Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran)

Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran) – Seperti yang sudah saya tulisan di tulisan yang ini, bahwa tahun ini saya banyak melakukan audit kehidupan. Nggak cuma hubungan saya dengan sosmed. Tapi juga hubungan saya dengan barang. Kemudian belajarlah saya tentang hidup minimalis. Pelan sekali.

Ada komentar menarik saat saya buka youtube dan kontennya membahas tentang hidup minimalis. Seseorang berkomentar bahwa dia kepentok hidup minimalis karena miskin. Emmm… apakah hidup minimalis itu dekat banget sama kehidupan sobat misqueen?

Baca tulisan saya sampe abis ya! *hahah

Sebelum kepoin hal-hal berbau hidup minimalis, beginilah saya *contoh hubungan saya dengan barang.

#Saya dan Lipstik

Saya pernah punya lipstik hanya satu buah *warnanya agak orange. Isinya 8ml. Saya janji pada diri sendiri nggak akan beli lagi sampai habis, lipstik itu pun habis dalam waktu 11 bulan. Kenapa saya janji pada diri sendiri nggak akan beli kalau lipstiknya abis? Karena saya pernah beli lipstik, belum habis dan kedaluarsa. Rasanya sayang banget pas buang lipstik itu.

Para perempuan mungkin tahu bahwa ketahanan makeup setelah dibuka nggak berpatokan dengan tanggal kedaluarsa. Jika sudah dibuka. Maka umurnya akan memedek, walaupun tanggal kedaluarsa masih lama. Maskara misal, dia baik dipakai hanya 6 bulan setelah dibuka. Walaupun ED masih bertulisan sampai cicilan KPR lunas. Maksa pake? Biasanya baunya udah aneh. Bikin gatel kan bahaya.

Jadilah saya biasanya punya satu buah lipstik saja. Batasan maksimalnya adalah dua. *Satu warna tua, satu warna muda.

So, walaupun saya pengen banget beli warna lain sampe kebawa mimpi, sebelum yang lama abis, nggak akan beli lagi.

*setia banget kan saya udah kayak rexona. Setia setiap saat!

Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran)
sumber ; pixabay

#Saya dan mobil.

Uhuk…

Disaat teman-teman seumuran saya sudah punya mobil karena mampu nyicil atau beli. Saya membuat dua aturan keras.

  1. Saya nggak akan pernah beli satu mobil sebelum punya duit 7 kali lipat dari harga mobil yang saya mau.
  2. Jika nomor (1) terpenuhi dan ternyata bukan kebutuhan yang mendesak. Maka saya nggak akan beli. Tidak akan. Tidak akan pernah.

Kelar! Nggak ada drama.

Kenapa? Karena saya tahu punya mobil adalah masuk ke dalam hal-hal yang harus diurus berikutnya, bensin, pajak, ganti anu dan anu, pun asuransi. Saya nggak mau memaksakan diri kalau emang belum mampu.

Yohhh begitulah saya yang membuat batasan terhadap kepemilikan barang. Makanya, landasan pemikiran tentang hidup minimalis mampu membuat saya tertarik.

Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran)

Manusia dan kecenderuangannya akan memiliki barang

Selagi masih ada napas dikandung badan, manusia adalah makhluk dengan berjuta keinginan. Gaji naik dikit, daftar barang yang diingkan makin nambah. Bayangan tentang barang baru yang lebih keren dan tentunya lebih mahal makin nyata adanya.

Tapi, pada kenyataannya. Makin nafsu dipenuhi, sama sekali nggak ada kaitannya dengan kebagiaan. Sama sekali nggak ada.

Saya jadi ingat nasehat dari Jin pada Aladdin di film yang tahun 2019 ini tayang. Jin menasehati agar tuannya menghindari permintaan berupa harta. *saya lupa sih kalimat tepatnya.

Lalu, pernahkah kamu memikirkan hubunganmu dengan barang yang ada? Pun dengan barang yang kamu idam-diamkan apakah sudah benar-benar kamu butuhkan? Bagaimana hubunganmu dengan barang yang bahkan tidak pernah kamu sentuh sama sekali?

Beberapa pendangan tentang seni hidup miminalis yang saya dapat dari bukunya Francine Jay.       

Mempelajari seni hidup minimalis mengajak saya pada “kesadaran” mengenai hubungan dengan benda. Kesadaran yang mengajak kita untuk jujur. Hidup minimalis nggak berarti kamu pelit sama diri sendiri. Justru ada keberanian menjadi dermawan di dalamnya.

Mari sedikit diulas. Tapi ini berdasarkan bagaimana saya nangkepnya. Kamu bisa jadi punya pandangan berbeda setelah baca bukunya. *kalau mau saya punya ebooknya. *bisa japri di telegram @simomotaro.

  1. Hidup minimalis harus tahu kegunaan tiap barang yang dimiliki

Terdengar sederhana. Tapi sering sekali kita abai. Saya apalagi. Sering sekali saya abai membeli barang yang sudah ada dan akhirnya malah menumpuk. Kemudian berakhir menjadi barang yang gunanya malah bikin sesak saja.

Poin ini akan menghindarkan pada alasan membeli barang karena lucu. Kita akan terhindar membeli barang dikson kalau emang nggak perlu banget.

  1. Punya sedikit barang bisa mengurangi stres

Ini kaitannya dengan pemeliharaan. Hidup minimalis mengajak kita untuk belajar tanggung jawab atas barang yang kita punya. Memiliki barang berarti kita dituntut untuk membersihkan, merawat agar tidak mudah rusak/kotor. Menambah barang, menambah tanggung jawab.

Memiliki sedikit barang berarti kita belajar memerdekakan diri.

  1. Bahagia dengan kata “cukup”

Kalimat yang pendek tapi cukup “ngena” karena kaitannya sangat berkaitan dengan spiritualitas. Saya nggak akan ngomong banyak di sini. Karena cukup bagiku belum tuntu cukup bagimu.

  1. Hidup sederhana

Memiliki sedikit barang adalah salah satu prinsip hidup minimalis. Kita diajak membatasi diri dan berfokus pada hal yang esensial. Sebuah cara yang baik untuk meminimalisir budaya yang konsumtif.

Membebaskan diri dari keinginan memiliki kadang membuat kita bernapas lebih lega. Sederhana, ia tidak kurang, tidak pula berlebihan.

Perlahan Belajar Hidup Minimalis

Belajar hidup minimalis. Belajar hidup sederhana. Belajar bersyukur dan merasa cukup. Belajar memilah dengan kesadaran. Belajar menjadi pintu yang bijak di mana barang bisa keluar masuk.

Berdasarakan literatur yang saya baca, ada saja yang anti hidup minimalis dengan segala alasannya, ada juga yang minimalis begitu ektrim.

Posisi saya ada di mana?

Polisi saya adalah yang sedang merangkak menerapkan beberapa hal yang saya pikir bisa saya ambil tentang hidup minimalis. Kalau ada pembahasan tentang membuat “batasan”. Tentu saja batasan saya dan orang lain bisa jadi sangat berbeda. Cocok menurut saya, belum tentu cocok di kamu.

Maka perlanan belajar menerapkan hidup minimalis dalam perjalanannya akan sangat cair sekali. Nggak ada patokan yang sama “plek”. Tapi landasan pemikirannya pasti nggak jauh beda.

Ada kalanya, saya merasa seperti melawan arus. Bahkan arus dalam diri. Nyatanya musuh terbesar saya bukan di luar. Tapi di dalam. Ia adalah saya sendiri. Hal itu jelas terasa ketika saya harus belajar melepaskan beberapa barang yang ada dan melupakan keinginan akan barang yang jauh dari kata tepat guna.

Hidup mininamalis bukan soal miskin dan kaya. Tapi soal hubungan kesadaran antara manusia dan barang.

Lalu… saya kutip kalimat terakhir dalam buku.

Ketika hidup kita terlalu penuh. Kita pun tidak lagi punya ruang untuk mengumpulkan pengalaman baru, bahkan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri dan memperdalam hubungan kita.  Menjadi seorang minimalis membantu memperbaiki hal itu. Dengan mengeluarkan barang berlebih dari rumah, jadwal, dan pikiran. Kita berarti mengosongkan “cangkir” kita sendiri –  memberi diri kita kapasitas tak terhingga untuk hidup, cinta, asa, mimpi dan kebahagiaan berlipat-lipat.

Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran)
sumber ; pixabay

Sekian saja tulisannya.

Kamu tertarik baca bukunya? Atau tertarik menerapkan hidup minimalis? Atau sudah barangkali?

 

 

Satu komentar pada “Perlahan Belajar Hidup Minimalis (Landasan Pemikiran)

  • 18/07/2019 pada 6:43 PM
    Permalink

    Tulisannya keren Momo!! Klo aku dari dulu emang ga terlalu gampang tergiur sama brg atau diskonan. Misal beli baju harga 300rb buat aku mahal, tp giliran ada makanan enak porsi banyak dengan harga 300rb, langsung dibeli!! hahahah.. kebahagiaan aku terletak di makanan soalnya. Ada perasaan puas&bersyukur setelah kenyang. Tp aku jg minimalis kok, misal aku potong rambut sendiri, udah jrg bgt ke salon biar irit hihi..

    Balas

Tinggalkan Balasan