Rumah Besar dan Bagus Namun Penghuninya Hantu

Rumah Besar dan Bagus Namun Penghuninya Hantu – Waktu pulang dari Yogyakarta dan jam tiga pagi baru sampai rumah. Saya baru benar-benar sadar bahwa kampung yang saya tinggali selama ini cukup menyeramkan di pagi hari. Terlebih, minim pencahayaan, jalan yang sedang kurang bagus, dan sepi abis.

Tapi mendingnya, rumah Ibu saya ini nggak masuk-masuk gang. Jadi saya tinggal turun di pinggir jalan tanpa harus jalan kali menyusuri kampung yang sepi.

Turun dari mobil, kasih tahu Abang Grab puter balik yang enak di sebelah mana dan ngomong kenceng banget. “MIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII…”

Yha segitu aja gambaran kampung saya yang lumayan sepi. Mencoba untuk menulis seram-seram tapi kayaknya gagal.

Ada Dua Rumah Besar di Kampung, Sayangnya Tidak Berpenghuni

Di kampung itu ada sepasang suami istri yang kaya banget. Punya rumah banyak banget, di kampung juga punya, di Jakarta juga banyak, suaminya bekerja di Lipp* Grup dan istrinya IRT. Di kampung, mereka punya kontrakan di daerah pinggir sawah dan dua buah rumah besar yang lokasinya di pinggir jalan kampung.

Rumah pertama letaknya lima rumah dari rumah Emak

Saya kasih gambaran aja. Nggak bisa kasih foto. Nanti saya diusut kan repot.

Rumah ini nggak karu-karuan gedenya. Besarnya adalah 1:5. Jadi, kalau jalan ke gang, rumah gede ini baru selesai sampai ujung ketika melewati 5 rumah tetangganya. Rumahnya lantai dua dengan garasi besar, taman depan yang besar dan bagian belakang juga cukup luas untuk pelihara hamster. Pokoknya luaslah.

Dulunya rumah ini punya salah satu orang kaya di kampung tapi sudah berpulang, awal modelnya rumah-rumah tua yang tinggi itu lho. Terus dibongkar sama pemilik barunya. Dibangun yang lebih modern, tapi dengan model rumah yang kacanya gede-gede banget kayak rumah mewah yang sering dipakai syuting indosiar.

Kalau saya pribadi, ndilalah pernah ketemu beberapa kejadian. Waktu kelas 6 SD mau ngaji (alhamdulillah biar begini saya pernah ngaji, hue), waktu itu habis magrib. Rumah sepupu saya bertepatan dengan bagian belakang rumahnya. Ada pohon pisang. Pohon pisangnya goyang-goyang sendirian, padahal hari itu nggak ada angin.

Mendingnya pas kejadian, bareng dua teman saya. Jadi lumayan nggak takut.

“Sudah, lanjoot ngaji saja. abaikan.” Begitulah. Kemudian kami ngacir sambil hati ketar-ketir.

maaf cuma punya gambar kucinggg

Masih kelas 6 SD juga. Waktu itu minggu pagi. Pagi masih belum benar-benar datang. Saya ke rumah sepupu saya lagi untuk jalan-jalan pagi bareng anak sepupu saya.

Kayaknya waktu itu saya kepagian. Udah ketok-ketok pintu tapi nggak ada yang keluar.

Akhirnya cuma bengong mandeng bagian rumah  di depan mata saya. Hingga keluarlah sosok nggak jelas dengan pakaian putih.

Nggak curiga.

Malah mikirnya “Ohh yang punya lagi pulang.”

Tapi dugaan ini dimentahkan juga di kepala. “Masa ya? bukannya belum musim liburan? Kok udah pulang? Terus siapa? Ngapain?”

Penasaran.

Saya dekati rumah tadi. Walaupun agak ketutup sama pager. Saya masih bisa lihat kalau ada orang dengan pakaian putih di dalamnya.

Mendekat.

Mendekat.

Kemudian ilang.

Apakah dia makhluk semacam gebetan? Baru didekati dua langkah aja terus menghilang?

Otak saya yang lelet karena belum sarapan. Akhirnya nggak paham juga itu apaan.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Karena saudara saya dipanggil kagak keluar juga. Saat di jalan… Saya berpikir. “Bukan orang kayaknya tadi. Mak!!!!!!”

Itu saya, nahh Kalau Mbak yang pernah kerja di rumah itu lain lagi. Begini…

Rumah besar itu jelas tidak berpenghuni. Ibu dari pemilik rumah itu punya ide. Jadi, kalau ada kegiatan nyuci baju. Nyucinya di rumah anaknya aja. Soalnya air kalau nggak dipake-pake kualitasnya jadi nggak bagus.

Mbak itu pun nurut aja nyuci di rumah gede. Kejadiannya siang bolong. Mbak pun mencuci dengan serius, sibuk gasak-gosok.

Hingga tbtb ada pria dengan menggunakan sarung datang ke sampingnya.

Pria itu bertanya. “Nyumba ta?” (Artinys, nyuci ya?)

Tak lama. Karena bengong nggak bisa jawab. Sosok pria itu menghilang.

Yhaa… saya mendengar langsung ceritanya dari Mbak sendiri. Karena saat pagi, Mbak ini kerjanya sama Emak saya. Usai kejadian itu, Mbak nggak mau lagi nyuci di rumah gede. Padahal kalau dipikir, hantunya lagi basa basi yang sesuai konteks lho.

Daripada ditanya, “Yaaakk kapan lu nikah Bambank?”

Seorang Gadis Asing Mengaku Pernah Menginap di Rumah itu Berhari-hari

Kabar ini cukup menggemparkan.

Katakanlah seorang gadis bernama Bunga (kagak tahu nama asli dia siapa) bertamu ke rumah besar ini. Jelas nggak ada orang yang bakalan buka pintu.

Hingga para tetangga yang di sekitar menunjukkan pada Bunga letak rumah orangtua si pemilik rumah.

Bunga pun nurut aja. Jaraknya nggak jauh. Cuma beda tiga rumah aja.

Kebingungan pun melanda Bunga, karena orang yang dia cari bukan yang dimaksudkan para tetangga. Bunga menunjuk pada orang/nama keluarga yang berbeda.

Orangtua sang pemilik rumah hanya menjelaskan bahwa rumah itu memang tidak dihuni. Pemilik aslinya tinggal dan bekerja di Jakarta.

Bunga awalnya nggak percaya. Karena dia mengaku kenalan dengan anak pemilik rumah itu dan menginap selama beberapa hari. Orang-orang di rumah itu pun baik hati mengizinkannya menginap. Dan kali ini adalah kunjungan Bunga yang kedua, ia datang bertamu lagi tapi dengan kehendak sendiri. Tidak seperti di awal yang langsung bareng-bareng sama yang katanya “anak pemilik” itu.

Bunga syok.

Para tetangga mendengar kabar ini dan menjelaskan pada Bunga. Siapa-siapa saja nama pemilik rumah besar dan nama ketiga putranya.

Semuanya nggak ada yang sama.

Akhirnya, Bunga sadar bahwa selama ini dia menginap bersama… yaaah itulah. Bunga bahkan menceritakan bahwa dia sungguh-sungguh menginap dan tahu lekak-lekuk rumah besar itu karena memang pernah tinggal beberapa hari.

Hal-Hal Ganjil Tentang Rumah Besar Nan Indah Ini Sudah Biasa Menurut Tetangga

Mulai dari sekelebatan orang di dalam rumah.

Suara orang ngobrol di dalam rumah.

Sampai aroma masakan di dalam rumah.

Sudah biasa, nggak ada yang aneh. Semuanya bahkan sudah berlangsung sebelum rumah itu wujudnya berganti.

Kalau kata para saudara yang punya rumah. Yang selalu aneh itu di lantai atas. Jadi, di atas itu ada kamar mandi dengan bathup.

Di kamar mandi itu, selalu aja kayak habis dipakai. Padahal logikanya harusnya kering.

Lha gimana? yang punya rumah aja enggan kok meninggali rumah ini. Terkadang mereka malah tinggal di rumah Ibu mereka.

Dan tulisan ini udah banyak aja. Padahal baru menceritakan satu rumah. Besok, saya ceritakan rumah keduanya yang posisinya di depan rumah Emak.

Yha Orang Kaya… Orang Kaya…

Beberapa orang harus ekstra kerja keras hanya untuk punya satu hunian. Beberapa orang diberi rezeki berlebih sampai nggak kehuni. Orang yang pertama melihat, mungkin akan berkata “wow”. Sementara beberapa orang lainnya enggan melihat karena takut melihat hal-hal yang lebih baik tidak terlihat.

Di Jakartanya juga sama saja. Punya banyak rumah tapi lagi-lagi tidak dihuni.

Padalah untuk Ruang yang Lama Tidak dihuni Auranya Sudah Beda, Apalagi Rumah ya?

Di rumah Emak, ada dua kamar yang tidak dihuni. Kadang, buat lewat aja nggak. Itu kalau tidur di situ rasanya aneh aja. Sedangkan ini rumah yang segede gitu.

Ya ampun.

Jadi, jangan biarkan hatimu nggak ada isinya cuy.

Hwhw.

 

You May Also Like

10 Comments

  1. Haha buset dah, bukan gebetan Mbak. Itu aslik lelembut. 😂😂😂

    Btw horor banget gitu rumahnya? Ntar bisa jadi seting pilem2 jurik tuh.

    Tapi betul, rumah kosong atau kecil aura manusianya memang rawan dihuni setan. Kalau sindiran agamanya, rumah seorang muslim yang gak pernah dipakai baca qur’an disamain kayak kuburan. Heu~

    1. jadi, pemilik rumah dan keluarganya nggak suka gitu kalau para tetangga bilang rumahnya berhantu. semacam denial, tapi mereka sendiri nggak berani.

      kosong pokoknya, boro-boro dibacain kitab suci. dibacain sms aja nggak

      1. Mungkin dulunya ada sejarahnya kali, bekas2 apa gitu tanah/ bangunan sebelumnya.

        Haha. Ya ya boleh lah dibacain sms. Dibacain status WA gebetan atau dibacain RUU Omnibus Law 😁

  2. haaa, kok ngerii. itu mbak2 e pas nginep pasti makan kan, terus makan apa coba
    .hm hmm 😦😦😦

    hatiku, hatiku aman tekendali. selalu ada isinya. wkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *