Cerita Momo Cuma Nulis Aja Ngumpulin Semangat Buat Nulis

Ngumpulin Semangat Buat Nulis

Ngumpulin Semangat Buat Nulis – Sempat ada di satu momen bertanya-tanya apakah ada keengganan untuk hidup. Setelah sesak napas, kemudian panik dengan kemungkinan positif covid 19. Di situlah saya merasa ternyata saya masih ada keinginan untuk hidup, keengganan hidup adalah ongkos goblok saya dalam kelemahan menghadapi cobaan hidup.

Mbak saya positif covid 19. Setelah kemungkinan besar tertular salah satu anggota keluarganya yang sempat dapat perawatan di RS setelah bolak balik nggak dapat kamar. Anaknya yang masih bocil juga keadaannya tidak jauh beda. Sama kayak emaknya.

30 Juni 2021, nggak sengaja kesenggol tangannya dan terasa suhu tubuhnya tinggi. Tanggal 1 juli 2021 setelah hasil PCR keluar, ternyata (+). Harus isolasi mandiri.

Tapi, agaknya isolasi mandiri masih tidak sepenuhnya bisa dipenuhi. Karena beberapa keadaan yang rumit sekali (tidak bisa saya jelaskan), Mbak saya di beberapa kesempatan pergi ke luar rumah. Wajahnya kuyu. Terlalu banyak beban hidup yang harus ditanggung.

Di hari kamis, 1 juli 2021. Saya pergi dari rumah. Di sore hari. Bener-bener pergi, yang alasannya lagi-lagi nggak bisa saya sampaikan di sini. Bukan masalah takut terlular. Toh Mbak dan saya ada di rumah yang berbeda.

Setelahnya, saya cukup bingung menangkap ritme buat nulis.

Tulisan yang bener-bener saya buat dengan serius adalah tulisan untuk salah satu agensi dimana saya sudah dibayar di bulan sebelumnya. Menunaikan kewajiban dan konsep memang sudah dikuasai, tidak terlalu sulit nulisnya. Sambil santai, selesai dalam 2 jam.

Nulis yang lain? Pokoknya masih belum nemu.

Oh iya. Tahun ini nggak kerasa banget. Udah ada sayembara dari DKJ lagi. Saya mau ikutan tapi masih kurang banget di naskah dan waktu mentok sampai agustus nanti.

Soal Kabar Yang Banyak yang Sakit

Begini. Saat malam hari, ketika saya benar-benar mau fokus nulis. Suara ambulance wiu wiu hampir terdengar lebih dari biasanya.

Dikontak teman, kabar tentang sakit begitu sering. Ada yang isoman di Yogya dan jauh dari keluarga. Sampai satu keluarga positif Covid dan harus beli tabung oksigen yang harganya nggak murah.

Di dekat rumah Mbak saya juga banyak yang sedang isolasi mandiri.

Banyak hal membuat saya kesulitan untuk nulis. Termasuk adaptasi dengan lingkungan yang baru.

Masih banyak kegagapan yang menjalar pada kegapapan nulis.

Tulisan ini aja sekadar bertujuan untuk “ngelemesin” tangan buat semangat nulis lagi.

Gerd

Rasanya lebih banyak ke sesak. Apalagi habis makan dan minum. Karena bener-bener kasus covid di lingkungan saya sedang naik. Langsung panik begitu sesak.

Huh.

Padahal saya lancar puasa lagi. Tapi apa daya kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Ditambah sakit kepala yang kena polisi tidur pas di jalanan aja sakit banget. Rasa sakit kepalanya mengingatkan saya saat momen pulang dari RS usai menderita tipus.

Sakit emang nggak enak.

Apalagi saat musim pandemi saat ini.

Saya ngomong “sesak” aja langsung responnya “terbelalak”.

Penutup

Kemarin ada agensi lagi kontak saya untuk tulisan.

Tawaran pekerjaan di saat pandemi dan kerjaannya nggak perlu kemana-mana memang sulit ditampik.

Lalu. Apa alasan saya untuk malas nulis?

Apa alasan saya untuk tidak mencintai aktivitas menulis?

Nikmat ngeblog mana yang saya dustakan?

Semoga saya senantiasa sehat yaa. Kalian juga, yang baik sengaja dan tidak sengaja membaca tulisan saya.

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment