Pengalaman Pertama Kali Melihat Manusia

Pengalaman Pertama Kali Melihat Manusia – Pernah nggak kalian melihat manusia? Manusia yang manusia. Manusia yang bener-bener manusia? Lepas dari segala pandangan apapun. Hanya manusia?

Sebenarnya tulisan ini lahir karena menggaung-gaungnya ungkapan cinta seorang perempuan usia 20an pada seorang pria yang sudah menikah dengan usia yang cukup terpaut jauh. Usia sang pria 40an.

Kira-kira begini ucapan cintanya.

“I liked all of the sounds you made, Ahjussi. And all of your words… And thoughts… And the sound of your footsteps… all of it. It felt as if I saw  what a human being was, for the first time.”

Mendengarnya membuat saya menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidup. Ini adalah ungkapan cinta paling indah sekaligus menyedihkan yang pernah saya dengar dari sebuah drama.

Dramanya berjudul My Mister. Sejauh saya nonton entah ratusan drama. Drama My Mister menjadi yang terbaik yang pernah ada sejauh ini. Drakor bagus itu banyak. Banyak banget. Tapi yang meninggalkan kesan mendalam itu nggak banyak.

My Mister megang banget.

Saya Sampai Nonton Dua Kali

Biar jelas. Karena saat nonton pertama kali mungkin ada yang kelewat karena nggak konsentrasi penuh disebabkan beberapa hal (sakit sih diantaranya). Menonton ulang untuk yang kedua kalinya bener-bener memberikan kesan penguat.

Suara ahjussi juga begitu melekat di kepala. Sampai langkah kakinya aja kayak kerasa banget. Jadi ingat sama dramanya Eric Moon yang kerjaannya merekam suara untuk film.

Tahu nggak? Dalam satu tayangan, suara itu tidak bisa ditangkap semua. Untuk memunculkan langkah kaki saja. Itu harus direkam secara terpisah dengan metode lain. Kemudian baru benar-benar masuk proses editingnya.

Oh yaaa. Kembali ke Manusia

Menariknya di sini adalah sosok Mbaknya ini sama sekali nggak ngarep Ahjussinya menjawab atau bahkan membalas cintanya. Mbaknya hanya ingin Ahjussinya benar-benar bahagia di esok hari. karena tahu kehidupan macam apa yang ahjussi hadapi.

Yeah guys, kehidupan memang nggak mudah. Sejauh ini memang begitu. Agak aneh aja kalau hidup jadi mudah.

Ungkapan cinta di sini jauh dari kesan egoisme. Pun bagaimana cinta itu muncul adalah dari kebaikan orang lain meski ahjussinya juga sedang dalam kehidupan yang tidak baik-baik saja.

Seorang gadis dengan pengalaman pahitnya yang ketemu sama orang yang baik sama dia, rasanya hidup gelapnya jadi diterangi cahaya bulan. Pengalaman melihat manusia di sini adalah karena Mbaknya diperlakukan sebagai manusia. Sehingga cintanya adalah cinta yang membebaskan. Hanya ingin ahjussinya kesayangannya menjadi bahagia.

Sebuah drama yang bisa-bisa dengan bedebahnya mengoyak-oyak perasaan ini mampu bertahan lama di kepala saya.

Ada keindahan dari kesedihan.

Dan kalau saja banyak manusia menyadari bahwa tiap hubungan entah apapun itu adalah anugrah. Pasti kita-kita akan diberikan otomatis oleh kehidupan dengan pandangan melihat manusia-manusia yang lebih banyak. Karena sama-sama tahu bahwa menjadi manusia dengan nurani adalah yang terbaik yang bisa dilakukan.

“What a wonderful relationship you have with him. And so precious,too. If you take the time to think about it each and every interpersonal relationship is quite fascinating and precious. You must repay them. Live a happy life. That’s how you can repay the people in your life.” Ucapannya Nenek Mbaknya saat di panti jompo, tentunya dengan bahasa isyarat.

Kepedihan dalam drama ini rasanya ingin disingkirkan sekaligus ingin dipeluk. Tidak ada yang kalah dan menang dalam hidup. Orang-orang menghadapi arenanya masing-masing.

Saya juga belajar pada Ahjussi bahwa bahagia adalah tugas masing-masing manusia. Kita harus selesai dengan itu. Jika tidak, kesepian yang dirasakan akan ditularkan dengan orang terdekat tanpa disadari.

Uniknya. Meski ahjussi tidak pernah benar-benar merasa bahagia dalam hidupnya, dia masih benar-benar membagi kasihnya dengan saudara, kawannya, orang-orang di sekitarnya. Maka ketika tahu Ahjussi dikhianati oleh istrinya. Bukan hanya ahjussi yang terluka. Tapi juga orang-orang yang mencintai ahjussi. Dua kakaknya sama-sama merasa dikhianati karena saudaranya diperlakukan demikian buruknya.

Hal-hal seperti itu pun menular pada penonton seperti saya.

Penutup.

Aaahh yaaa. Drama ini terlalu bagus. Bahkan ostnya juga.

Lagi-lagi saya tanyakan soal pengalaman pertama kali melihat manusia.

Pernahkah kalian merasakannya? Pernahkan kalian melihat manusia yang benar-benar manusia karena perilakunya? Kemudian jatuh cinta padanya dengan ketulusan dan harapan sederhana bahwa manusia itu akan juga melihat manusia di dalam orang lain. Bahkan dirinya?

Kalau benar hidup adalah pengalaman yang menakjubkan. Maka saya pikir melihat “manusia” adalah salah satunya.

Saya harap kita tidak buta untuk melihat mana-mana yang benar-benar manusia. Kemudian dengan kesadarannya, kita juga mau melihat manusia itu dalam diri kita sendiri.

*mungkin tulisan ini bakalan nyambung kalau kalian sudah nonton dramanya. Yokklah nonton buat yang belum.

*kemudian nyanyi ostnya. *nulis apa sih sayaaaaaa….

You May Also Like

4 Comments

  1. Ku juga udah nonton momo. Emang bagus dan ngena. Tema percintaannya juga unik, menceritakan si tokoh dewasa 40 dan si muda (20th an?). Sebenarnya bukan percintaan juga, namun lebih deep ke percintaan yang genuine, tentang memberi, tentang menjaga dan tentang ketulusan.

    Walaupun ku bukan “anak perkoreaan ” but the film is good for the people who want understanding about genuine.

    1. Iya. Bukan percintaan juga. Ini kebanyakan kisah yang bikin patah sih. Nah ahjumma yang punya kedai sedangkan mantan kekasihnya memilih jadi biksu di kuil juga “ngena”.

      Yang sama-sama gagal awalnya dalam karir kayak Oppa mantan sutradara dan aktris yang sering gagal juga ngena.

      Yeeepp sepakatlah. Emang bagus, malah beda dengan drakor pada umumnya.

  2. Menurutku ini film terbaik IU yang pernah ku tonton mbak..

    Pas bagian ahjussi mukul si rentenir itu loh.. Aduh hatiku ikut hancurr.

    Mungkin sama kagetnya kalau kita biasa dikelilingi orang baik, terus kenal sama orang yang kayak monsters “bukan manusia”

    Naluri membenci juga akan mengalir dengan sendirinya kan. 😁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *