Ngomongin Body Shaming yang Sering Terjadi

Ngomongin Body Shaming yang Sering Terjadi- Kamu sering dapat komentar negatif tentang tubuhmu? Saya sering, dari kecil sampai sekarang dan mungkin akan selalu terjadi sepanjang saya hidup. Begitulah, kita nggak bisa mengendalikan pikiran dan mulut orang lain.

Istri dari Kakak saya bertanya kenapa di foto saat saya kecil jauh lebih putih dibandingkan saya sekarang.

Sepupu saya yang baru melihat saya entah berapa tahun mengatakan saya terlalu kurus, mungkin bakalan terbang kalau kena angin.

Yang lainnya… yang lainnya… yang lainnya… bilang saya kurus, nggak punya perut, nggak punya bokong, nggak punya dada.

Teman SMP saya namanya Bintang pernah mengejek bahwa saya kayak tiang listrik.

Teman SD saya namanya Aziz bilang saya macan tutul karena punya kulit yang penuh dengan bekas luka karena masalah kulit saat itu.

Mantan suami Kakak saya bilang saya bambu yang biasanya digunakan untuk ngambil mangga di pohon. Setiap saya datang, dia sering bilang tidak ada mangga yang matang untuk diambil.

Seorang yang pernah menjadi rekan kerja bilang ke saya terlalu jorok hingga jerawatan. Sementara yang lainnya tbtb mengatakan saya seharusnya cepat menikah agar jerawat hilang.

Seseorang lainnya mengatakan mata saya terlalu besar sampai menyerupai burung hantu.

Bahkan Ibu saya bilang saya seperti anak afrika yang kena gizi buruk. *Waktu masih SD.

Seorang Ibu-Ibu yang tidak pernah saya kenal mendadak bertanya dengan pertanyaan aneh, katanya; kenapa jari tangan saya panjang?

Juga pernah ada yang tanya apa saya lesbian karena punya potongan rambut yang super pendek seperti lelaki.

Yang lainnya bilang… Yang lainnya bilang…

Bilang lebih baik pakai beha dengan busa tebal. Bilang pakai celana dalam yang ada busanya. Bilang saya nggak tahu diri karena pakai sendal dengan hal 5 cm. Bilang kulit berminyak itu nggak usah pakai bedak.

Bilang ini… bilang itu.

Nyomot Medium

Ahh memang, saya si kurus yang terlalu!

Kalau yang bertubuh gemuk suka dapat body shaming, maka si kurus kayak saya pun nggak pernah luput. Sepanjang saya hidup, BB terberat saya hanyalah 50kg, dengan tinggi di atas 167. Saya belum pernah mencecap rasanya punya BB yang ideal. *terakhir nimbang 45kg saja.

Jadi sudah cukup kenyang dan berpengalaman dengan komentar macam-macam soal “tubuh kurus”. Dibilang kayak triplek juga pernah.

Saya Juga Sempat Nggak Pede

Bukan tentang kurus saja. Tapi tentang warna kulit.

Sepupu saya selalu berdoa saat dia mengandung agar anak yang dia lahirkan berkulit putih (btw, sekarang sepupu saya usianya 50an ya). Dia bilang kulit putih adalah “hadiah”. Lalu saya apa?

Iklan-iklan produk selalu meneriakkan kulit putih, cerah dan bersinar. Seolah menawarkan kebahagiaan baru ketika warna kulit seperti model produk mereka.

Saya yang hidup di daerah tropis dan hobi main di sawah mulai bersedih karena tidak putih. Yha, saya remaja selalu mengidamkan kulit putih. Setelah menginjak usia 20an juga masih demikian.

Saya yang remaja saat itu selalu merasa kulit saya hitam dan kucel. Kalau ada produk sejenis pemutih yang saya pakai, nggak pernah mempan di saya. Pakai Ponds Hahahah… *Serius. Frustasilah saya hingga pengen banget suntik putih.

Kesampaian suntik putihnya?  jelas nggak. Masih bocah dan belum punya penghasilan. Itu hanya angan-angan. Angan-angan yang kian berlalu seiring berjalannya waktu.

Dulu, saya merasa resah dan bertanya apakah nanti ada yang suka sama saya? Sementara, mereka yang rupawan lebih mudah mendapatkan cinta. Begitulah saya yang saat itu hidup dengan cinta yang bersyarat. *Sekarang saya masih hidup di lingkungan yang seperti itu kok.

Waktu berlalu…

Pernah saya berhadapan dengan para gadis SMP yang berceloteh bahwa dia ingin putih. Para gadis ini bahkan patungan untuk membeli pewarna makanan (Mapros harga 4.000) yang dipakai bersama-sama untuk membuat efek liptin di bibir mereka. Katanya ditambah juga dengan madu dengan harga 1.000an.

Para gadis ini (ada 4 orang kalau nggak salah) berebutan bicara kepada saya bahwa mereka ingin putih seperti salah satu teman mereka *mereka sebut nama teman mereka.

Saya jadi ingat saya yang dulu.

Waktu pun kian berlalu…

Belum lama, saat saya bertemu dengan beberapa orang, setelah satu bulan nggak ketemu. Komentar yang pertama mereka keluarkan adalah tentang fisik saya. Masih tentang saya yang katanya terlalu kurus. Mereka yang merasa gemuk, mendadak satu-satu bercerita tentang kisah mereka yang pernah kurus.

Saya cuma cengengesan aja. Coba tanya sehat apa nggak, nanti saya jawab lumayan panjang.

Untuk BB yang ideal, yang belum pernah kesampaian itu. Buat saya, yang penting saya sehat dan dalam keadaan enak gerak sana sini.

Untuk warna kulit. Saya sudah berdamai dengan warna kulit. Biar warna tangan apa, warna kaki apa, yang penting kulit saya sehat. Saya juga damai dengan kulit wajah yang lebih gelap dibandingkan leher. Usaha saya adalah sebatas menjaga. Kalau kering tinggal pakai pelembab. Kalau jerawatan, tinggal cari tahu penyebabnya dan diobati. *tapi tidak semudah itu Bambang!

Ibu saya bilang, saya punya masalah kulit sejak umur 2 hari. Katanya dulu leher saya kayak orang disembelih, merah dan mengerikan. Sepanjang saya SD. Dokter spesialis kulit adalah dokter yang paling sering saya kunjungi. Digigit nyamuk, dulu jadi masalah serius karena membekas. Sekarang digigit ponakan juga nggak masalah. Sekarang, kulit saya relatif baik-baik saja. Percaya deh, kulit punya kulit sehat itu rezeki namplok.

Untuk yang lainnya… untuk yang bilang apapun itu… saya menerima. Saya mendengar.

Body Shaming Akan Selalu Ada…

Jika dulu saya bersedih. jika dulu saya menginginkan sesuatu yang lain pada diri saya. Maka sekarang, di kepala, sering saya nyanyikan lagu…

Cukupkanlah ikatanmu… Relakanlah yang tak seharusnya untukmu…

Sebelum kamu menjaga, merawat, melindungi, segala yang berarti, yang sebaiknya kau jaga, adalah…. dirimu sendiri…

Yang sebisa mungkin dilakukan untuk saat ini dan seterusnya, saya amat sangat menghindari mengomentari fisik seseorang jika memang tidak perlu.

Menyoal Cantik… dikit doang

Setiap kepala berhak ngomongin apa sih cantik, siapa, apa dan bagaimana.

Tapi diri saya, perlu diberitahu bahwa ia dicintai. Maka, “ia” akan memancarkan potensi terbaiknya.

Penutup

Saya selalu mencoba berada di jalan “tengah.”

Saya menerima apa yang orang katakan pada saya selagi itu fakta. Saya menerima apa yang ada di diri saya tanpa menghakimi.

Sisi lainnya, saya menggunakan kesadaran penuh bahwa diri sayalah yang sepenuhnya bertanggung jawab dalam memaknai apapun keadaan yang terjadi.

Terima kasih sudah membaca tulisan curhat saya. Lagi-lagi.. wkkw.

Satu komentar pada “Ngomongin Body Shaming yang Sering Terjadi

Tinggalkan Balasan