Rok Payung VS Rok Duyung

Rok Payung VS Rok Duyung – Ketika ideoligi dalam mengenakan pakaian benar-benar berlandaskan kenyamanan. Maka saya yakin jawabanya adalah pakaian-pakaian dalam arti bisa menunjang kegiatan dengan nyaman dan bahannya tidak bikin gerah, gatel, bahkan melukai.

Cukuplah Kaesang saja yang melukai Felicia. Pakaian kalian dan saya jangan ada dalam hubungan-hubungan seperti itu.

Sebagai pengguna pakaian dan perempuan. Ada dua buah rok yang memiliki model yang berbeda. Tulisan ini secara nggak serius-serius banget akan membahas hal itu. Apa gunanya?

Tidak tahu.

Dan saya bahagia saja jadi orang awam.

Pertama Rok Payung

Rok payung yang saya bicarakan adalah rok dengan potongan melingkar besar seperti payung. Diperlukan banyak bahan untuk membuatnya. Kalau butuh kain puring (bener nggak tulisannya?), maka butuh kainnya jadi dobel.

Kalin dengan lebar 1.5m sudah menjadi patokan resmi untuk membuatnya. Kalau nggak begitu, maka akan jadi setengah payung doang.

Saya punya beberapa rok model seperti ini. dibuatkan Emak tentu saja.

Pada proses pembuatannya, Emak membuatnya semata kaki. Bayangin aja, agak keseret-seret roknya kalau dipakai jalan.

Emak bilang hal ini erat kaitannya dengan estetika. Beliau banyak belajar dari melihat biduan dangdut di indosiar yang pakai gaun indah dimatanya.

Sayang sekali. Emak saya ini lupa satu hal yang amat sangat penting. Bahwa saya bukan biduan yang berjalan di panggung yang bersih. Saya hanya Mbak-Mbak biasa yang lebih sering bertemu becekan, jalan berlubang, dan hal-hal yang berkaitan erat dengan rakyat pada umumnya.

Alhasil, dibutuhkan alas kaki yang punya hak supaya bikin roknya nggak kotor. Ckckck.

Saya cukup tahu betul, kalau saya pakai alas kaki dengan hak tertentu, biasanya mengintimidasi orang lain. Beberapa orang enggan berdekatan dengan saya ketika dalam kondisi ini. Ogah, katanya saya membuat mereka nampak lebih pendek.

Hufff.

Untuk soal kenyamanan, rok payung ini bisa banget mengakomodasi segala gerakan. Mau split juga kayaknya oke-oke aja. Tapi kembali lagi ke penggunanya? Yakin, mau split pas pakai rok payung? Buat apa?

Pokoknya mau jalan cepat itu cukup mudah. Namun, karena bahan yang digunakan banyak, untuk duduk biasanya cepet kusut. Apalagi kalau duduknya menyilangkan kaki.

Rusak sudah nilai esktetiknya. Lebih baik berdiri terus kalau roknya nggak mau kusut.

Tttapii yakin mau berdiri terus?

Ngosoknya juga ribet. Puter sana dan sini nggak selesai-selesai. Udah kayak menggosok seluruh permukaan laut asia pasifik saking nggak selesai-selesainya bikin licin satu rok.

Yang paling nahas adalah saya pernah dibuat ketindihan motor pas pakai rok ini. Setelah pakai motor, saya parkir tuh yaa. Saya standar miring motornya, seperti biasanya. Malang tak bisa ditolak, ternyata saya nggak sadar standarnya menginjak rok saya yang ribet itu. ketika saya bangkit dari motor, mencoba pergi.

Settttttt….

Standar kebuka lagi karena tarikan rok yang ngikutin saya melangkah.

Motor jelas tidak ada keseimbangan. Tidak sempat antisipasi. Motornya jatuh tepat di sebelah saya. Saya sukses ketindihan motor.

Hari lebaran pulak itu. Saya parkir samping rumah. Dan di rumah tetangga lagi rame-ramenya. Jadi tontonanlah karena jatuh.

Sangat memalukan. Pun menyakitkan.

Rok Duyung

Lagi-lagi Emak saya yang buat.

Saya punya dua yang model seperti ini. Kedua-duanya batik. Rok payung pertama yang saya punya dari bahan yang harganya cuma 30k saja. Motifnya mega mendung, bukan mega best seller. Warnanya dominan hitam dengan mega mendungnya pink.

Kainnya cukup tipis. Butuh puring sebagai daleman.

Nahh. Emak saya ini cukup keterlaluan bikin rok duyung yang satu ini.

Gini-gini.

Roknya belum jadi. Belum dikasih ban (bagian perut). Saya cobain. Kalau belum bener-bener siluetnya kayak duyung. Itu jahitannya masih edisi revisi guys.

sumber : awesomeinventions.com/

Gitu terus sampai menurut Emak saya bagus.

Saya yang pakai oke-oke aja.

Ponakan saya bilang gini pas saya pakai, “waahh kakak kayak mermaid.”

Fix. Emak saya berhasil. Roknya memang cantik. Saya sampai pengen jadi duyung. Karena kalau nangis nanti air matanya jadi permata, ‘kan bisa dijual. Bisa buat bayar cicilan.

Sebagai manusia, air mata yang keluar paling-paling 95%nya adalah ongkos kegoblokan, sisanya paling karena ngiris daun bawang, ngupas bawang, kaki kepentok meja, mata kecokok, atau nguap. Udah.

Balik ke rok ribet ini.

Fokus siluet duyungnya berfokus di bagian lulut. Alhasil, untuk pipis nggak bisa (harus dilepas), untuk jalan nggak bisa kebut, untuk menaikkan kaki saya itu susahnya minta ampun (semacam naik step tangga). Sangat tidak mendukung ketika nyetir motor. Boro-boro bisa ngangkang. Yang ada nanti malah bikin kecelakaan. Parah emang.

Bila dibandingkan dengan rok payung, rok duyung butuh bahan yang nggak banyak. Dipakainya mepet-mepet badan gitulah.

Untuk rok duyung yang kedua punya potongan yang lebih lega. Tapi untuk urusan kenyamanan nggak banget. Untuk cakep dimata sih oke.

Rok Payung VS Rok Duyung

Dua-duanya sama-sama ribet.

Pada takaran-takaran tertentu, memakai salah satunya bisa berakibat fatal jika momen chaos terjadi.

Saya nggak tahu kenapa bisa nulis beginian. Cuma kepikiran aja. Mau bikin penutupnya juga bingung.

Yang jelas dua rok model itu jarang saya pakai. Masih enak pakai celana. Saya nggak suka sama rok kayaknya. Model apapun.

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Comment