Cerita Momo Sebuah Obrolan Mencoba Tidur di Kereta Api Ekonomi Adalah Hal Sia-Sia

Mencoba Tidur di Kereta Api Ekonomi Adalah Hal Sia-Sia

Yha, bukan cuma nagih utang ke orang yang nggak mau bayar. Ternyata ada lagi hal-hal sia-sia dalam hidup.

Saya suka naik kereta api. Beberapa alasannya adalah karena nggak akan ada drama macet. Terus seneng aja bawaannya kalau naik kereta. Kayak anak-anak yang bahagia naik odong-odong. Bedanya nggak ada Emak yang bawa mangkok makanan untuk nyuapin.

*heh.

Kalau lagi galau, saya sering iseng ke Bandung naik kereta. Karena perjalanannya jadi jauh, beda banget sama naik mobil. Begitulah orang galau, sukanya diem-diem lama, menikmati perjalanan yang embuh.

Ceritanya saya habis pulang dari Yogyakarta, ke sana bareng seorang teman buat jalan-jalan yang terlalu nanggung dan lupa jajan gelato. Agak mendadak juga acaranya, cuma pagi-pagi ditelepon. “Sembuh belum ira? ikut ke Yogya yo, sama kamu ajalah. Kirim NIK ya.”

Wokeeehh. Senang saya. Akhirnya tahun 2020 ini kembali piknik. Setelah kemarin sakit melulu.

Pergi dengan teman itu…

Banyak enaknya, ada nggak enaknya. Teman saya rupanya lebih seneng naik kereta api dengan perjalanan malam hari. Beda banget sama saya. Kecuali keadaan memang kepepet. Mending saat masih ada matahari, bisa lihat banyak hal. Nah kalau malam?

Dipesanlah dia dua tiket kereta api ekonomi tujuan Stasiun Tugu dari Kejaksan. Berangkat jam 22.00 dan sampai di Yogya lima jam kemudian. Naik Senja Utama YK.

Lima jam kali ini naik kereta ekonomi.

Waahhh Kereta Ekonomi ya? Nasib kaki saya gimana?

“Ini kata adekku yang duduknya berempat masa.” Ucap Si Teman.

“Apa? hadap-hadapan kayak main catur.”

Eeh ternyata pas naik, nggak cuy, dapat yang kursinya berdua.

Naik kereta api ekonomi itu sulit bagi orang kayak saya. Sulit kakinya mau dikemanain.

Saat teman saya kayaknya udah tidur dalam perjalanan. Saya malah mencoba memecahkan misteri bagaimana duduk dengan nyaman dan ternyata gagal.

Yha banyak sekali kegagalan dalam hidup saya.

Misal kaki lurus-lurus aja. Nggak bisa lama. Nggak santai. Udah kayak prajurit siap mau perang aja. Okelah, saya kesampingkan kaki kanannya, taro di jalanan. Akhirnya, tiap ada yang lewat, kaki saya suka ketendang.

“Eemmm kalian ini nggak lihat ada kaki melintang gitu?”

“yahh kamunya aja kenapa kakinya dijalanan. Emangnya pedagang kaki lima.”

Begitulah dialog aneh yang muncul di kepala saya. Kepala saya itu memang begitu, suka ada dialog macam-macam. Kadang saya jengkel dengan kepala saya sendiri. Mau dituker tambah nggak bisa. Jadi, terima aja.

Nyobain ngongkrong. Nggak bisa. Akhirnya kayak gini. Yang ada bikin sakit perut. Emmmm…

Jadi, sepanjang lima jam perjalanan. Saya cuma ketap ketip saja.

Beda banget sama teman sebelah.

Mau nonton Netflix, udah males. Jadilah saya nontonin apa yang kelihatan sama mata *Iyalah ngelihat sama mata. Ada tuh dua lelaki muda yang naik dari Stasiun Kutoarjo. Yang duduk pas di depan saya, matanya jelalatan terus ngelihat penumpang lain.

Nggak malu-malu gitu nengoknya.

Pemuda itu ngelihatin cewek yang duduk di seberang kursi saya. Ngelihatnya ini bukan asal ngelihat doang. Tapi yang mentap lama banget. Si cewek nampak molor. Capek banget kayaknya. Damai banget. Gemah Ripah Loh Jinawi.

Saya hanya berkata dalam hati ngelihat pemuda ini. “ASTAGA DRAGON, BOCAH.”

Akhirnya malam itu saya nggak tidur. Sampai di Stasiun Tugu jam 03.11.

Bukan pertama kalinya naik kereta api ekonomi tapi kalau kelamaan bikin pegel puolll!!!!!

Saya bukan anti kereta api ekonomi. Nggak masalah, asal perjalanan 2 sampai 3 jam okelah. Kalau udah lima jam, huhuhu.

Kakiku…

Mataku..

Boyokku…

Pernah juga dapat kursi yang hadap-hadapan.

Depanku cowok cakep gitu. Kayaknya sih lebih muda dari saya. Yha, pokoknya saya sudah berumur. Jadi, nggak berani ngaku lebih muda.

Sebelah dia nggak ada orang.

Sebelah saya nggak ada orang.

Kami sempat saling menatap dan kemudian saling buang muka.

Dia duduk kakinya ke samping sebelah saya.

Kaki saya lurus ke bawah tempat dia duduk.

Ingin rasanya bilang, “Hei itu minggir dikit ke samping bisa nggak sih.. mau nyobain kakinya nggak sopan gitu di atas kursi.”

Terus ngebayangin dianya minggir.

“Kelewatan itu…”

Dia bingung dibilang kelewatan.

“Kelewatan cakepnya.”

Huahahhhh, lupa saya itu perjalanan ke mana. Tapi itu sekitar pukul 12 malam hingga dini hari. Kenapa pula kepala saya auto mikir begitu.

Tapi cuma di kepala.

Pulangnya naik Taksaka eksekutif, tidur pulas sampai pas banget bangun 5 menit sebelum turun di Stasiun Kejaksan. Emang dasarnya capek. Hiks.

PAKE CELANA YANG SAMA HAHAHA
2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Comment

  1. Dulu aku malah 11 jam, dari Lawang ke jatibarang indramayu pakai kereta ekonomi juga, (maklum dibayarin perusahaan)
    dapat kursi yang berhadap2an, untungnya sih 4 kursi itu satu teman semua, jadi kaki bisa diangkat ke kursi depannya gitu dan kepala bisa disandarin ke teman lainnya.
    sialnya, meskipun model begitu duduknya, tetep aku tidak bisa tidur. susah rasanya tidur dikereta. apalagi tidak ada guling dan istri di sisi.

    1. ya ya yaaa… komen yang ciri khas sekali ujung-ujungnya. wkwkwkwk
      waahhh pernah ke Indramayu rupanya. belum pernah nih ke jawa timur naik kereta. pengen nyobain kalau ada kesempatan ☺😃😃