Perjalanan Membaca

“Kalau saja saya tidak punya kebiasaan membaca. Saya hampir meyakini bahwa saya tidak hanya bodoh dan miskin. Melainkan juga seorang bajingan.”

Begitulah ucapan saya saat mengendarai motor. Saya saat itu sedang bercakap-cakap dengan perempuan usia 27 tahun yang sedang bingung soal pilihan hatinya.

Tulisan saya kali ini tidak menyoal teman ngobrol saya tadi. Tapi tentang saya dalam perjalannya mambaca.

Soal ucapan saya itu. Bukanlah seonggok kesombongan. Melainkan ada etape-etape dalam hidup yang membuat saya bersyukur sekali tentang kebiasaan membaca.

Sedemikian Berarti Sekali Membaca Itu

Saat SMP uang jajan saya sering habis untuk membeli tabloit.

Agaknya cukup nyambung dengan beberapa pekerjaan saya menyangkut tulisan tentang dunia hiburan.

Tidak menyangka sekali.

Saat SMP, entah sudah berapa komik saya “telan”. Sangat betah rasanya membaca komik, terutama komik jepang. Di saat SMA karena keracunan teman (sepertinya saya sedang mencari pembenaran), komik jepang yang saya baca sudah mulai aneh-aneh tuh.

Lepas SMA, saya masih baca komik  hanya saja mulai masuk ke dunia bacaan fiksi.

Usia 19 tahun saya sudah bisa cari uang jajan sendiri dan punya kemerdekaan untuk membeli buku, atau lebih tepatnya membelanjakan sesuatu sesuka hati, buku salah satunya.

Saya lebih suka beli daripada minjem. Kenapa?

Punya uang buat apa kalau nggak dipakai ‘kan?

Eh nggak sih, yang minjem juga ada. Tidak semuanya beli.

Seiring berjalannya waktu buku saya makin banyak. Lebih banyak dari lapisan wafer tango. Lebih banyak dari jumlah mantan kekasihmu. Tapi perlahan banyak yang saya lepas. Menyisakan sedikit sekali dari jumlah sebelumnya. Hanya beberapa saja yang saya biarkan untuk “tinggal”.

Teman saya bilang “sayang banget.” Menurut dia buku itu mungkin akan terpakai oleh anak-anak disuatu hari nanti.

Pemikiran yang nggak salah. Tapi pekerjaan melepaskan bagi saya adalah pekerjaan keharusan. Setidaknya saya pernah melepaskan hal yang “saya sayang banget.”

Itung-itung latihan tentang kewajaran dalam hidup. Kewajaran bahwa banyak hal yang akhirnya dilepaskan cepat atau lambat.

Perjalanan Membaca yang Sederhana

Saya mengawali membaca dengan hal-hal yang disuka. Kemudian saya melahap banyak sekali genre buku. Pokoknya tidak pandang bulu. Bahkan buku tentang agama-agama.

Cukup membuat kaget beberapa orang. Beberapa diantaranya ada yang berpandangan aneh. Apa salahnya sih emang? Seru padahal.

Ketika saya pernah ada dalam proses membaca apa saja. Selera “suka” menjadi berbeda dengan “suka” yang pertama. Paham nggak?

di atas kasur, ada buku dan duit. yaaa sudah jepret aja.

Merasa sudah kebanyakan baca genre yang saya “suka banget” nanti saya lebarkan lagi. Begitulah, semacam kembang kempis, karena kisah kembang tahu.

Artinya membaca apa saja kemudian mengerucut karena berkembangnya rasa ingin tahu. *Eahhh bikin istilah sendiri.

Tidak ada target dalam membaca. Satu buku bisa saya habiskan dalam beberapa hari atau bulan. Bahkan tahunan. Bukan karena masalah semangat, karena atmosfer dari buku beda-beda.

Ada beberapa buku yang tidak membiarkan pembacanya “selesai” di satu titik.

Pada Akhirnya, Perjalan Membaca Adalah Perjalan Spiritual

Menyangkut soal spiritualitas…. Emmm dahla, jangan jauh-jauh menyangkutkan pada agamawan atau rohaniawan.

Pola spiritualitas dipahami saja sebagai sesuatu yang tumbuh, berkembang, kemudian syukur-syukur berbuah.

Hal itu tuh deket banget sama perjalanan membaca. Betapa terlalu banyak hal yang saya syukuri akan hal itu.

Lah wong kalau nonton drakor saja. Drama yang saya demen biasanya drama yang memberikan “pengalaman membaca”. Saya menonton, sekaligus diberi banyak kesempatan “membaca”. Tidak banyak drakor yang demikian, tapi ada.

*duh gimana yaa jelasinnya? *Dahla lagi nggak bahas drakor ini.

Kalau Saja…

Kalau saja saya nggak demen sama membaca. Mungkin jiwa kegatelan saya untuk menulis nggak pernah ada. Kalian mungkin nggak akan pernah baca satu pun tulisan saya di blog.

Di beberapa momen saya mungkin akan menjadi manusia yang sangat tidak menyenangkan, bukan hanya di depan orang lain, tapi pada diri sendiri juga.

Lewat menulis, kadang saya merasa tulisan lebih indah dibandingkan wujud asli saya sendiri. Terkadang tulisan saya lebih artistik dari perwujudan saya yang abstrak.

Kalau saja saya nggak demen baca. Saya mungkin menjadi pribadi murung yang kerdil hatinya. karena perjalanan membaca, saya mencoba memaknai banyak hal dalam redaksi-redaksi kalimat lainnya.

Memaknai.

Bahwa tidak ada hal yang tidak berharga dalam hidup.

Tidak langsung pintar. Tidak langsung menjadi bijak. Tapi menjadi kreatif menjadi keharusan dalam hidup.

Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk ngejek diri saya sendiri yang mulai males baca sih yaa. Pokoknya, kalimat pembuka tulisan saya udah kayak mendaraskan doa. Jadi, saya harus rajin lagi.

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Comment