Cerita Momo perjalanan hidup minimalis Perlukah Membeli Baju Baru Untuk Lebaran?

Perlukah Membeli Baju Baru Untuk Lebaran?

Pas buka youtube udah ada iklan sirup. Pertandanya apa? Silakan artikan sendiri. Masa begitu saja harus dijelaskan. Kalian memang pembaca yang kurang mandiri!

Oke.

Belum lama Emak saya tanya ke saya tentang wacana baju baru untuk lebaran. Petimbangan punya kain/baju lebaran saat sekarang bukannya tanpa alasan logis. Semacam cari aman saja, karena menjelang lebaran biasanya “rame”.

“Rame gimana maksudnya, Mo?”

Lho kok pengen saya katain lagi kalian bukan pembaca yang mandiri? Hah?

Tapi ada momen panjang di kepala dengan pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana sekali. Perlukah membeli baju baru saat lebaran?

Kalau tanya ke teman saya, sebut saja K, jawabannya pasti perlu. Dia sering bilang nggak punya momen untuk beli baju. Lebaran bisa jadi alasan. Sebagaimana yang kita tahu, membeli baju baru saat lebaran adalah hal yang jamak. Terlebih ada gaji tambahan itu.

Lah kalau saya?

Mari jujur. Sama diri sendiri.

Satu. Saya Cukup Muak dengan Keberadaan Baju.

Bukan berarti saya lebih suka nggak pakai baju. Bukan gitu, sob!!!

Ada nasib yang saya akrabi betul. Bahwa urusan tumpukan baju kotor, urusan cuci-cuci, jemur-jemur, memperhatikan cuaca demi kemaslahatan jemuran, lipet sana dan sini, gosok-gosok adalah MURNI URUSAN SAYA!

Beda dengan susu murni yang sudah disterilisasi yang bisa jadi kalimat indah untuk promosi.

Murni di sini adalah semacam kerepotan-kerepotan hidup.

Kalau kalian membayangkan kerepotan ini bisa dibantu dengan mesin cuci. Buang jauh-jauh pikiran itu. Murni! Atas tenaga manusia dan bantuan matahari.

Kalau kalian membayangkan kerepotan ini bisa dibantu dengan kehadiran manusia lain. Buang jauh-jauh pikiran itu! kerumitan membagi pendapatan membuat saya harus menerima nasib murni repot untuk mengurus baju kotor.

Melihat baju-baju, seringkali membuat saya merasa jengah.

Kalau ada yang bilang, “Lho kok cucianmu banyak sekali?”

Jawaban saya pendek, “Karena saya masih hidup. Kalau sudah mati urusannya lain.”

Selesai.

Percakapan ini tidak berlanjut.

Dua. Saya Anak Penjahit.

Bapak saya penjahit, begitu juga dengan Ibu saya. Pekerjaan itu mereka lakoni sebagai keterampilan yang sudah tidak diragukan. Telah banyak manusia pakai baju karena keterampilan mereka.

Jangan dipikir jadi anak penjahit ini banyak enaknya.

Saya kecil yang masih TK. Selalu iri dengan teman-teman lain yang punya dasi kupu-kupi di seragamnya. Padahal sudah bisa dipastikan 80% anak-anak TK itu bikin bajunya di Ibu saya. Tapi, karena ribet sekali mengurus pelanggan lain.

Nasib saya sampai lulus TK itu tidak pernah berdasi.

Baca juga Tulisan yang Biasanya Banyak dicari Saat Ramadan.

Ada momen dimana saya merasa lelah dengan orang-orang. Seringkali permintaan untuk revisi baju jadi di hari menjelang lebaran. Biasanya pelanggan ini sudah beli baju jadi, cuma merasa baju mereka butuh perbaikan.

Lah sudah tahu nggak pas. Masih aja dibeli.

Ada yang lebih ajaib lagi.

Bawa kain mepet-mepet di hari menjelang lebaran. Mau ditolak tidak bisa dengan alasan-alasan seperti saudara sendiri atau alasan lain yang mana hanya orangtua saya yang paham.

Bayangkan. Jam tiga pagi, entah sudah beberapa lebaran. Saya masih melihat orangtua saya bekerja. Itu pun di malam lebaran.

Subuh-subuh mereka datang mengambil baju baru mereka.

Yang kerja orangtua. Yang kesal saya. Itulah momen-momen menjengahkan soal perilaku manusia, yang imbasnya adalah keengganan saya untuk sekedar punya baju baru.

Ketiga. Baju Saya Itu Banyak.

Sampai ada dua lemari isinya baju saya semua.

Saya sendiri heran. Kenapa bisa begini. Tapi kalau diperhatikan, baju-baju baru itu muncul sebab adanya baju seragam atau dikasih.

Seragam ini bisa muncul dari ada yang hajatan, dapat bagian, ya sudah akhirnya dapat baju. Dari tempat kerja, dapat kain batik, samaan, ya sudah akhirnya jadi baju batik baru. Ada acara olahraga, munculah seragam olahraga baru padahal yang lama belum busuk, akhirnya yaaa nambah lagi.

Ada juga hadiah-hadiah. Biasanya dari produk. Seringkali yang saya pakai dari PT Djarum. Ya dipakai, lumayan. Saya sudah sama tuh kayak Mamang-Mamang yang suka pakai kaos caleg. Bedanya kaos saya dari produk tertentu.

Saya juga punya hal-hal tidak terduga dari Emak.

Emak saya itu secara ajaib. Kadang-kadang tanpa aba-aba membuatkan baju. Tapi momennya ini agak “aneh”.

Misalnya. Saya mau ada jadwal operasi tanggal sekian. Itu Emak saya bikin setelan baju yang ada kancingnya dan bagian keteknya lumayan longgar biar infusnya nggak ribet masuk/keluar. Bikin celananya juga yang karet, nyaman sekali.

Oke itu adalah perimbangan yang sangat bijaksana dan fungsional.

Tapi. Motifnya itu lho. Macan tutul.

Ah ya sudahlah. Saya jadi punya setelan baru.

Intinya, stok baju itu banyak. Kalau ditambah lagi rasa-rasanya kurang bijak saja. Masih ada juga baju yang dipakai jarang-jarang. Jadi, kalau dipakai masih cakep aja.

Bajunya. Bukan orangnya.

Keempat. Hidup Minimalis.

Saya terakhir beli baju. Tahun 2019 bulan mei tanggal 1. Beli kaos tiga biji. Beli dua gratis 1. Bayar pakai ovo 150rb. Dapat cashback 50rb.

Kaos pendek polos, warna coklat, maroon, dan kunyit busuk.

Ketiganya masih dipakai sampai sekarang. Meski warna kunyit busuk sudah berubah menjadi kunyit yang sangat busuk nggak karuan.

Pada rentang waktu itu hingga saat ini. Bisa dikatakan saya tidak memerlukan baju yang mendesak. Baju-baju yang ada sudah cukup untuk keperluan harian dan acara-acara yang butuh baju khusus.

Merujuk pada kebutuhan. Saya tidak butuh dengan baju baru.

Perlukah Membeli Baju Baru Untuk Lebaran?

Setiap orang punya pertimbangan tersendiri dalam hidupnya.

Saya adalah tipikal orang yang tidak terlalu peduli untuk urusan tampilan. Keluarga saya juga bukan orang-orang ribet soal baju yang seragam. Malah kayaknya ogah-ogahan. Karena masing-masing punya selera.

Keinginan punya baju baru itu tetap ada, bahkan tidak usah menunggu momen lebaran. Apalagi pas jalan-jalan. Rasa-rasanya ingin beli Mal saja sekalian.

Lagi-lagi pertanyaan sederhana itu saya todongkan, “emangnya perlu baju?”

Jawabannya saat ini belum butuh.

“emang punya duit?”

Jawabannya adalah hahahahhahaha….

Kalau daleman baru, seringkali lebih dibutuhkan.

Yah sudah kuputuskan. Pilihan mana yang lebih bijak.

 

2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment