Perempuan Usia 50 Tahun

Perempuan Usia 50 Tahun  – Yang terbayang saat usia saya nanti 50 tahun bukan wajah, bukan apa saja yang telah saya capai, atau bagaimana orang-orang yang ada di samping saya. Siapa mereka? Bagaimana mereka?

Bukan.

Bukan hal-hal begitu. Justru yang terbayang pada kepala saya adalah apakah saya bisa mencapai usia tersebut. Apakah saya masih diberi detak jantung di usia 50 tahun. Eemm… jujur aja, saya pernah bilang pada Tuhan, jika usia bisa diminta, tolong wafatkan saya sebelum Bapak. Saat itu saya masih muda dan mendengar satu kalimat yang sebenarnya cukup menyakitkan dari mulut Bapak. Hingga secara spontan saya memohon pada Dia. *belum apa-apa sudah curhat.

Ada Kalanya Saya Merasa Begitu Dekat dengan Kematian

Bukan di saat musim corona kali ini.

Jauh sebelumnya, saya merasa benar-benar akan mati saat sakit. Saat itu saya mendekam beberapa hari di ruang HCU. Saya hanya merasakan sangat berat. Badan saya terasa berat dan sangat haus. Saat itu saya membayangkan diri saya “berpulang” saat tertidur. Karena untuk “terjaga” dari tidur itu sulit sekali.

Selanjutnya, masih saat sakit juga. Hanya saja di rumah. Demam saya mencapai 39,9 derajat. Itu rasa-rasanya nggak karu-karuan. Satu malam terasa begitu lama. Tidur susah dan segala macam pengobatan belum bereaksi dengan baik.

Saat itu saya bilang ke Emak, “Saya nggak kuat.”

Emak saya pun beberapa hari sebelum saya bilang nggak kuat. Dia menangis di depan Bapak, ia menangis sambil berkata. “Masa udah besar, terus mati.” Begitulah. Itu pun kata Mbak saya.

Padahal. Semuanya akan mati, bukan?

Ada juga masa di mana saya benar-benar diingatkan kembali soal kematian. Saat di klinik anestesi. Saya sedang menunggu untuk masuk ruang operasi. Di depan klinik mata saya membaca bagan, bagaimana prosedur operasi. Di dalam bagan digambar bahwa ada dua ruangan setelah operasi selesai. Salah satu ruangannya adalah kamar jenazah.

Yha…

Saat itu. Saya ingat mati kembali. Bukan soal jenis sakit dan operasinya. Ini murni ingatan saya bahwa mati itu dekat sekali.

Baca Juga : Sedikit Tentang Kematian

Oh ya, stop dulu bicara kematian?

Eeh bentar ada tambahan.

Teman saya pernah bersedih karena kehilangan bayinya. Sebagai orangtua, ia sedih sekali. Kemudian entah angin dari mana. Kalimat yang keluar dari mulut saya adalah…

“Anak yang ditinggal Bapak disebut yatim. Anak yang ditinggal Ibu disebut piatu. Istri yang ditinggal suami disebut janda. Suami yang ditinggalkan istri disebut duda. Tapi dari sekian banyak sebutan, tidak ada sebutan untuk orangtua yang ditinggal anak-anaknya berpulang. Orangtua menyandang nama orangtua sampai tidak ada batas waktu. Begitulah mereka, entah itu anaknya masih ada atau tidak. Gelar orangtua itu tidak akan pernah dicabut siapapun bahkan ketika anaknya pergi lebih dulu.”

Nangis lagi teman saya.

Saya keknya bukan penghibur yang baik.

Nahh. Sudah dulu ngomongin soal mati.

Kembali ke soal usia perempuan usia 50 tahun

Jadi perempuan di Indonesia itu banyak ditakuti. Belum lagi kami-kami selalu dalam cengkraman patriarki. Beberapa sudut panjang umum sering kali diambil dari sudut pandang lelaki. Misalnya, makin kamu tua, makin kecil peluang kamu untuk menikah dan bahkan punya anak.

“Nikah… kamu sudah tua. Nanti melahirkannya susah lho kalau udah tua.” Begitulah ucap salah satu perempuan.

“Kalau kamu nggak punya anak juga. Kasihan nanti anak kamu pas bagi rapot. Masa ibunya sudah tua banget. Kalau masih muda nanti dikiranya kakaknya.”

Ini kalau saya lanjutin bakalan panjang nih. Tapi segitu aja. Takut pembaca gumoh baca tulisan saya yang suka nggak jelas ini.

Bukan hanya dari mulut orang lain aja. Kadang saya mendengar ucapan-ucapan aneh dari mulut perempuan itu sendiri saat memandang dirinya. Misalnya, perempuan usia 50 tahunan merasa sudah tidak pantas pakai pakaian warna cerah. Karena menurutnya warna itu hanya untuk anak muda saja.

Kenapa ya? kadang perempuannya saja suka nggak adil sama diri sendiri. Padahal sama sekali nggak ada larangan perempuan mau pakai baju dengan warna apa. Bebas bukan? Bukan kalau sudah tua hanya pakai pakaian warna tua doang.

Adalagi, untuk merawat tubuhnya saja. Perempuan agak membatasi diri. Kayak gini misal, “Aduhhh, buat apa? sudah tua. Anak saya sudah banyak.”

Nggak logis bagi saya. Kenapa urusan merawat tubuh hanya jadi urusan perempuan-perempuan muda? Urusan merawat tubuh bukannya masih milik manusa yang punya tubuh? Terlepas dari umur, apalagi gender.

Makanya, para lelaki di luaran sana. Jangan malu pakai skincare. Lah, kalian makhluk dengan kulit kok. Masa iya nggak dirawat kulitnya.

Melihat Kim Hye Soo di usianya yang sudah 50 tahun dalam drakor Hyena (2020)

Saya lagi nonton salah satu drakor on going judulnya Hyena (ini tayang di Netflix). Mbak Kim ini salah satu kesukaan saya sejak dia main di drakor Style (2009). Yep, sejak usia belasan tahun, saya sudah melihat wajah Mbak Kim.

Melihat wajahnya kini, nggak terlalu ada perbedaan setelah 11 tahun berlalu. Sama sekali nggak beda jauh. Btw, kalau yang nggak tahu Kim Hye Soo, dia main drama korea Signal.

Setiap nonton episode Hyena. Saya berdecak kagum dengan banyak hal, termasuk keterampilannya Mbak Kim dalam mengolah perannya. Apalagi dia main bareng sama aktor kesukaan saya zaman belasan tahun juga.

Fix.

Saya bucinnya drama Hyena.

Ini yang lawan mainnya yang main Kingdom (memerankan Lee Chang).

ahjussi ini bikin saya gila. hahahha

Pemeran utama perempuan umurnya 50 tahun, pemeran utama lelaki 38 tahun. Tapi saya nggak lihat ada perbedaan usia diantara keduanya. Gilaaak… mereka main mantul banget. Pengen tak gigit rasanya. *gimana caranya ya?

Bukan hanya Mbak Kim guys. Gong Hyo Jin aja sekarang udah 39 tahun (40 tahun usia korea) dan masih nampak muda. Dia masih bersinar setiap kali main drama.

Perempuan yang Memancarkan Kemudaannya

Menjadi tua jelas menarik. Saya sudah ubanan sejak umur 26 tahun. Kalau ada uban kelihatan, saya nggak mencabutnya sama sekali.

Memungkiri dari melemahnya tubuh, keriput dan teman-temannya seiring berjalannya waktu juga bakalan jadi pekerjaan yang melelahkan.

Tapi saya percaya bahwa perempuan bisa terus memancarkan aura mudanya dan hal-hal kayak begitu nggak bisa diperoleh dari perempuan yang memandang dirinya tidak layak untuk ini dan itu. Tidak pula menggantungkan kebahagiannya dengan mata-mata orang lain.

Ahh yaaa… kalau saya 50 tahun ya..

Terlepas jatah detak jantung saya berapa, habis diusia berapa. Karena nggak tahu, mending mundur saja di usia saya sekarang yang mau 30 tahun.

Di usia saya saat ini, keinginan saya sederhana saja, bisa sehat secara fisik dan mental itu cukup. Yha, walaupun nggak bisa dipungkiri juga pengen selalu muda kayak Mbak Kim, Gong Hyo Jin atau Sophia Latjuba.

Karena kesehatan adalah kesetiaan pada kehidupan.

 

 

You May Also Like

12 Comments

  1. Kirain beliau itu 40an, lah noona ternyata, 50 malah, aweeetnya

    Ini juga on going kdrama yang asik si. Tadinya ga minat krn capek dr drama kriminal ke pengacara tp eh lucu haha

    1. alhamdulillah mantannya Song Jong Ki nolak jadi pengacara Jung. akhirnya Mbak Kim yang main.

      apalagi epsd 8 rin. saya saya sayaa terkejooddd sama mereka 🤣🤣🤣

      #gelaaa bahas drama sampe berapi-api

      1. omg aku liat komentar itu dmn2 wkwk, dan uniknya netizen juga pada seneng mantannya Mba Song Hye Kyo ga ngambil tawaran Kingdom, jadi mas Ju Ji Hoon yang main, lah malah makin lebar tidak jelas wjwkw

        Ho’oh, aku kurang familiar sama mbak Geum Ja ini, jadi kurang excited buat nonton, tp pas nonton malah fall in love, lah hahahaha, cocok bgt yang mainin beliau

        1. Mas Ji Hoon emang pinter pilih drama nih. Akutu udah bucin dari zaman SMA cobaa waktu di main jadi Lee Shin di Goong (princess hours). Terus dia pakai jas di Hyena, hadddduhhh saya pusing dia ganteng banget 🤣🤣🤣🤣

          Tak bayang misal Song Hye Kyo yang jadi Geum Ja, kayaknya kurang cocok, kurang kuat, kurang ngena nantinya. Kurang greget nantinya 🥳.

          Tak sabar akutu nonton episode 9. aaaakkkk. Netflix drakornya kece-kece sih 🥺🥺🥺

          1. princess hours iconic pokoknya huhu, bayangin udh belasan tahun tp masih suka nonton klipnya di YouTube T.T

            wkwkwkwk, kayaknya wlupun semua aktor bagus, emg ada ‘magnet’ khusus tiap aktris dgn genre tertentu, klu SHK cocok melodrama gitu

            ughhh ini gak enaknya on going, harusnya aku nonton pas udh slsesai aja wkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *