Cerita Momo Sebuah Obrolan Pak Tarno Adalah Penghuni Kota yang Sebenarnya

Pak Tarno Adalah Penghuni Kota yang Sebenarnya

Pak Tarno Adalah Penghuni Kota yang Sebenarnya – Ada sebuah berita yang saya baca. Konon Pak Tarno viral karena dipotret dengan penampilan sederhana, ada di jalanan dengan bawaan sederhana. Sebelum tahun 2021, saya lihat berita Pak Tarno yang naik angkot juga.

Netizen kemudian menduga bahwa Pak Tarno mengalami kebangkrutan. Pak Tarno sendiri sanget sedih dikatain “bangkrut” oleh netizen.

Publik Figur, Mobil dan Status Sosial

Apa yang kalian bayangkan tentang publik figur? Ketenaran yang sejalan dengan kelimangan harta? Kemudian apabila melihat publik figur terlihat sederhana, menganggap publik figur tersebut bangkrut? Apa kalian adalah netizen kebanyakan? Apakah punya pendapat sendiri?

Jadi publik figur memang ribet yaa? Maka berdamailah orang-orang yang tidak terkenal.

Kalau soal mobil (saya pernah ngomongin angkot di tulisan ini) bisa sangat menjadi alat mendongkrak gengsi.

Saya dulu punya rekan kerja yang rumahnya tidak nyebrang dan jalan kaki sedikit untuk sampai di tempat kerja. Tapi dia malah naik mobil yang justru malah agak bikin lama perjalanan karena ada acara puter balik dulu. Dari mantan teman rekan kerja ini saya belajar bahwa mobil juga merupakan alat pemuas gengsi. Bukan sebagai alat transportasi semata. Karena memandang keefektifitasan sebuah benda, hal yang dilakukan mantan rekan itu sangat jauh dari keefektifitasan.

Mengenai status sosial, ada semacam tingkatan manusia yang dilihat dari mobil yang dimilikinya. Jabatan ini pakai mobil ini, jabatan itu pakai mobil itu. Ada juga sindiran-sindiran ketika seseorang ada di dalam jabatan tertentu dan tidak punya mobil, yang ada malah disindir terus sama rekan-rekan kerja lainnya.

Pokoknya saya nulis berdasarkan gejala-gejala sosial yang dekat dengan kehidupan saya. Mungkin di kisah kalian bisa jadi sangat berbeda.

Pak Tarno Adalah Wujud Manusia Biasa

Banyak hal yang aneh dengan pikiran manusia. Salah satunya adalah ketika berpenampilan sederhana, tidak mencolok, dikiranya bangkrut.

Bagi saya biasa saja. Pak Tarno adalah manusia biasa yang mana bisa saja melepas semua atributnya ketika “show”. Dia berpenampilan layaknya Bapak-Bapak yang penuh dengan kewajaran sebagai yaaahh manusia.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Lalu. Haruskah Pak Tarno selalu tampil seperti saat dia mau “show”. Ah yang benar saja.

Tidakkah kalian merasakan bahwa baju yang paling nyaman kita pakai adalah baju yang cenderung biasa saja? yang warnanya sudah ragu-ragu, yang sudah agak tipis karena sudah terlalu sering dipakai, yang ada bolong sedikit-sedikit itu.

Kenapa Saya Bilang Pak Tarno Adalah Penghuni Kota yang Sebenarnya?

Bayangkan kalian ada di dalam sebuah mobil dengan tingkat kenyamanan yang sangat baik. Kamu duduk dengan udara di musim gugur, bisa mencium bau bunga di musim semi, kemudian terik matahari tidak pernah sampai karena kaca jendelamu begitu melankolis seperti mata seorang aktris korea yang memerankan sebuah melodrama.

Ketika dihadapkan dengan kemacetan. Kamu punya ponsel yang bisa memberimu banyak pengalaman “lain”.

Atau kamu memilih sebuah lagu yang menutup pendengaranmu pada suara kota saat itu. kamu larut dalam sebuah lagu yang justru meningatkanmu dengan orang-orang yang jauh. *eh.

Siapakah kamu? Sungguhkah kamu adalah penghuni kota sebenarnya?

Ketika mobil kembali bergerak. Karena sudah tidak macet. Akhirnya berjalan dengan kecepatan tertentu. Lalu, hal-hal di sekeliling hanyalah irisan-irisan momen yang sulit sekali ditangkap. Kamu terus bergerak.

Pengalaman mengalami jelas sekali jauh dari dirimu yang nyaman di dalam kapsul bernama mobil.

Lalu, kemana tujuanmu?

Katakanlah, sebuah gedung tinggi pencakar langit. Kamu masuk ke dalamnya. Merasakan udara yang tidak jauh berbeda dengan kapsul yang kamu tinggalkan.

Siapa kamu dalam gedung itu? pengamat? Siapa yang kamu amati padahal kamu tidak pernah benar-benar setara dengan kota itu sendiri? Kamu tidak ada dalam himpitan-himpitan jalan-jalan. Kamu tidak di sana.

Maka berjalan kaki di kota adalah semacam penghuni kota sebenarnya. Orang-orang yang benar-benar mengalami keadaan alam dan sosial yang berlapis-lapis. Dekat sekali. Kemudian momen kedekatan itu menjadi semacam ruang personal yang lebih melebar, di dalamnya ada persamaan nasib.

Jalan kaki itu bisa jadi tidak nyaman. Bisa juga ada ancaman terhadap tindakan kriminalitas. Tapi di dalamnya selalu ada ruang terbuka lebar pada keadaan yang semestinya manusia lihat. Bahwa kota tidak pernah berbohong dengan keadaannya. Kitalah yang seringkali lari dengan bantuan teknologi dan baru sadar sudah melakukan banyak hal buruk ketika alam setia dengan hukum sebab akibatnya.

Agaknya saya harus berterima kasih pada Pak Tarno, pada netizen yang membuatnya viral.

Bahwa kenyamanan dalam bentuk apapun tidak ada salahnya di move-on- i.

Bahwa kehebatan dalam bentuk apapun juga seharusnya di move-on i.

Dengan begitu, kita terus berjalan.

Jangan-jangan juga, inti hidup dengan segala kerumitannya ini. Hadir dari kebanyakan manusia yang tidak mau “jalan”.

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment

  1. jadi inget pas masih mahasiswaa dulu. karna nggak punya motor saya selalu jalan kaki pulang pergi ngampus. jarak kosan saya ke kampus emang deket., tapi dari gerbang utama ke gedung fakultas saya cukup jauh. ada kali15 menitan.tapi kalo naik angkot rasanya tanggung. dulu kalau temann mau main kekosan saya mereka maunya naik angkot. jadi tiap ngajakin saya selalu bayarin ongkos.kadang yg bawa motor sering nawarin saya tumpangan. mungkin mereka kasihaan ngeliat saya tiap hari jalan dikira gak punyaa duit hahaaha. padahal karnaa emang udah kebiasaan dari smp, sma dulu keskolahnya naek bus. karna rumah saya nggak dilintasi kendaraan umum jadi harus jalan dulu sekitar 1km kejalan raya biar dapet bus. pulang pergi. sampe SMA pun masih gitu. mungkin karna udah kebiasann kali ya jadinya kemana mana emang lebih nyaman jalan kaki dan naek kendaraan umum. waktu awal awal booming ojek online pun. saya tetep lenih seneng gunain bus (kalo dipalembang namanya transmusi). seneng aja gitu keliling keliling. transit/turun dari halte ke halte,nungguinn bus sambil makan cilok. sekarang sih karna udah punnya motor kerja atau kemanamana ya naek motor karena lebih efisien. kadang kangen juga naek angkutan umum.