Menulis Ketika Hati Patah Biasanya Mantul (Sudah Coba?)

Menulis Ketika Hati Patah Biasanya Mantul (Sudah Coba?) – Huhueeehhh apa ini? Jadi, begini sob. Di kepala itu banyak banget ide yang sekiranya enak buat dikucurin di sini tapi apa daya, punggung berkata lain. Maunya rebahan melulu. Yaudah, nulis seenaknya aja. Yang receh-receh aja. Daripada dibayar nggak seberapa tapi disetirin mulu.

Jadi, ada apa dengan hati patah?

Nggak apa-apa sih. Hanya saja tema hati yang patah kayaknya emang nggak ada habisnya. Lagu, puisi, cerpen, novel, film, status di medsos, tulisan di blog, tema kayak gini nggak ada matinya. Meskipun saya yakin sekali bahwa hati yang patah tidak menyebabkan kematian.

Kanker hati bisa banget menimbulkan kematian tuh. *tarik napas. Nggak bole ngegas~

Suatu Grup Band pernah nyanyi begini;

“kalau kau pernah takut mati…”

Kasih mikrofon ke penonton…. “sama.” *Satu tarikan napas kelar.

Nyanyi lagi, “Kalau kau pernah patah hati?”

Kasih mikrofon ke penonton…. “akuuuu juga iyaaaaa…” lebih kenceng, lebih mantap. Layaknya mancing mania “MANTAP!!!”

Wkwkwwkk.

Yang menarik adalah perilaku saat patah hati *bahas dikit

Kamu pernah patah hati? Ngapain? Biar hatimu lebih tenang? Apa kamu sibuk mendaraskan doa supaya doi yang menyakitimu dapat karma di dunia? Atau apa? Kalau Glenn Fredly, doi nulis lagu, yang paling saya ingat lagu yang judulnya januari. Ini kebalik dengan lagunya Gigi yang sama-sama judulnya Januari. Gigi lebih ke “bertemu cinta di januari”, sedangkan Glenn “Berakhir di januari”.

Hehhh, baik jatuh cinta atau kebalikannya memang bisa jadi inspirasi dan inspirasu. Itu lhooo… yang membuat dalam hatimu berkata “asu” dengan lirih. Yeaaah menginspirasu.

Ada perilaku lain. Di mana yang sedang didera patah hati memilih berlibur tak tentu arah sampai duitnya habis. Siapa dia? Saya. Wkwkwkwk. *bangga.

Yha, untuk ngadem-ngadem hati, saya jalan-jalan ke kota asing. Naik kereta malem-malem, nggak ada rencana tentang tempat tujuan setelah sampai di kota tujuan. Sekenanya saat mikir pas buka aplikasi ojol doang. Terserah nanti mau tidur di mana atau pulang lagi pas malamnya. Pun saya nggak mau ketemu orang yang saya kenal di kota tersebut.

Dan ternyata seru juga. Kecuali pas bagian uangnya habis .

Terus gimana patah hatinya? Sembuh?

Kagak.

Tapi saya terima, sebagai bagian dari diri saya. Kemudian melanjutkan hidup.

*eehh itu cerita dulu.

Sekarang saya sudah kayak Song Eun Joo dalam drama korea Cinderella’s Stepsister. *ehh gimana emang… aahh begitulah.

Pun saya mengingat 3 hal ini ;

  1. Apa yang saya hindari dan tidak saya sukai, mungkin malah itu yang baik bagi saya. Dan, sesuatu yang saya inginkan karena saya sukai, bisa jadi itu buruk bagi saya.

  2. Tuhan memberi rezeki melalui cara dan jalan yang tidak bisa saya perhitungkan. Mungkin kesulitan dan kepiluan saat sakit hati adalah rezeki yang besok atau lusa baru saya ketahui maknanya.

  3. “Sesungguhnya Tuhan berkuasa atas segala sesuatu”. Kalau nanti Tuhan bilang ke saya… “Lu kagak terima? sila cari bumi atau tempat lain yang bukan milik-Ku.” Kan bisa-bisa mampus sayaaa??? Mana ada tempat yang bukan milik-Nya. Kalau saya mampus pun, ke mana lagi saya pulang jika bukan kepadaNya ini?

Patah Hati – Interaksi Manusia

Yha, sebuah resiko kalau mau dibilang. Resiko punya hati dan jadi manusia. Coba saya hanya diciptakan menjadi kacang lanjaran mungkin hal seperti ini nggak akan terjadi.

Lagian, interaksi dengan manusia penuh dengan keterbatasan tapi mudah menyimpulkan, digombali aja udah seneng… dibisikin kata cinta aja sudah mabuk kepayang. Diperhatikan dikit udah mesam-mesem nggak jelas. *hati manusia itu lemah sekali memang.

*ngomongin sapa ini ya ampun.

Emmm… jalan-jalan nggak jelas sudah pernah. Tahu nggak nyembuhin tapi dijalanin.

Ada juga yang salah satu yang nggak ketinggalan…

Yaitu, menulis.

Menulis ketika hati patah? Ahh yaa itu juga nggak ketinggalan! Wadidaw… Wadaw…

Sebagai bloger kelas teri yang lebih pantas dibilang bloger kelas plankton yang nggak asing lagi dengan aktivitas menulis. Saya juga menulis ketika patah hati. Kenapa? Karena murah. Karena mudah. Nggak harus di blog dan dipublikasikan. Tulisan nganggur bin galau kayaknya ada aja di buku catatan. Di laptop saya yang rusak pun kayaknya banyak.

Tapi eitsssss.

Kalau dipikir nulis ketika patah hati itu kayak dikasih energi tersendiri. Yha nggak kayak energi Lucinta Luna yang lompat-lompat karena habis minum kiranti sih. Nggak kayak gitu juga.

Hanya saja nulis saat patah hati itu agak lebih mudah. Mau tema apa? Bisa-bisa aja. Bahkan menulis dengan tema kasmaran pun bisa-bisa aja.

Pernah dong saya buat tulisan gombalan yang cukup awuwuu tapi lagi patah sepatah-patahnya. Nggak apa-apa, buat stok tulisan kalau butuh gombalan.

*eehh iyaa tulisannya dianggap hilang karena laptop satu lagi kesiram susu. *gpp lagian nggak ada yang butuh gombalan saya.

Menulis Ketika Hati Patah Biasanya Mantul (Sudah Coba?)
sumber : Pixabay

Ketika Patah Hati, Kepala Saya Lebih Mudah Melontarkan Pertanyaan-Pertanyaan…

Artinya? Ide!!!

Ide di mana-mana. Tinggal tangkap dan dijadikan tulisan. Yhaa, jadi nggak melulu tulisan yang galau-galau ria.

Kadang saya juga menuliskan hal-hal bodoh untuk ditertawakan.

Akhirnya… mendekatkan jari ini pada papan tik laptop/pulpen malah membuat saya “mundur”.

Saya harus “mundur” dari saya yang merasakan menjadi saya yang “mencoba melihat apa adanya”.

Melihat apa adanya di sini membuat saya lebih tenang. Bukannya itu yang diinginkan? Informasi yang sebenarnya seperti tetesan air kecil. Kalau permukaan air bergejolak, mau informasi sebanyak apapun nggak akan terasa jadi informasi.

Menulis saat patah hati apakah menyembuhkan?

Entahlah…

Saya nggak yakin menyembuhkan atau tidak. *yang menyembuhkan malah poin yang saya bahas di awal tulisan ini. *baca lagi bole~

Tapi, pada dasarnya, hidup adalah urusan membuat chaos menjadi order. Menulis adalah salah satu jalan ninja ketika patah hati.

~jalan ninja… hihi.

Patah hati nyatanya tidak selalu buruk. Pernah pada momentum tertentu, saya membunuh seseorang lewat aktivitas menulis dari pagi hingga malam kembali. Entah berapa lama. Dia yang saya coba bunuh, entah mati atau hanya pingsan.

Tapi saya menerima tanda terima pembayaran.

Dan rasanya sangat manis.

Sudah kuhukum dia dalam sajak. Kubuat ia mendekam di dalamnya selamanya.  

Btw, hati patah atau patah hati sih?

Gimana? Patah hati bagimu mampu menginspirasi atau menginspirasu?

bonus asu untukmu….

Menulis Ketika Hati Patah Biasanya Mantul (Sudah Coba?)
sumber : pixabay

21 komentar pada “Menulis Ketika Hati Patah Biasanya Mantul (Sudah Coba?)

  • 09/07/2019 pada 8:38 PM
    Permalink

    Patah hati, putus cinta, rasa senang dan sedih yg membuncah , semua itu energi yg bisa dimuntahkan ke dalam kata2. Yak heran banyak orang terinspirasi oleh perasaan yg meledak2 spt itu. Bahkan pernah ada yg menuliskan rasa patah hatinya di baliho. Tp jgn ditiru, ujung2nya jadi urusan polisi. 🙂

    Balas
    • 09/07/2019 pada 8:39 PM
      Permalink

      di blog lebih aman sihhh drpd baliho sejauh ini 🥳🥳🥳

      Balas
  • 09/07/2019 pada 8:56 PM
    Permalink

    yaak, keren-keren mereka2 yg patah hati tapi malah (sangat) bisa berkarya. nulis lagu, novel, cerpen dsb.. *prok prok prok.
    kalau aku tidak terlalu mantul buat nulis, entah kenapa. pernah dipake jalan2 kek mbak mo. meski ya ga sembuh jg siih. wadaw jadi curhat. wkwkwk

    Balas
    • 09/07/2019 pada 8:57 PM
      Permalink

      bhaiqq… semoga di waktu depan kita bisa jalan bareng. *ingin sekali kukasih stiker gerak-gerak kaya di TG

      Balas
      • 09/07/2019 pada 9:04 PM
        Permalink

        jalan bareng dalam rangka jalan-jalan bareng aja yaa, jangan rangka lainny. 😂 *kasih stiker yang glundang glundung di TG

        Balas
        • 09/07/2019 pada 9:08 PM
          Permalink

          dalam rangka mempertemukan dua hati… wkwkwkwkwkwkwk 😂😂😂

          semoga ditakdirkan kita bertemu. tahun depan 😌

          Balas
          • 10/07/2019 pada 12:49 PM
            Permalink

            eaaa eaaa eaaa wkwkwk 😂😂😂

            aamiinkaan. 😇😇😇

  • 09/07/2019 pada 9:01 PM
    Permalink

    ahahahahahahaaa… patah hati juga bikin orang jadi lucuuu lhow Mo.. hihihihi… aku sepakat sih, seringkali saat patah hati orang jd kreatip dan malah jadi tenar. contih konkrit: glen fredly si penyanyi itu, patah hatinya dia kan menghasilkan hits semacam Januari & Sekali Ini Saja. yekan?

    Balas
    • 09/07/2019 pada 9:06 PM
      Permalink

      akhir cerita cinta juga mantul lagunya… patah hati yg hebat karyanya juga hebat…

      *harus bilang terima kasih ke yg bikin patah hati apa yha *ahh jangan 🤪

      Balas
      • 09/07/2019 pada 9:13 PM
        Permalink

        nah kaaan… mengucapkan terima kasih kan bagus Mo.. gih, bilang aja… hihihihihhi

        Balas
  • 09/07/2019 pada 10:04 PM
    Permalink

    Aku patah hati. Aku pengen ghibah. Pengen nulis uneg2, maunya nulis di blog. Tapi malu nanti dibaca orang trus disindir2. Di situ aku merasa tambah galau. Haha.

    Balas
    • 10/07/2019 pada 5:23 AM
      Permalink

      hahahha…. ghibah memang ena~~~ eh

      ahhh yaaa bisa jadi nanti disindir2. *bisa diakali dengan tulisan yang nggak ke poin tapi masssooook 😉🤣

      Balas
  • 10/07/2019 pada 3:06 AM
    Permalink

    Waah. Mbak momo sekali lagi (dari mayora?) anda bikin saya angguk2 kepalaa.

    Kayaknya memang tulisan saya di blog mayoritas dibuat dalam kondisi patah hati. Apaqa saya kudu terus patah hati biar produktif menulis~

    Balas
    • 10/07/2019 pada 5:29 AM
      Permalink

      wahhh jangan patah hati terus.

      sama kaya luka lain, diam-diam dia sembuh. semoga nanti mayoritas dalam keadaan baeq-baeq saja~

      Balas
  • 10/07/2019 pada 2:35 PM
    Permalink

    Aku sih sering menulis saat patah hati, yahh lebih lega rasanya

    Balas
    • 10/07/2019 pada 3:21 PM
      Permalink

      luapkan saja~~~

      Balas
    • 11/07/2019 pada 10:02 PM
      Permalink

      Saya kalau patah hati nangis dan lemes Mbak. Ndadak gak punya energi untuk melakukan hal-hal lain kecuali bernapas dan pikiran ngawang. Tapi, paling kalau jadi karya, patah hati bisa jadi puisi atau artikel blog biasa. Cerpen jarang. Apalagi esai. Apalaginya lagi laporan penelitian. 😝

      Balas

Tinggalkan Balasan