Penulis Rentan Bunuh Diri? Bloger Apa Kabar?

Tuhan, jangan katakan padaku bahwa alasanku menangis pada hari pertama aku lahir di dunia adalah karena menyesal sudah dilahirkan sebagai manusia.

Apa yang ada di dalam pikiran orang kebanyakan ketika menggambarkan seorang penulis? Seseorang yang banyak menghabiskan waktu seorang diri? Menulis sepanjang hari? Orang yang punya dunia sendiri? kutu buku? Atau bagaimana?

Penulis dan dunianya

Agaknya bukan sesuatu tanpa alasan jika ada yang bilang bahwa penulis nampak memiliki dunianya sendiri. Hal ini bisa jadi karena penulis adalah seorang pencipta. Kemudian pada prosesnya dialah yang menentukan apa yang terjadi pada karakter-karakter yang diciptakan.

Saya pernah menulis di tulisan yang ini bahwa manusia selalu memakai topeng, disadari atau tidak. Tugas penulis apabila membangun sebuah karakter adalah dia harus tahu betul apa sih topeng yang sedang dipakai sama karakternya. Penulis harus sadar akan topeng yang dimiliki karakternya hingga cerita selesai. Bukan hal yang mudah.

Artinya apa?

Intinya penulis harus tahu “kedalaman karakter” itu sendiri. Tahu betul lapisan-lapisan apa yang dibuat hingga membentuk sebuah karakter. Tak cukup itu, penulis harus tahu “hasrat” apa yang menggerakkan karakternya hingga jadilah sebuah jalinan cerita.

Sering dijumpai bahwa ketika melakukan riset, penulis bisa melakukan hal apapun demi “kedalaman” tadi. Aan Mansyur yang sukses membuat puisi Rangga dalam AADC 2. Seingat saya dia pernah bilang tidak bercermin sekian lama demi “merasakan topeng Rangga”. Contoh lainnya Dee Lestari yang menjadi anak kos-kosan demi karakternya dalam novel perahu kertas. De el el. Apa kalau saya nggak bercermin bisa jadi Dian Sastro ya? emmm…

Itu proses menggali karakter dan cerita. Kalau proses menulisnya sendiri, Raditya Dika pernah ke luar negri hanya untuk tinggal di hotel dan bisa menulis dengan tenang. Alitt Susanto sampai main ke negara yang penuh dengan polusi udara hanya demi merasakan “keresahan” demi ide menulisnya.

Penulis kayaknya punya dunia gitu ya? dunia yang dia buat dan dunia nyata yang sedang dijalani. Kalau tidak bisa menjaga jarak antara dunia nyata dan dunia yang sedang dibangunnya sangat rentan stres. Sangat rentan dengan gangguan psikologis.

Gimana nggak stres? Kebanyakan orang menjauhi masalah (keresahan), eh penulis malah mencari masalah. Karena di situ ada konfik, di situ ada cerita yang bisa dibangun.

Masalah pergaulan? Ada kalanya hubungan sosial juga harus rela dikesampingkan bukan? Kalau memang sedang “bekerja” maka penulis benar-benar membutuhkan waktu sendiri dengan pekerjaannya.

Gangguan psikologis hingga bunuh diri

Penulis itu hidupnya harus siap dihantui. Dalam bukunya Ubur-Ubur Lembur, Raditya Dika mengaku bahwa ketika menulis, dia merasa dihantui. Saat membentuk karakter dalam Malam Minggu Miko, tiap kali dia dihantui banyak pertanyaan tentang Miko. Nanti Miko ngapain? Mau nulis apa lagi?

Putus asa dalam proses kreatifnya pun bisa saja terjadi. Dee Lestari mengaku pernah merasa tidak sanggup menamatkan supernova. Kalau kamu pernah baca, ada jarak yang amat lama hingga seri ke-4 nya terbit.

Begitulah, pembaca bisa saja menilai ini bagus dan itu tidak bagus hanya membaca dalam hitungan hari atau jam. Penulis? Butuh waktu yang amat lama untuk mewujudkan ceritanya sebelum hadir di depan pembacanya.

Kalau ditulis di sini tentang siapa-siapa saja penulis besar yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri kesannya nggak enak banget ya? Namun, menurut beberapa sumber yang saya baca. Biasanya sebelum melakukan aksi bunuh diri, umumnya para penulis ini menunjukkan beberapa gejala. Gejala ini nampak pada tulisan-tulisan terakhir mereka yang tidak jauh dari kekosongan, kehampaan, kesunyian bahkan tentang kematian itu sendiri.

Ada apa dengan kekosongan, kehampaan, kesunyian bahkan kematian itu sendiri?

Bagi saya, nggak ada hal aneh dari hal-hal di atas.

Kekosongan misalnya, saya pikir itu adalah hal yang wajar. Kosong, mungkin akan terdengar mengerikan ketika dihadapkan pada cara pandang hidup mengenai “apa-apa saja yang dimiliki seseorang” atau “apa-apa saja yang melekat pada orang tersebut”.

Cara pandang kebanyakan adalah dunia yang kita tinggali ini seperti etalase besar yang berisi hal-hal yang bisa dimiliki atau tidak. Makin banyak yang bisa dimiliki makin bagus, berlaku juga sebaliknya.

Tapi, bukankah karena kekosongan itu ada, maka ada tempat bagi yang lainnya? Sebuah pintu ada karena ada bolong pada dinding, bukan pada papan penutupnya. Pun jika kita perhatikan baik-baik saat hujan, alam selalu memberikan kekosongan lebih besar daripada tetes hujan itu sendiri. Disebut hujan, karena tetes airnya tak mampu menyaingi kekosongan itu sendiri.

Apa lagi? Kesunyian? Kehampaan? Tidak jauh dari rumpun kekosongan tadi. Berapa banyak orang yang butuh kesunyian demi menemukan kedamaian? Belajar meditasi, tekhnik pernapasan dan hal semacam itu demi sebuah ketenangan.

Kesunyian amat dekat dengan ketenangan. Dan disaat tenang inilah kita bisa benar-benar tahu gerakan sekecil apapun bisa menjadi sebuah informasi.

All profound things and emotions of things are preceded and attended by silence. Iyo orak?

Apa lagi? Kematian?

Kematian. Kematian adalah cara Tuhan menyeimbangkan alam. Kebayang nggak? Dari awal kehidupan nggak ada yang mati. Kematian, bukan sebuah hal yang aneh atau asing dalam kehidupan, namun pembicaraan mengenai tema ini acap kali dihindari.

Dan yang saya ingat-ingat tentang kematian adalah kalimat ini ; “Segala sesuatu yang pasti akan terjadi, berarti itu dekat. Kematian adalah kepastian. Maka, mati adalah dekat, lebih dekat dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam hidup.”

Masalah dalam hidup

Pemicu bunuh diri itu banyak, bisa dari gangguan kejiwaan (bipolar, depresi berat, anoreksia nervosa, gangguan kepribadian ambang, skizofrenia) atau faktor lainnya. Bisa di lihat di sini untuk lebih jelas.

Kalau penulis, kebanyakan memang sudah mengalami gangguan psikologis, depresi berat hingga bipolar. Sila baca di sini.

Tapi lepas dari bagaimana penulis rentan melakukan bunuh diri dengan masalah-masalahnya, bukankah hidup itu sendiri memang nggak pernah jauh dari masalah?

Mungkin, orang yang pertama membuatmu tertawa hari ini, pada malam harinya menangis sepanjang malam karena suatu hal. Orang asing yang tersenyum padamu hari ini, kemarin kehilangan ayahnya. Seseorang yang nampak tenang duduk di bangku kereta di sampingmu, ia pulang karena ada anggota keluarganya yang sakit keras.

Orang-orang yang kita temui bisa nampak biasa-biasa saja. Kita tidak pernah tahu beban apa yang sedang mereka pikul. Kita mungkin nggak akan pernah ada di level tahu bahkan paham tentang masalah orang lain. Kesimpulan kita bisa jadi hanyalah “kita sama-sama sedang berjuang”.

Mungkin nggak salah lagi Plato pernah ngomong “be kind, because everyone is fighting a hard battle.”

penulis rentan bunuh diri

Manusia dan bintang di dalam kantongnya

Salah satu dialog dalam drama yang saya tonton mengatakan bahwa dia (seorang Ibu yang mengalam kesedihan mendalam karena kehilangan anaknya) berkata “Setiap hari saat bangun tidur, aku berjanji pada diriku untuk hidup dalam satu hari itu saja hingga tidur kembali.” Begitulah dia mengulang janjinya hingga dia tidak memiliki pilihan untuk menyerah dengan mengakhiri hidupnya.

Dalam drama lainnya, seorang anak bertanya pada Ibunya, mengapa Ibunya tidak menyerah dengan kondisi yang ada. Sang Ibu menjawab, “Tiap kali memikirkan untuk menyerah, Ibu selalu mengeluarkan bintang yang Ibu simpan di dalam kantong. Dengan begitu, dia bisa ingat bahwa setidaknya pernah ada seseuatu yang membuatnya bahagia.”

Jadi, bagaimana? Kamu punya bintang di dalam kantongmu?

(Sebuah curhatan perspektif)

Iyoosehhh, saya nggak punya karya yang tulisan yang daebak gitu. Nulis 400-600 kata aja sudah bikin mumet. Ngelihat draft yang nggak kelar dari tahun 2015 aja rasanya iyuh banget. Punya blog aja merasa dihantui nanti mau nulis apa lagi? Nulis ini selesai, eh kagak jadi di post karena merasa “anu”. Baca tulisan lama bikin kaget sendiri, kenapa bisa buat beginian? Wgwgw…

Tapi, terlepas melihat banyak kasus bunuh diri yang menimpa para penulis atau bagaimana penulis sangat rentan terhadap stres. Saya lebih memandang bahwa menulis adalah kabar baik.

Saya pernah membaca tulisan mendiang Rusdi Mathari di mojok(dot)co yang sedang berjuang dengan sakitnya. Anehnya, saya merasa itu adalah “kabar baik” darinya walaupun dia sedang sakit saat itu. Saya merasa ada yang hidup dalam tulisannya walaupun dia sedang sakit.

Jadi, para bloger apa kabar?

Bloger yang masih menulis adalah bloger yang memberikan kabar baik bagi para pembacanya. Mungkin, kalau ada ada bloger yang tiba-tiba menarik dirinya dari aktivitas menulisnya tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Setidaknya, sebagai pembaca, kita bisa menanyakan hal sepele.

Seperti… Apa kabar?

Jika masalah dalam hidup adalah seperti tetesan hujan. Kita semua sama-sama kuyup. Tapi, bukankah Tuhan selalu memberikan ruang kosong lebih besar dibandingkan volume air itu sendiri?

Lagi pula, manusia selalu berpotensi sebagai benih. Saya atau kamu tidak pernah tahu titik-titik hujan yang mana yang mampu menumbuhkan kita bukan?

Selamat jalan untuk orang-orang yang sempat hadir dengan tulisannya, sebelum berpulang.

16 komentar pada “Penulis Rentan Bunuh Diri? Bloger Apa Kabar?

  • 09/08/2018 pada 12:40 PM
    Permalink

    suka nih sama kata-kata ini, “jika masalah dalam hidup seperti tetesan hujan. kita semua sama-sama kuyup.”

    penulis rentan dengan stres ya. heuheu. Aku berdoa semoga mbk mo baik-baik terus.

    Balas
  • 09/08/2018 pada 3:20 PM
    Permalink

    ah iya barusan kepikiran semacam ini, penulis, aktor, artis, sutradara, komedian, penyanyi dan ragam publik figur lainnya memang rentan mengalami depresi hingga mencapai derajat bunuh diri. Dari tulisan mba momo aku kok jadi menarik satu benang merah ya, mereka itu mendalami tokoh atau karakternya terlalu dalam.

    Lapisan topengnya terlalu tebal sehingga dia kehilangan dirinya sendiri. Kebingungan mencari kesejatian dirinya. Hmm bisa jadi mereka gagal menemukan dirinya sendiri dalam kehampaan, kekosongan.

    Balas
    • 09/08/2018 pada 5:50 PM
      Permalink

      asik nih ada yang menarik kesimpulan. hahahhaa…
      terima kasih bang dip
      iya, setuju. topeng yang amat tebal sampai lupa yang sejati.

      *eh ini udah level seejating sejatining, jadi ingat sebuah buku. hahahaha…

      Balas
    • 10/08/2018 pada 5:38 PM
      Permalink

      Saya sependapat dengan sampean mas. Mungkin mereka para publik figur yg sampai bunuh depresi, terlalu dalam menjalani peran hingga lupa pada jati diri mereka.

      Balas
    • 10/08/2018 pada 2:18 AM
      Permalink

      serius, yang komen kece banget.

      terima kasih sudah membaca.

      Balas
  • 09/08/2018 pada 7:16 PM
    Permalink

    semua orang punya masalahnya sendiri.

    Q nangkepnya yang ini banget. Semoga setiap masalah bs teruraikan. Amin. 😇

    Balas
    • 10/08/2018 pada 2:17 AM
      Permalink

      aamiin….

      Balas
  • 10/08/2018 pada 2:51 AM
    Permalink

    Iyuuu banget kalau di kepala udah ada kalimat ‘nulis apa lagi ya’, ‘kok garing gini ceritanya’. Kalau tetap diterusin bakal depresi. 😁

    Keren ni tulisannya.

    Balas
    • 10/08/2018 pada 4:21 PM
      Permalink

      kalau gitu. biasanya saya sih ditinggalin tulisannya.
      nunggu kapan-kapan untuk diselesaikan.

      terima kasih sudah membaca 🙂

      Balas
  • 15/08/2018 pada 2:33 PM
    Permalink

    itulah kenapa aku lama nggak nulis… takut stress karena tulisan nggak onok sing genah :mrgreen:

    Balas
    • 16/08/2018 pada 6:14 AM
      Permalink

      Bu Dyah bisa aja.
      nggak ono sing genah. aku yo podo… hahaha….

      Balas
  • 09/02/2019 pada 7:15 PM
    Permalink

    Saya suka nulis, aktif di ig hampir setiap hari saya menulis, entah puisi atau quote untuk diri saya. Setiap buka instagram sama memikirkan apalagi dan apalagi, membuat ku terjadang lelah terhadap diri, sementara beban yang lain dibelakang teriak untuk diperhatikan.

    Terimakasih sangat menginspirasi
    Komen-komennya juga membuatku berenergi

    Bahwa hidup bukan tentang apa yang kita hasilkan tapi apa yang kita kerjakan

    Diri ini butuh perhatian, bukan untuk pencitraan ❤️

    Balas
    • 10/02/2019 pada 7:26 AM
      Permalink

      semangat Novia 😊😊😊😊

      Balas

Tinggalkan Balasan