Pelajaran Hidup dari Aktivitas Ngeblog

Pelajaran Hidup dari Aktivitas Ngeblog

Jika ada yang bertanya apa manfaat terbesar ngeblog yang sudah dirasakan secara langsung. Mungkin saya akan nyengir aja seperti kepala kambing yang lagi direbus, bingung mau menjawab apa.

Namun karena jawabannya berupa tulisan. Saya pikirin matang-matang. Serius lho ini pertanyaan yang cukup sulit buat saya.

Apa manfaat terbesar ngeblog yang sudah dirasakan?

Yang dirasakan ya?

Sebentar-sebentar…

Bagaimana kita mengukur rasa?

Rasa hanya lewat sejenak, menyentuh, kemudian mengendap dalam memori. Jadi imaji yang mucul kemudian.

Pelajaran Hidup dari Aktivitas Ngeblog

Ya nggak?

Jadi saya nggak mau pakai rasa nih. Hahaha… Saya mau menjawab dengan sesuatu yang bukan sekedar lewat. Saya mau menjawab pertanyaan apa manfaat ngeblog dengan sesuatu yang mengendap lama.

Berupa…

Pelajaran hidup 

lalu apa saja pelajaran hidup dari aktivitas ngeblog.

Ini dia…

Hasil Instan itu NGGAK ADA. Selalu ada proses panjang.

Berawal dari membagi beberapa kisah keseharian sejak umur belasan tahun. Ngeblog pada perjalanannya lebih dari itu. Ngeblog menjadi salah satu agenda penting dari keseharian saya.

Mau buat tulisan bagus? Konten bagus? Itu nggak mudah sama sekali. Misalnya untuk menulis lebih dari 1000 kata saja. Kalau memang tidak biasa maka akan sangat sulit. Saya harus melewati fase menulis 300 kata, 500 kata, 800 kata terlebih dahulu.

Mau buat judul yang baik ditengah gegap gempita para penulis menulis judul “Kisah Ranjang yang Ternoda” untuk tulisan tips membersihkan noda membandel pada seprai? itu tidak mudah.

Mau memikat pembaca dari paragraf pertama hingga mau membaca tulisan kita sampai tuntas? Ilmu pepet terus nggak pakai kendor dalam tulisan itu juga tidak mudah.

Gimana? Capek baca tulisan saya yang satu kalimatnya panjang? *tarik napas dulu. Wqwq…

Mau muncul di mesin pencari di halaman pertama? Saingan dengan para penulis konten lain? Butuh proses. Mau jadi bloger yang diingat karena keunikannnya? Butuh proses yang sangat panjang. Bukan satu atau dua hari saja. Bisa tahunan.

Makanya saya agak gimana gitu ketika BW dan membaca tulisan bloger yang mengeluh anu dan anu. Susah dapat statistik bagus, susah dapat komentar, eh ngeblognya baru 3 bulan.

Evaluasi adalah hal yang NISCAYA

“Mampus saya dikoyak-koyak evaluasi.”

Ngeblog membuat saya mau tidak mau. Suka tidak suka. Harus selalu evaluasi. Kenapa ini blog saya lelet? Kok beberapa tulisan saya tidak diindex mesin pencari lagi? Kok bounce rate di google analitytics saya gede, bagaimana cara menekannya? Kenapa rank alexa saya masih gendut? Kategori saya kok nggak imbang begini?

Kenapa? Kenapa? Kenapa? *ingin teriak.

Akhirnya saya banyak belajar dari hambatan dan kegagalan yang muncul pada perjalanan ngeblog. Mengorek-orek kesalahan sendiri dan mengakuinya. Kemudian membuat alternatif perbaikan. Belum sepenuhnya baik memang. Karena sekali lagi, hasil instan itu nggak ada. Semua butuh proses, kreativitas dan kerja keras.

Kalau waktu sekolah. Kita bisa menamatkan dengan evaluasi akhir. Ngeblog seperti hidup. Evaluasinya tidak ada akhir.

Tumbuh adalah Menjadi Manfaat Bagi Oranglain.

Kadang saya mikir. Ini saya lagi ngapain sih? Kok rajin banget nulis di blog (kalau di blog ini nggak terlalu sih, hehe). Saya nulis buat apa coba? Saya dapat apa? Saya lagi buang-buang waktu dan energi atau bagaimana?

Namun, ketika sedikitnya ada respon sesederhana “terima kasih kak, saya terbantu atas infonya”. Di situ saya mulai mengesampingkan pertanyaan awal saya tadi. Saya melihat aktivitas ngeblog layaknya menanam tanpa tahu bisa panen atau tidak. Eh gimana? Gimana?

Mengingat kalimat seseorang berikut:

Bisakah kamu memastikan tanaman padi yang kamu itu pasti panen? Kita hanya menanam, lalu menyiram. Keluar buah atau tidaknya siapa yang menentukan? Tuhan.

Tuhan tidak menuntut supaya kita menghasilkan padi. Tuhan menuntut kita untuk menanam, merawat terus menerus. Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses. Yang dituntut adalah berjuang hingga titik darah penghabisan. Karena itu jangan berhenti menanam. (Cak Nun).

Saya ingat-ingat lagi kalimat beliau ini. Presentase keterlibatan manusia dalam menanam itu berapa persen? Katakanlah tugas kita hanya menaruh biji. Siapa yang menumbuhkan? Jika sudah tumbuh. Tugas kita hanya menyiram dan memelihara. Siapa yang membuat tanaman itu berbuah? Apakah manusia bisa menjamin tanaman itu akan berbuah? (keterlibatan manusia mungkin saja kurang dari 10%).

Ngeblog tidak jauh beda…

Katakanlah saya menulis (menanam). Kemudian tulisan saya tumbuh (dibaca orang). Makin tumbuh (dibaca banyak orang lagi). Kemudian ada fase di mana saya mendapatkan sesuatu dari tulisan saya tersebut (panen). Tidakkah persentase saya begitu sedikit?

Begini nih, kadang saya melamuni statistik blog. Saya hanya diam mengamati, tidak juga menulis tulisan baru (soalnya males). Tapi satistiknya tetap bagus. Orang-orang, entah siapa, keluar masuk blog saya.

Di situ saya merasa kerdil.

Tulisan yang saya buat dalam beberapa jam (menanam) kemudian dibaca berulangkali oleh orang-orang yang berbeda (tumbuh) dan sepanjang tulisan itu ada.

Saya simpulkan bahwa tumbuh adalah menjadi manfaat bagi oranglain.

Maka jika datang hari di mana saya mendapat entah itu uang, barang, kesempatan, teman, pengetahuan atau apapun dari ngeblog. Itu hanyalah karena kasih dan sayangNya. Hanya itu.

Jujur, saya capek jawab kalau ada yang tanya saya dapat berapa dari ngeblog (nominal rupiah atau $). Saya males jawabnya. Karena aktivitas yang saya cintai adalah menulis (menanam). Saya hanya bisa menjawab, itu semua bonus.

Berbagi itu Indah

Ngeblog adalah sarana berbagi bagi saya. Bukankah berbagi adalah sebuah keharusan?

Sebuah bangunan saja harus bisa berbagi dengan ruang taman, mobil, angkutan dan pejalan kaki. Kita harus senantisa berbagi dari mengantri tolilet umum, mengambil uang di ATM atau mengalah pada orangtua padahal kita sedang diburu waktu. Kita memang harus memberi tempat pada hal-hal remeh bukan? Agar suatu tempat tidak menjadi tempat yang melelahkan.

Blog adalah tempat berbagi, mungkin hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup. Barangkali, kita di sini berbagi juga agar hidup tidak menjadi tempat yang melelahkan.

Dan akhir kata…

Saya masih ingin berbagi di sini, masih banyak hal yang ingin saya tulis, mungkin bukan hal besar tapi semoga bisa bermanfaat.

Layaknya makanan dan minuman yang melewati lidah. Semua bisa terekam lewat rasa. Mengendap sejenak dan hilang. Kemudian yang hadir selanjutnya adalah sari pati yang hadir dalam darah. Ia begitu hidup dalam diri yang hidup.

Pelajaran Hidup dari Aktivitas Ngeblog


Tulisan ini saya ikut sertakan pada GA Obrolin dalam rangka ulang tahunnya yang ke satu. Sebenarnya saya mau nulis banyak, tapi ini sudah kebanyakan. Hahhaha… *pelanggaran *prittt *prettt.

Awalnya saya seperti nggak bisa ikutan. Maklum lah sok sibuk. Tapi di dalam perjalanan pulang tadi, sepertinya ada outline bayangan di langit. Wqwq… Jadi langsung saya buat tanpa pikir panjang. Semoga pesan tulisannya sampai.

Saya mau ngajak  Suci Su  salah satu teman gembel, Bang Jo yang entah, dan Ikha yang mungkin nggak nyangka akhirnya saya bisa nulis juga.

26 thoughts on “Pelajaran Hidup dari Aktivitas Ngeblog

  1. Akhirnya ikutan juga nih,
    Duh emang segalanya butuh proses ya mba, termasuk kegiatan ngeblog ini, dari belajar nulisnya, hingga dapet pembaca setia nantinya.

    Btw sekaligus minta saran dong buat blog saya, kalo mba sempet mampir. Hhee

  2. koq aku terpaku pada “kisah ranjang yang ternoda” ya mbak?
    Ngakak sja pas di situ. 😅😆😆

    Tpi kata2 penutupnya kece : layaknya makanan……
    Suka ❤❤❤

    1. saya kayaknya punya bakat kali ya? nulis tentang kisah ranjang yang ternoda?
      buktinya baru judul aja ada yang terpaku. wqwq

  3. Terima kasih kak, saya terbantu atas infonya(2).
    Wkwkwkwk
    Sebenarnya mau niru koment kayak bang hendra.. Tapi memang bener semua point2.
    Semua itu tidaklah mudah, butuh proses dan itu tidaklah segampang nasi padang yang dibayarin temen.

    1. yakk tapi menikmati prosesnya juga menyenangkan.

      sama-sama Kak. terima kasih sudah membaca.
      selamat datang kembali. wqwq

  4. Baca tulisan ini berasa ngobrol langsung sama mbak momo. Mbak momo aku bayangin seperti momo geisha soalnya namanya sama wkwkwk. The point of this post is berbagi. So inspiring and touching me. Thanks mbak mo – nica ? Momo geisha ?

    1. kejauhan kayaknya kalau dibanyangin sama artis. hahahaha
      Momo yang ini lebih ke arah gembel sih.

      sama-sama… terima kasih sudah membaca 🙂

  5. Benar mbak Momo, sy setuju tak ada yang instan dalam hidup ini, semua perlu proses

    Luar biasa tulisannya mbak, menginspirasi sekali,
    Saya suka kalimat ini”tumbuh adalah menjadi manfaat bagi orang lain”
    Sukses selalu mbak Momo

Tinggalkan Balasan