Mengintip Jiwa Manusia dalam Tulisan

Mengintip Jiwa Manusia dalam Tulisan

Kau, penghancur nirwana. Distorsi alam sadarku. Aku mulai menggila memikirkanmu, saat peluknya menghantar tidurmu setiap malam.

Dengarlah… Tinggalkan kekasihmu, tinggallah bersamaku, engkau inti napasku dari semesta hidupku – Nidji (Semesta Hidupku)

Saya sebenarnya suka baca fiksi. Tapi belakangan ini bacaan fiksi jadi antrian paling ujung dibanding bacaan yang lainnya. Bacaan saya sekarang nggak jauh dari esai dan kicauan orang-orang di twitter.

Ada yang seru saat membaca sebuah cerita fiksi. Diantaranya adalah kita bisa melihat jiwa-jiwa manusia dan membacanya seperti menelanjangi sebuah karakter. Kita bisa melihat karekter tumbuh, bahkan mati di dalam sebuah cerita.

Kalau ngomongin jiwa manusia, berarti ngomongin batin manusia, sesuatu yang ada di dalam. Monggo-monggo aja baca buku psikologi, kamu bisa dapat dapat detailnya. Di tulisan ini, saya cuma mau ngomongin hal dasar yang biasanya bisa diintip dari sebuah tulisan.

Lapisan demi lapisan yang ada dalam manusia.

Begini…

Kerinduan

Konon katanya, saat di dalam perut Ibu, kita ada dalam keadaan yang sangat nyaman dan bisa dapat apa yang kita butuhkan dengan amat mudah. Semuanya sudah tersedia di dalam perut Ibu kita. Kemudian, kita adalah bayi-bayi yang lahir dalam keadaan yang sangat rentan.

Kita adalah makhluk yang merindu pada detik pertama kita lahir. Bahasa yang gampangnya adalah kita rindu akan “kenyamanan” yang biasanya kita peroleh dengan mudah.

Bahasa yang lebih sulitnya. Kerinduan itu sulit didefiniskan secara gamblang, tapi hal itu jelas ada.

Saya bahkan bisa bilang bahwa manusia sejak lahir memang seperti “dicampakkan”. Karena manusia sudah mengalami ketidakutuhan lagi sejak ia menangis untuk pertama kalinya di dunia.

Kemudian. Sebagai makhluk yang merindu, kita mencari. Selalu ada dorongan-dorongan yang membuat kita bergerak.

Mari sebut saja hal itu adalah….

Hasrat

Begitu lahir dari rahim Ibu dan menjadi bagian dari pendukuk bumi, pekerjaan utamaku sebagai bayi adalah mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian yang panjang (Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Kiai Hologram 2018).

Kerinduan pada dasarnya selalu tidak bisa dirumuskan. Oleh karenanya kita melakukan banyak hal untuk meredakan rindu tadi. Kita sebagai manusia melakukan banyak hal untuk memenuhi keinginan-keinginan kita.

Hasrat pertama yang mendominasi pada bayi adalah hasrat hidup. kemudian makin besar, hasrat mengarah pada benda, manusia atau suatu keadaan yang jelas.

Hasrat ini tidak selalu murni dari hati manusia yang paling dalam *halah bahasamu Mo. Adakalanya hasrat hadir mendominasi karena lingkungan luar. Contoh gampangnya adalah kita menginginkan sessuatu karena iklan, bukan karena kebutuhan dasar yang memang kita perlukan.

Atau contoh yang paling pilunya adalah kamu berhasrat pada seseorang namun banyak hal membuatmu harus berhenti karena berbagai alasan-alasan dari yang logis hingga tidak logis.

Hasrat, ia mendorong manusia, ia adalah suatu tenaga yang membuat bergerak atau tidak bergerak sama sekali. Kemudian kita akan melihat manusia-manusia ini terbentuk, sesuatu yang memiliki wujud.

Mari sebut saja…

Topeng

Aaahh yaaa. Saya sudah sering banget ngomong di blog ini bahwa manusia memili topeng dalam dirinya. Topeng ini ada yang dekat sekali dengan dirinya yang autentik, namun ada topeng yang lapisannya terlalu tebal.

Topeng ini banyak dibahas sama Carl Gustav Jung. Sering juga dikenal sebagai persona. Doi bilang persona ini menyangkut peranan manusia itu sendiri. Contoh gampangnya sih, wajah kita saat bekerja mungkin akan berbeda dengan wajah kita saat menghadapi orangtua kita. Makanya topeng di sini tidak melulu soal palsu, topeng di sini sangat manusiawi. Ada peran-peran dalam diri kita yang memang terbagi-bagi, lompat dari peran satu ke peran yang lain.

Kita perlu topeng untuk hidup bukan? Manusiawi bukan?

Tapi ada kalanya topeng punya pengertian lain…

Persis. Kepalsuan.

Sebuah ketidakmampuan manusia untuk jujur pada dirinya sendiri.

Mengintip Jiwa Manusia dalam Tulisan

Intinya hasrat dan topeng tidak selalu disadari

Manusia ada yang tahu dan sadar bahwa ia memiliki hasrat akan sesuatu. Tapi banyak juga yang tidak sadar bahwa dia sudah tertutupi oleh hasrat satu ke hasrat yang lain hingga ia semakin berjarak dengan dirinya.

Tapi semuanya akan nampak pada alam bawah sadar, muncul pada kegelisahan-kegelisahan (kegelisahan di sini juga sebuah tema filsafat, eksistensialisme).

Nah… gimana? Puyeng? *saya yang nulis mulai puyeng ini. hahahah…

Okelah… masuk ke arena tulisan dalam cerita fiski.

Kita sebagai pembaca selalu dipandu oleh penulis untuk tahu “hasrat dan topeng” sebuah karekter. Lho kenapa tahu? Kan kita baca? Gimana sih? :p

Kita seperti mahluk asing yang “melihat” suatu kejadian. Ah dia palsu, ah dia bohong, ahhh dia bilang benci padahal mah kagak, lhaaa kerja ngurusin bisnis padahal dalam hatinya pengen jadi penyiar radio. Intinya, kita diperkenankan melihat lapisan-lapisan yang membentuk sebuah karakter.

Saat membaca kisah perselingkuhan dalam Supernova pertama. Saya tahu ada kegelisahan-kegelisahan pada karakter Putri dimunculkan penulisnya dalam percakapan berikut.

“Sesuatu yang lain? Nih, aku sudah bisa merangkum hidup Putri kita dengan mudah: lahir-TK-SD-SMP-SMA-Kuliah-kerja-nikah-punya anak-punya cucu-mati-dimakan cacing. Gejolak apa yang bisa kamu harapkan dari orang yang hidupnya tipikal seperti itu?”

“loncatan kuantum Dimas!” Reuben berseru gemas. “Tidakkah kamu lihat? Kita butuh tipikalitas itu. kita butuh kejenuhan. Karena dengan demikian kita bisa menunjukkan ada sekrup kecil yang longgar. Keresahan yang terabaikan.”

Penulisnya Dee menggambarkan Putri yang diam-diam gelisah dengan segala kesempurnaan yang dia miliki, karier, uang, keluarga dan suami yang baik justru akhirnya membuatnya tak sadar akan apa yang sebenarnya yang dia inginkan.

Paradoksial sekali.

Dalam sebuah cerita fiksi, ketika kegelisahan muncul, maka di situlah ketegangan berada.

Aaaahhh yaaaaa… apa sih yang sebenarnya di cari sama manusia ini?

Kesejatian

Ada sesuatu yang kosong dalam diri manusia yang menyebabkannya merindu. Manusia selalu rindu menjadi utuh. Kerinduan ini amat sangat transenden (tak terjangkau, tak terbatas, spiritual) *tema filsafat lagi?. Tapi kemampuan berkomunikasi dengan yang transenden ini sangat sulit bila manusia masih diliputi hasrat dan topeng tadi.

Tapi juga, tahapan hasrat dan topeng tidak bisa dilewati. Itu justru menjadi sebuah jalan.

Bukannya begitu? tahapan yang harus dilewati manusia? Entah itu dalam sebuah fiksi atau cerita yang sedang kita jalani?

Makin berumur, kita akan selalu bertanya apa sebenarnya yang sejati. Apa yang hakiki. Apa yang sebenarnya.

Sepertinya memang begitu kan ya? buktinya buku yang kayak Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl, masih laku sampai sekarang.

Orang-orang akan selalu mencari makna.

Kenapa dan ada apa saya menulis begini?

Sebenarnya saya merasa terganggu saat ada yang bilang pada saya bahwa membaca fiksi itu tidak penting dan banyak buku yang lebih bagus, yang bukan sekadar “hiburan”.

Membaca fiksi bagi saya tidak pernah selesai pada kalimat “membaca imaginasi penulisnya dan hiburan belaka”. Membaca fiksi bagi saya juga sama halnya membaca kehidupan. Ada lapisan-lapisan yang membangun sebuah cerita dan karakternya.

Saya sih yakin aja yang nulis pasti menjalani proses yang panjang. Lhooo… dia harus tahu tahapan dari kerinduan, hasrat, topeng, sampai apa sih yang sebenarnya “dicari”. Penulis itu rentan sama “mumet” kan?

Kalau saya kan enak sebagai pembaca, bisa ngintip lapisan-lapisan dalam karakter tadi. Coba aja di dunia nyata gitu ya? membaca manusia seperti membaca sebuah buku, dengan jelasnya kita membaca hasrat dan topengnya.

*eh mau membaca siapa emang?

 

2 thoughts on “Mengintip Jiwa Manusia dalam Tulisan

  1. buatku, Fiksi tetap genre kesukaan mbak Mo. Dan benar sekali kl fiksi itu jg refleksi khidupan, bukan cuma rekaan belaka. Kl kata Nurgiyantoro sih, bnyak psan moral dlm sbuah fiksi. *jd inget skripsi kmrin yg ngomongin soal novel fiksi. 😁

Tinggalkan Balasan