Menulis Blog Post dengan Teknik Bercerita Tanpa Membosankan

menulis dengan teknik bercerita

Menulis blog post dengan teknik bercerita memang nggak ada matinya. Selamanya akan ada. Tapi sayangnya rentan membosankan kalau penulisnya nggak pinter-pinter banget membuat tulisannya enak dibaca sampai akhir.

Berbeda dengan menulis dengan teknik bercerita, menulis dengan model listicle memang lebih digemari karena lebih punya poin yang jelas. Kemungkinan untuk kehilangan fokus juga sangat kecil. Nah ini nih kelemahan menulis dengan teknik bercerita. Penulis punya kemungkinan melebar kemana-mana. Apalagi kalau menulis bebas tanpa outline.

Bahaya?

Bahaya dong. Pembaca jadi nggak dapet sesuatu dari apa yang kita tulis. Pesan dalam tulisan akhirnya nggak sampai. Berasa melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Terus gimana sih buat blog post dengan teknik bercerita tanpa membosankan? Yang pesannya sampai ke pembaca? tapi juga tetap bisa fokus?

Bercerita secara verbal

Sebelum fokus ke fokus topik. Saya mau ngebahas ini dulu. Yap, bercerita secara verbal.

Kebayang?

Pernah nggak kamu kenal seseorang yang jago banget bercerita secara langsung? Kalau dia ngomong itu kebanyakan orang yang ada jadi fokus ke dia. Seorang pencerita yang memang sudah punya bakat alami.

Zaman saya sekolah dulu, ada seorang teman yang sekali cerita itu bisa ngumpulin teman-teman lain untuk gabung sebagai pendengar. Kelihaiannya bermain kata dan susunan cerita yang dia buat mampu membuat kita-kita para pendengar nggak bisa kelain hati. Sampe nggak sadar waktu istirahat sudah habis dan akhirnya kita nggak jajan.

Ternyata bukan energen yang bisa menunda lapar ya? kata-kata juga bisa menunda lapar.

Kalau saya? Apakah punya kelihaian dalam bertutur secara verbal?

Nggak…

Biasanya ketika saya ngomong “Saya mau cerita nih, ceritanya sedih banget.” Kemudian teman-teman bgst saya ini malah ketawa sebelum saya benar-benar bercerita.

Katanya cerita sedih itu nggak cocok sama saya. Mereka bahkan pernah bilang bahwa saya nggak bisa nangis. Hahaha… *jahatnya mereka. Padahal kan kalau eek keras itu kan bikin nangis ya? hiks. Saya masih manusia yang bisa nangis kok : (

Jadi, dari pengalaman saya yang sering gagal sebelum bercerita. Saya mencoba banyak belajar dari bagaimana seorang pencerita secara verbal mampu membangun ceritanya dengan apik hingga akhir.

Kenapa sih dari pencerita verbal/lisan?

Sederhana. Saya pernah nulis di sini yang bilang bahwa saya suka tulisan yang ngajak ngomong pembacanya. Berasa bareng-bareng dalam satu ruang gitu deh.

Dan setelah mengamati, menimbang, memasak bahan, kemudian ditiriskan. Diperolehkah beberapa remah gorengan unsur yang seharusnya ada dalam tulisan blog post yang ditulis menggunakan teknik bercerita supaya tulisannya nggak ngebosenin.

Yang kayak gimana?

  1. Tulisan Punya Latar Belakang Permasalahan

Emangnya skripsi doang yang punya latar belakang masalah? Blog post juga dong.

Ceritakan kepada pembaca asal-usul kenapa sih kamu mengangkat tulisan tersebut menjadi sebuah tulisan. Nggak ada deh istilah ujung-ujug, semuanya punya sebab.

Kalau Raditya Dika sering bilangnya dari keresahan yang ada.

Jadi, beruntunglah kamu jika punya masalah. Artinya kamu punya bahan tulisan.

Kalau kamu suka nonton drama korea, pasti tahu betul bahwa episode-episode awal selalu mengisahkan masalah tokoh utamanya. Entah itu dicampakkan sang kekasih, tragedi pembunuhan, karakter utama yang divonis penyakit mematikan, seketika bangkrut atau ngenesnya susah bayar tagihan.

Di novel-novel juga begitu kan? Contohnya ini ;

Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu-kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru. (Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu).

Intinya sajikan masalah di awal.

  1. Lanjutan dari masalah adalah konflik

Drama… Kita butuh itu.

Kebayang nggak sebuah cerita dibangun dengan hal yang datar-datar aja. Bangun tidur-mandi-makan-kerja-pulang-lupa mandi-terus tidur lagi (((ini kayak ngomongin siapa gitu))). Apa serunya cerita yang begini?

Konflik selalu dibutuhkan dalam suatu cerita. Kita butuh pertarungan di dalamnya. Entah sebuah karakter lawan diri sendiri (biasanya konflik pergulatan batin), karakter lawan karakter, karakter lawan budaya, karakter lawan alam, dan karakter lewat nasib. Hiks…

Misal, kamu mau mengangkat tulisan tentang perempuan di usia menjelang 30 tahun. Apa konfliknya? Perempuan lawan penuaan? Perempuan lawan karirnya? Perempuan lawan pergulatannya menjadi ibu pekerja?

Bisa beda-beda kan?

Cuma penulisnya yang tahu jika dia sebagai karakter sedang melawan apa? Atau siapa?

  1. Sudut pandang tentang solusi

Ini yang saya ingat banget dari teman yang jago cerita itu. Dia kalau cerita nggak cuma berkeluh kesah sama masalah saja. Dia punya sudut pandang tentang solusi. Kalau belum, dia biasanya punya  rencana tindakan selanjutnya bagaimana dan akan diceritakan kembali beberapa waktu kemudian.

Kita tahu sedang dalam masalah yang menimbulkan sebuah konflik. Secara nggak sadar fokus otak kita akan menuju pada solusi. Kehidupan yang gelap butuh penerangankan?

Mungkin ini juga salah satu anugrah untuk para penulis, dengan menuliskan masalah secara tidak langsung kita sedang membuat konsep tentang solusi.

Kenapa harus ada solusi menurut sudut pandang penulis? Karena di sinilah kita bisa membagi “sesuatu” dengan pembaca. Di sini penulis bisa berasa bedanya dengan penulis yang lain, yang temanya serupa.

Ya kalik pembaca dikasih masalahnya doang? kan ceritanya jadi nggak utuh bukan?

menulis dengan teknik bercerita

Abis itu? ketiga unsur di atas harus…

Harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Satu dan yang lain saling mendukung.

Yha, cerita yang bisa menjaga pendengar atau pembaca tetap mengikuti hingga akhir adalah jika cerita tersebut utuh dan ada sesuatu yang bisa diambil.

Mengatasi Masalah Menulis dengan Teknik Bercerita yang Cenderung Membosankan

Teknik bercerita ya begitu, kebanyakan lurus-lurus aja. Lempeng-lempeng aja. Akibatnya pembaca bisa bosan duluan sebelum ceritanya sampai pada solusi. Terus gimana solusinya?

Begini…

  1. Pakai Subjudul

Pecah ceritamu menjadi beberapa bagian, tentunya satu sama lain harus nyambung dan saling mendukung. Salah satu fungsi dari subjudul adalah supaya tulisan kamu lebih terihat jelas “penekanannya”.

Pembaca juga nggak bingung ketika terdistraksi saat membaca. Nggak bingung kalau mau lanjutin baca lagi setelah kebelet pipis. Karena langsung ingat “sampai mana tadi?”.

  1. KasIh foto

Kebayang nggak? Nulis 2500 kata dengan teknik bercerita terus isinya kata-kata semua. Kalau di buku sih masih nggak masalah. Kalau pakai gawai? Bisa bikin mumet mata. Eh mata bisa mumet gitu ya?

Nggak ada salahnya kan kita menyisipkan foto di beberapa bagian? Apalagi fotonya menunjang cerita yang sedang dibuat. Pasti mempermudahkan pembaca memahami apa yang kamu tulis.

  1. Jujur

Saya percaya bahwa tulisan yang jujur akan mudah mengalir dan bisa sampai ke pembaca dengan baik. Menulislah dengan jujur. Mungkin kita banyak berpikir bahwa tulisan yang kita buat nggak ada keren-kerennya.

Jujur dulu aja. Nggak usah ribet.

Jujur sama masalah yang dihadapi dan konflik yang menyertainya. Dengan begitu, solusi menjadi punya sentuhan yang berbeda.

Efeknya?

Kadang ada aja kan kalimat-kalimat/sentuhan lain yang mucul belakangan, yang beda. Kalimat itu muncul begitu saja secara alami setelah pergulatan dengan masalah yang ada.

Contohnya kalimat akhir saya di tulisan di post yang ini. (sila baca buat yang belum) *ah yha ini mah promosi, jelas sekali promosi… :p

Gimana saya buatnya? Nggak tahu. Itu muncul begitu saja.

menulis dengan teknik bercerita

Kesimpulan cuy kesimpulan

Membuat tulisan dengan teknik bercerita memang susah-susah gampang. Tapi, selagi ada 3 unsur di atas cerita yang disuguhkan akan lebih matang. Bukan cuma kalimat-kalimat nggak datang dan pergi begitu saja. Bisa lebih punya manfaat bagi yang nulis dan pembaca juga.

Tentang tulisan yang nggak membosankan, barang kali poin pada blog post yang ini juga ikut berpengaruh.

Jadi, mari berceritaaaaa…

Selamat senin. Selamat berlibur.

Sampai jumpa di tulisan kamis minggu depan.

Semoga liburanmu tidak membosankan.

9 thoughts on “Menulis Blog Post dengan Teknik Bercerita Tanpa Membosankan

  1. Catet catet catet ✍🏼✍🏼✍🏼
    Sepertinya semua contoh dan pemisalan kasus dalam postingan ini amat dekat dengan si penulis yak 😂

    1. ya jangan jauh-jauh lah Del. jauh itu nggak enak benget, susah ketemu *eh
      wqwqwq…

      terima kasis semut hitam sudah sudi mampir :p

  2. Saya kok ga nyadar ya, selama ini teknik bercerita saya gimana kalau pas nulis. Kalau diinget-inget gimana proses pas nulisnya, sepertinya masih perlu belajar banyak lagi. sudut pandang, sama kesimpulan sepertinya jarang saya perhatikan dengan baik. thanks postnya Mbk Mo, membantu.

    1. nyatanya menulis juga butuh level kesadaran tertentu.
      *ah sok filosofis…

      terima kasih juga ikha. sudah setia membaca.
      ingin kutraktir rasanya.

  3. Gilaaaak siiiih, teknik berceritaaaaanyaaaa bisa terstruktur gitu ya mbak ya ._.

    Saya kalau nulis itu kadang suka ngalor ngidul dan nggak tau arahnya kemana wgwgw. Duuuh, harus terus menerus belajar nih ah 😀

    Terimakasih banyak sekali yak 😀

Tinggalkan Balasan