Proses Menyunting Blog Post Sebelum dipublikasikan

Menyunting Blog Post

Saya pernah menuliskan berapa lama biasanya membuat satu buah blog post di sini. Pada perjalanan membuat sebuah tulisan, ada waktu di mana saya harus menyunting. Yup, ketika tulisan sudah jadi hingga paragraf terakhir. Nyatanya pekerjaan bloger belum selesai di situ.

Jadi bloger emang berat ya? heu…

Apalagi kebanyakan dari kita memang harus menulis dan mengedit sendiri. Nggak dibantu sama orang lain. Deuh, kapan yha saya ngeblog ada yang bantu gitu?

Seberapa penting proses menyunting sebuah blog post sebelum dipublikasikan?

Dulu waktu awal-awal ngeblog. Setelah selesai menulis biasanya saya langsung pencet tombol publish. Hasilnya? Sangat sering dijumpai tulisan saya salah ketik (ini sih mending, bisa diperbaiki dengan cepat), nggak enak dibaca karena pemilhan kata yang kurang pas. Tak jarang pula banyak hal-hal yang terlewatkan untuk ditulis, tulisan pun jadi mbulet. Berasa kentangnya, alias berasa belum matangnya.

Jadi, proses menyunting ini sangat penting. Walaupun tulisan dalam satu blog post hanya berisi ratusan hingga ribuan kata. Karena saat proses penyuntingan, secara tidak sadar kita harus memposisikan sebagai pembaca juga sebagai tukang ngecek (apa yha istilah yang enak?).

Kita harus secara sadar mengevaluasi tulisan sendiri, apa ada yang salah? Apa perlu ada tambahan? Apa harus ada yang dikurangi?

Terus gimana sih proses menyunting blog post sebelum dipublikasikan?

  1. Tahu diri dulu

Kita harus tahu diri bahwa menulis dan mengedit tidak bisa dijalankan bersama-sama. Jika hal demikian dilakukan maka biasanya tulisan jadi nggak selesai-selesai.

Baru nulis dua paragraf. Eh langsung edit. Edit lagi, edit lagi. Merasa ada yang kurang pas lagi. Gitu terus sampai sampai kaleng susu bendera terurai sempurna di alam.

Menulis ya menulis saja. Entah mau pakai outline ataupun tidak. Mengedit/menyunting adalah perkara yang harus dilakukan setelah tulisan memang sudah benar-benar jadi.

Tahu diri kayak lagunya Maudy Ayunda yha?

  1. Menjadi pembaca pertama

Ya… kita sendirilah yang menjadi pembaca pertama tulisan kita. Bukan para pembaca di luar sana. Pembaca pertama adalah diri kita sendiri.

Alihkan mode penulis menjadi mode pembaca. Baca baik-baik tulisan kita berulang kali. Apakah ada yang mengganjal? Jika ada maka cek dulu tempat duduk kamu, mungkin lagi menduduki remote tv.

Heh?

Maksudnya apakah tulisan yang dibaca memang sudah enak dibaca atau belum. Baca sampai diri kita sendiri juga paham apa yang sedang ditulis.

Saya sering membaca tulisan sendiri dan malah bingung. Lha saya nulis ini maksudnya apa yaaa?

Masa iya penulisnya sendiri nggak paham apa yang sedang ditulis.

Proses menyunting pun akhirnya mucul dari proses membaca.

  1. Menjadi pembaca kedua, ketiga, keempat, kelima….

Proses membaca ini ada baiknya juga berulang. Satu kali saja nggak akan cukup. Baca pertama – eh ada yang nggak jelas – edit.

Baca kembali, hingga emang sudah enak untuk menjadi sebuah tulisan yang layak dipublikasikan.

Langsung bisa dipublikasikan kan?

Jangan. Tunggu dulu.

Tinggalkan tulisan kita sementara waktu. Kemudian baca kembali pada fokus yang beda. Masih merasa ada yang harus diedit? Edit kembali.

Kalau saya sih begini. Misalnya saya selesai menulis malam hari. Setelahnya saya baca dan edit. Besok pagi saya baca ulang dan ada aja yang kurang. Akhirnya saya edit kembali.

  1. Perhatikan kesalahan pengetikan, panjang pendek kata dan kalimat yang digunakan

Salah ketik emang ngeselin, emang sih pembaca bisa paham apa yang kata yang sebenarnya. Tapi tetep aja kan? Salah ya salah. Tapi kadang saya sih emang sengaja disalah-salahin. Nulis enak? Lebih enak ngomong ena. *jadi nggak enak sama Ivan Lanin sih sebenernya. *alay kok nggak ilang-ilang ya? *dipelihara malah.

Masalah panjang pendek kalimat pernah saya ulas di tulisan saya yang ini. Sila baca buat yang belum. Saya pikir di tulisan yang itu memang sudah cukup lengkap mewakili poin ke 4 ini.

  1. Perhatikan fokus topik dalam tulisan

Kalau menulis dengan outline/kerangka (bisa baca di sini), kemungkinan untuk OOT sangatlah kecil. Beda kasusnya kalau kita menulis curhatan dengan teknik bercerita. Mesti hati-hati karena kemungkinan kehilangan fokus sangatlah besar.

Pahami lagi tulisan kita. Bagaimana ide utamanya? Bagaimana dengan ide pendukungnya? Apakah memang sudah nyambung? Kalau belum, sambung-sambungin deh. Heheh…

  1. Penggunaan kata yang benar

Kamus KBBI sebaiknya sudah terpasang di ponsel pintar kamu. Supaya ponsel pintarmu tambah pintar *eh. Yha sealay apapun saya, pokoknya harus tahu kata yang benar itu seperti apa?

Lavendel bukan lavender. Salat bukan solat. Berpikir bukan berfikir. Teknik, bukan tekhnik. Ramadan, bukan ramadhan, nggak ada “h” nya gitu (kalau ada “h” jadi  Haji Ramadan, inget twit admin mojok my lov). Memesona bukan mempesona. Tahu, bukan tau. Bloger, bukan blogger. Begitu-begitu deh.

Intinya sih kalau kamu mau sedikit pakai bahasa yang ena-ena juga boleh. Anggep ciri khas aja, supaya terkesan lebih santai.

Yha ena in aja gitu.

Lemesin aja.

Tapi harus tahu kata yang benar kayak apa.

  1. Pikirin lagi apakah tulisan memang layak dipublikasikan atau tidak

Lagi nulis tentang apa? Tentang curhatan? Pastikan tulisan yang kita buat tidak menyinggung. Apalagi zaman sekarang kan orang-orang banyak yang sensitif kayak pantat bayi. Dikit-dikit maunya ribut mulu.

Tingkat bapernya orang itu kan beda-beda? Usahakan kita nggak mengusik kehidupan orang lain dengan tulisan kita. Yha walaupun tulisan kita belum bisa menghibur, manfaat atau menginspirasi. Setidaknya nggak bikin emosi orang lain jadi naik.

Pikirkan juga apakah sumber informasi yang kita ambil memang sudah benar. Jangan sampai kita membagikan suatu kabar bohong.

Kalau memang benar-benar ingin mengangkat tema sensitif. Kamu harus tahu efeknya bagaimana? Kamu juga harus tanggung jawab. Buat seelegan mungkin. Jangan murahan.*eh tapi gimana yak?

  1. Ngedit foto juga dong

Kalau ngomongin postingan blog. Bukan hal yang aneh kalau kita memasukkan beberapa foto di dalamnya. Mengedit ini diantaranya adalah tentang ukuran, supaya nggak berat blognya. Juga jangan lupa masukkan sumber foto. Saya suka lupa nih masalah ini. heuheu…

Ingat juga masukkan kata kunci di alt teks pada foto. Itu penting.

Please ya, jangan tulis sumbernya google. Ingat, google bukan tempat sampah. Mungkin foto tersebut punya hak cipta. Cari sumber foto yang memang sudah bebas diambil seperti pixabay.

Oh iya nih tambahan, jangan pakai foto pribadi dari sumber lain tanpa izin sama pemilik foto terlebih dahulu. Misalnya nih, ada foto cewek bening dikit di grup WA. Diambil aja fotonya, jadi meme dan post di blog.

Hadeh…

  1. Cek lagi tentang originalitas

Sering ya saya ngomong ini? cek originalitas? Cek di sini https://smallseotools.com/plagiarism-checker/. Tulisan yang bagus jelas 100% ori. Tapi tergantung juga sama tujuan tulisannya. Kalau kamu ngomongin hape yang harus menjelaskan spesifikasi, maka pasti ada tulisan yang sama dengan pembuat konten lain. Lha kan kita nggak bisa otak-atik spesifikasi hape yang memang sudah dari sononya. 90 % juga masih bagus kok.

Kalau masih kurang dari itu. Harus disunting lagi hingga benar-benar punya originalitas yang baik. Harus beda dengan tulisan orang lain.

Yha, jelas nggak boleh copas ya?

Menyunting Blog Post
sumber : pixabay

Kesimpulan dari proses menyunting sebuah blog post sebelum dipublikasikan

Sederhana bukan?

Intinya mau membaca kembali apa yang sudah kita tulis. Periksa apa masih ada yang kurang enak dibaca, kurang lengkap, kurang fokus atau salah ketik.

Kemudian pastikan tulisan kita bisa dipertanggungjwabkan, dari segi orisinalitas sampai tanggung jawab isi konten itu sendiri.

Yolaah, masa kita malas baca tulisan sendiri?

Gimana orang mau baca tulisan kita kalau kitanya sendiri malas baca tulisan sendiri.

Ada tambahan guys?

Sekian yaaa… selamat hari kamis.  Selamat beraktivitas.

Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Dadaaaahhh…

7 thoughts on “Proses Menyunting Blog Post Sebelum dipublikasikan

  1. Banyak belajar saya dari tulisan yang Anda tuliskan.

    Sepertinya saya harus mendownload aplikasi KBBI deh sekarang. Saya pikir (biasanya saya ketik fikir) Bahasa Indonesia saya sudah benar, ternyata banyak yang salah.

    Terima kasih atas berbagi ilmunya. 👌👍👍

  2. Yup, keren bnget ni tipsnya. Yg nomer 3 dan 4 itu sdh shrusnya gitu.

    Yaelah … posting kli ini sy hrus msuk k peramban ini, gak lngsung sprti pkai wp reader. Sngja kolom komennya ditutup ya lwat wp reader? 🙂

  3. Yup, keren bnget ni tipsnya. Yg nomer 3 dan 4 itu sdh shrusnya gitu.

    Btw, kok postingan kli ini sy hrus msuk k peramban ini ya, gak lngsung sprti pkai wp reader? Sngja kolom komennya di wp reader ditutup ya? Ah, namanya jg blog self-hosted 🙂

    Thanks anyway. Trus menginspirasi!

  4. Wah, dapet ilmu lagi nih. Kebiasaan masih kurang sering mbaca dan nyunting tulisan sendiri, paling sesekali dua kali. Alhasil, saltik dan kata-kata tak nyambung masih berseliweran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *