya dekat dengan adik saya. Saya lewat begitu saja. Padahal, kalau saya menoleh sedikit saja, sebantar saja. Itu adalah pandangan sadar kepada adik saya.

Tidak lama, mungkin tidak sampai lima belas menit sejak saya lewat. Adik saya dikabarkan telah tiada. Ia berpulang. Peristiwa kepulangannya sangat privat dengan malaikat, tidak ada yang benar-benar tahu. Bahkan kakak saya yang tidak ada berjarak satu meter darinya.

Untuk urusan lain, kepada orang-orang yang tidak membuat saya nyaman, saya meminimalisir kontak dengan mereka. Ketika sudah benci sekali, ketika ada yang mengirim pesan. Pesan itu sama sekali tidak saya baca. Saya hanya menekan pesan itu dari tampilan luar kemudian memilih opsi “hapus”.

Saya tidak mau tahu apa yang orang itu katakan. Sama sekali tidak mau tahu.

Sebegitunya. Saya membenci.

Padahal Saya Juga Tidak Suka Kalau Ada Orang Marah-Marah

Tapi saya marah. Saya juga marah. Saya kerap kali tidak bisa menahan amarah.

Kemudian, belakangan saya cukup tahu kenapa saya marah.

Marah pada dasarnya adalah jenis komunikasi. Adler pernah bilang, pada dasarnya manusia mengejar yang namanya superioritas.

Beberapa kasus marahnya saya, tidak lebih dari wujud komunikasi dimana tujuan saya adalah “menaklukan” orang yang bersangkutan. Perasaan benci yang bercokol memunculkan alasan-alasan sebagai bensin untuk menghadirkan perasaan marah.

Amarah yang impulsif, bisa jadi hanyalah sebuah cara meraih tujuan, menjadi superior seperti yang dikatakan oleh Adler.

Katanya, jangan marah. Jangan marah. Jangan marah.

Dan seperti selalu, kata jangan adalah kata yang cukup memikat.

Tapi saya belajar kembali ketika saya akan marah. Kalau marah adalah alat komunikasi, maka ada alternatif alat komunikasi lainnya. Saya mengejek diri sendiri, “masa kayak gitu aja kamu nggak bisa mikir opsi lain selain marah. Kepalanya masih bisa dipakai, ora? ”

Manusia Bisa Membenci Bahkan Tanpa Ada Alasan yang Jelas

Kalau ada istilah sebab dan akibat. Cukup mudah membuat kalimat, saya membenci kamu, karena….”

Tapi, makin ke sini, makin banyak peristiwa membenci tanpa sebab yang jelas.

Misalnya, lihat fotonya saja sudah benci. Lihat cara jalannya saja sudah benci. Mendengar cara tertawa yang terbahak-bahak saja sudah benci. Itu lihat kepala orang dari belakang aja sudah benci.

Bisa begini.

Ada orang yang saya kenal baik, dengar ayam berkokok aja sudah marah-marah, “Iku ayam!!!!!!!”

Ya iya sih bener. Sejak kapan bebek berkokok kan ya?

Coba lihat saja di internet. Bagaimana orang-orang mudah membeci manusia lainnya. Makanya saya harus pakai kontrol terhadap penggunaan sosmed yang bener, mengingat saya ini sering mudah membenci.

Belajar Opsi Lain Selain Marah Sampai Membenci

Karena saya tahu betul bahwa membenci itu bikin saya menderita. Saya tanyakan kembali ke diri sendiri, “berapa lama kamu mau menderita terus?”

Tanggungan dari keputusan untuk membenci ada kalanya terlalu berat. Padahal sudah banyak tanggungan-tanggungan lain dalam hidup, seperti mencukupi kebutuhan ini itu, membayar ini dan itu.

Membenci itu seperti menyerang diri sendiri, saya kelelahan baik fisik dan batin.

Kayaknya masuk akal tentang “terapi cara pandang” yang dikatakan Prie GS dalam buku dan lambenya.

Kalau contohnya Prie GS yang saya ingat. Misalkan ada orang yang ia benci kemudian datang mendadak, maka dianggap sebagai rezeki dadakan. Kalau obrolannya malah nggak jelas, maka dianggap sebagai jelmaan malaikat yang menguji kesabaran.

Pada buronan, Prie GS tidak benci pada sistem lapas. Tapi berterima kasih sama buronan, karena Prie GS jadi tahu kalau menembus tembok penjara begitu mudah. Pada koruptor, Prie GS menganggapnya teman, bukan karena kebagian, tapi karena berkat para koruptorlah, ia memahami bagaimana berat derita negera ini.

Asu banget emang.

Terapi cara pandang ini susah banget pada prakteknya. Bagaimana menerapi diri sendiri melihat bijingin menjadi sosok malaikat yang menguji kesabaran.

Dalam dada saya yang misuh-misuh ini tentang malaikat penguji kesabaran, saya kadang mengkompensasi perasaan itu dengan “yaah masih mending, jelmaan malaikat penguji kesabaran, daripada malaikat Izrail muncul mendadak dengan wujud aslinya, kaan?.”

Akhirnya. Lagi-lagi ngomongin membeci, ngomongin kemarahan. Orang pertama yang harus kita maafkan adalah diri kita sendiri.

Soal Maaf. Saya jadi ingat perdebatan dua teman saya tentang Gisel dengan video yang hanya beberapa detik itu.

Yang satu bilang Gisel wajar minta maaf karena seorang publik figur.

Yang satu bilang Gisel tidak harus minta maaf di depan masyarakat, karena wikwik itu adalah masalah pribadinya, bukan tentang masyarakat banyak.

Kalau saya? untuk Gisel yang minta maaf. Kesalahannya di mata saya adalah satu, bukan soal kenapa durasi videonya begitu pendek. (kurang tepat aja sih disandingkan dengan kata “kesalahan”).

Namun, Gisel membuat saya merasa seakan-akan lebih baik dari dirinya. Sebuah perasaan lebih bersih dari orang lain.

Lalu.

Jangan-jangan, masalah pada orang-orang yang membuat saya membenci atau marah pada dasarnya tidak jauh-jauh dari sebuah perasaan yang merasa lebih bersih dari orang lain.

 

1 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Comment