Menanyakan Kembali Perihal Ketulusan

Menanyakan Kembali Perihal Ketulusan

“Saya nggak ngerti kenapa kamu mau ngobrol sama saya. Saya nggak tahu apa motifnya.”

Saya terdiam sejenak mendengar kalimat itu dari mulutnya. Saya jawab, “Tidak ada alasan.”

Pertanyaan besar saya, apa susah ya menerima tidak ada alasan sebagai alasan? Menerima kosong sebagai isi?

Pada waktu yang berbeda seorang teman berdiskusi dengan saya katanya dia dapat tawaran foto produk dari temannya. Temannya menolak diberi bayaran atas jasanya. Saya bilang ke dia bahwa menerima seseorang berbuat baik juga merupakan perbuatan baik.

Saya pernah mendapatkan hal-hal baik bahkan pada orang yang nggak dikenal. Misalnya, saat ban motor bocor dan duit tambal bannya kurang, saya bisa bayar esok harinya. Di kereta saat susah ngambil tas, ada yang bantu ngambilin. Bahkan diantarkan ke suatu tempat karena nggak tahu alamat pastinya. Agak takut, tapi ternyata sedang dipertemukan dengan orang yang baik yang rela nganterin. Terharu akutu.

Kadang Gimana ya?

“Eh bisa ngisiin pulsa saya nggak? Saldomu di anu ‘kan biasanya ada aja.”

Okelah, saya isi pulsa teman saya. Nggak berapa lama tiba-tiba udah ditransfer aja buat balikin yang dipinjam. Harusnya sih nggak usah buru-buru juga tidak masalah. Tapi ya sudahlah ya. hahahha.

sumber gambar pixabay

Di Rumah Sakit

Waktu nungguin Ibu saya di meja operasi. Ada Emak-Emak ngasih saya makanan banyak banget nggak kira-kira. Katanya dia berterima kasih karena sudah diantar ke ruangan untuk menyelesaikan masalah administrasi.

Jadi ingat kalau nonton berita kriminal, katanya lebih baik tidak menerima makanan dan minuman dari orang asing. Tapi karena sama-sama lagi nungguin pasien yang belum keluar dari ruang operasi dan nggak enak nolak. Akhirnya saya makan aja.

Hahah. Senangnya dapat makanan gratis.

Edisi ditraktir

Ditraktir adalah salah satu wujud rezeki yang enak banget.

Misalnya lagi makan bareng-bareng teman. Kemudian pas bagian bayar. Dilarang membayar tagihan sendiri. Tagihan langsung dibebankan pada orang yang dengan senang hati mentraktir.

Yha. Sekali lagi. Membiarkan orang berbuat baik adalah berbuat baik juga. Saya langsung berbinar kalau ditraktir. Senang sekali.

*dasar.

Bisa nggak sih?

Apa mungkin pernah ditipu? Dimanfaatkan orang lain? kemudian menilai orang lain yang tidak punya alasan khusus membantu atau berbuat baik itu macam-macam ya? Dipikirnya orang itu ada motifnya terus. Punya agenda tersembunyi. Saya sih yakin masih banyak orang yang emang baik karena begitulah adanya.

Tidak ada alasan macam-macam.

sumber: pixabay

Saya pernah nonton drama korea My Mister (2018), di dalamnya ada Ahjussi Park yang baik sama bawahannya Ji An. Ahjussi Park bahkan dengan baiknya menawari makan bareng tim, menggendong neneknya Ji An karena habis lihat bulan di luar sedangkan posisi rumah kontrakan Ji An sangat mengenaskan karena banyak tangga. Sang nenek tidak bisa berjalan dan bicara.

Karena kebaikannya Park Dong Hoon, ia kena masalah di jajaran direksi perusahaan karena dinilai punya hubungan terlarang dengan Lee Ji An. Emang sih, ceritanya Park Dong Hoon lagi dicari kesalahannya agar nggak bisa naik jabatan.

Kenapa ya? konteks ketulusan aja bisa dibengkokan jadi macam-macam. Saya sedih aja bawaannya.

Kenapa seolah-olah hidup itu harus punya tujuan untuk sekadar berbuat sesuatu pada orang lain.

Katanya, manusia itu nggak usah diajari tentang budi pekerti sudah bisa otomatis dengan belajar dengan dirinya sendiri. Orang yang kita beri perhatian dengan baik, dengan ketulusan adalah diri kita sendiri. Kita sayang sama diri kita sendiri secara natural. Buktinya kalau lapar yaaa makan, kalau pengen eek, ke wc. Kemudian dengan tanpa jijik menceboki diri sendiri.

‘kan kalau diri sendiri sakit. Masih cari pertolongan buat sehat ‘kan? Seminimal beli paramex kalau sakit kepala.

Yang diuji…

Yang diuji kemudian adalah kesadaran bahwa dalam diri manusia bukan hanya ada aku/saya sendiri. Ada aku-aku yang lain. Disitulah letak ketulusan saya pikir. Memperlakukan orang dengan baik sebaik memperlakukan diri sendiri.

Kalau hal ini banyak berjalan di banyak kehidupan. Akan jadi apa ya?

Pasti nggak ada pemikiran kalau baik dikirain naksir.

*Eh.

Next Post

No more post

You May Also Like

4 Comments

  1. Terkait kebaikan. Aku punya rekan kerja yang baiknya membuat geleng kepala. Sangat2 baik. Termasuk loyalitas tingkat tinggi kepada atasan. Tapi itu,,, setiap hari ada saja kasakkusuk di belakang kalau dia baik untuk menjilat. Padahal, sejauh pengamatanku memang dia baik dan tulus kepada siapa saja, tak perduli itu siapa. Dan kalau dipikir, kalau mau menjilat juga utk apa,,, karena jenjang karir sudah limit dan tak sampai 5 tahun lagi pensiun.
    Tapi, entah kenapa …kasak kusuk itu selalu terdengar.

    1. Mungkin karena lingkungan sebelumnya juga mempengaruhi. Soal kebiasaan perilaku oknum orang di lingkungan itu. Kemudian bikin rata anggapan. Menduga ini dan itu.

      Agak susah zaman sekarang. Masuk kandang sapi nanti dikira sapi. Ribet.

      Tapi semoga ketulusan bukan jadi barang yang aneh yaaa.

      1. Betul, sepertinya lingkungan tersebut. Segala sesuatu kebaikan dipandang negatif.
        Pertama kali ke sana, aku juga sempat kaget dan sempat punya uneg2 tersendiri dalam hati. Tapi sekarang, aku sudah paham dan hanya menyimpan setiap perkara dalam hati🤭

Tinggalkan Balasan