Saya dalam Lingkaran Kisah Perceraian

Sesekali menjelang tidur, cobalah bertanya-tanya pada diri sendiri; apa yang terjadi pada dirimu, apakah diizinkan atau dibiarkan oleh Tuhan? – EAN

Seperti yang saya bilang di tulisan kemarin, bulan ramadan ini saya bakalan nulis apa yang terlintas di kepala. Lalu, entah bagaimana. Saya kepikiran lagi sama tema ini.

Saya nggak tahu tulisan ini bakalan jadi kayak gimana karena saya nulis seenaknya jari aja. Jadi, monggo…

Kisah Bunga

Sekitar dua tahun lalu, teman saya sebut saja Bunga datang dan bercerita bagaimana suaminya (yang juga teman saya saat SMA) dengan teganya memacari perempuan muda yang satu tempat kerja dengannya.

Bunga menahan tangis saat menceritakan detailnya kepada saya. Wajahnya nampak sangat lelah. Ia juga punya perasaan bersalah pada putranya, karena dia merasa bukan ibu yang baik. Ketika putranya menangis, ia tidak sanggup mendiamkan tangisannya. Malah ikut menangis bersama. Bahkan karena stres, putranya jadi lampiasan kemarahan Bunga.

Cerita bunga juga sampai pada kalimat “cerai”. Bunga sudah minta cerai namun sang suami selalu menolak.

Waktu berjalan. Bunga jarang menemui dan berkomunikasi dengan saya. Hingga beberapa waktu lalu kami bertemu.

“Bagaimana dengan itu? Masih seperti dulu?” Tanya saya.

“Aku hidup kayak ngambang. Cuma jalani aja. Yang jelas sudah nggak seperti yang dulu. Bertahan demi anak.”

Saya hanya mengangguk. Bukan karena paham. Hanya mengangguk seperti odong-odong yang emang begitu kerjaannya.

Bunga pun mengucapkan pertanyaan baru. “Kamu gimana? Ada yang dekat?”

“Menurutmu?” Saya tersenyum. “Dekat-dekat sama kerjaan aja.” Kemudian saya tertawa.

“Bagus! Banyak duit berarti!!! Eh tapi, itu muka mulus banget sih? Kok saya ngefans jadinya?”

Dan obrolan kami berlanjut ke ngomongin hal menyenangkan. Ngomongin skincare!!!!

sumber pixabay

Saya Tak Habis Pikir!

Bunga dan Suaminya pacaran dari SMA, udah kayak Galih dan Ratna. Menikah tahun 2013 dengan cerita putus nyambung beberapa kali sampai saya bosan dengarnya.

Tapi, sebelum hari pernikahan itu tiba. Saya selalu tanya ke Bunga. “Beneran jadi? Dia pernah ada main sama perempuan lain ‘kan? Gimana kalau hal itu terulang?”

Yha.

Karena undangan keburu jadi. Tetangga sudah tahu semua. Pertanyaan saya dianggap angin lalu. Dan Bunga menyesal dengan kalimat. “Kalau aja pertanyaanmu dulu dipikirkan matang-matang.”

Tapi emang Bunga udah cinta banget sama suaminya dari dulu. Jadi omongan saya hanyalah tiupan dari kipas kecil yang pakai batery yang sama sekali nggak kerasa anginnya.

Ahhhh cinta. Cinta ya?

Ada satu titik di mana saya berpikir nggak akan menikah hanya karena saya cinta. Hanya karena dia membuat saya mabuk cinta.

Karena makin tua, saya sadar bahwa jatuh cinta adalah perasaan yang butuh momen tertentu. Siapapun orangnya, bisa jatuh cinta dengan orang lain walaupun sudah menikah. Manusia ini luar biasa lho, bulan ini bisa bilang suka sama siapa, terus beberapa bulan lagi bisa bilang suka sama yang lainnya.

Kalau jatuh cinta didorong oleh anggapan-anggapan spesial pada diri orang lain. Saya mikir bahwa saya jelas nggak selalu “menjadi yang menyenangkan” dia, saya punya banyak sisi di mana kayaknya “nggak banget dan malesin” di samping saya punya bakat menggemaskan (dipikir begini padahal begitu).

Jadi, kalau membangun cinta bagaimana? Membangun cinta tiap harinya. Heuuuuhh.

Dalam hidup ada perjalanan pendek dan perjalanana panjang. Mungkin, jatuh cinta hanyalah perjalanan pendek. Sedang membangun cinta adalah perjalanan yang amat panjang dan mungkin nggak mudah.

Saat kalimat ini saya tulis. Saya masih ragu, adakah orang yang benar-benar setia pada pasangannya.

“Padahal jauh lebih banyak yang gaib dibanding yang seolah-olah nyata dalam kehidupan manusia.” Brakodin menambahkan, “Cinta itu gaib, hati setiap orang gaib bagi orang lainnya. Bahkan hati kita sendiri sering gaib bagi kita sendiri. Sekurang-kurangnya sering terdapat ruang-ruang gaib di dalam hati dan pikiran kita sebagai manusia…” Dalam Daur II- EAN.

Harapan-Harapan Bunga pada Suaminya

Karena perjalanan pacaran yang panjang. Ada banyak hal yang Belalang (sebutan untuk suami bunga) lakukan. Belalang sudah banyak baik hati menyokong Bunga saat kuliah, karena secara ekomoni, Mas Belalang sudah bekerja lebih dulu.

Itu juga yang ada di pikiran Bunga kalau sampai pernikahan itu nggak jadi, sedangkan Mas Belalang sudah banyak membantu.

Bunga, menolak ajakan kumbang lainnya untuk menjalin hubungan karena baginya Mas Belalang sudah “teruji” dan menitipkan harapan bahwa Bunga bisa lebih bahagia lagi.

Ahhhhh bahagia? Menikah kok biar bahagia?

Saya jadi ingat kalimat Sabrang yang cukup populer.

Menikah itu bukan mencari bahagia, itu konsep yang salah. Menikah kok mencari bahagia? Dijamin nanti kecewa. Kalau cari istri/suami pastikan bahwa dirimu bahagia dengan dirimu sendiri. Jadi, ketika nanti jadi suami istri tidak menuntut kebahagiaan pada pasangan. Tapi berlomba untuk memberi kebahagiaan yang sudah dimiliki kepada pasangan.

Mantul emang anaknya EAN ini.

Emang yaaa… sedikit saja mengharap pada manusia pasti kecewa. Pasti banget!!!! Ngarepnya sama Tuhan aja. Nggak lain dan nggak bukan.

Pertanyaan yang kembali muncul juga kemudian mengenai, sudahkah saya bahagia dengan diri saya sendiri?

Sebuah Kisah Lain dalam Potongan Chat

Mbak ; Piyeeee mendi bae kok nggak nongol-nongol? Masih belum nikah?

Saya ; blm

Mbak ; Lah piye masih jomblo sampek aku jomblo juga.

Saya; Maksudnya cerai?

Mbak ; Ya. Dari awal tahun.

Saya ; hidup memang penuh dengan janda dan tawa.

Dalam percakapan lainnya, saya diceritakan bahwa Mbak cerai dengan suaminya usai pergulatan hati yang panjang dan pertimbangan yang nggak kalah panjang. Saat ini, Mbak jadi tulang punggung bagi anaknya karena mantannya sudah nggak jelas mau nafkahin anaknya apa nggak.

Kasusnya nggak jauh dari perselingkuhan dan sang mantan yang sepertinya punya kehidupan sendiri.

Mbak ini kayaknya cinta banget sama suaminya kalau lihat sosmednya. Tapi, realitanya sama sekali nggak demikian. Mengingatkan saya pada kasus orangtuanya Gempi di IG.

Saya ; pernah kepikiran nanti kayak begini Mbak?

Mbak ; sama sekali nggak. Sama sekali nggak mikir begini. hidup berasa kayak dari nol lagi.

Obrolan berikutnya malah ngomongin jualan online si Mbak, saham, reksadana sampai parenting. Kami akhirnya ngobrolin yang asyik-asyik aja.

Ngobrolin Tentang Perceraian Emang Nggak ada habisnya!

Kalau dijabarkan satu-satu. Udah bakalan panjang banget, dari pemicunya adalah kasus KDRT, masalah ekonomi, perselingkuhan (baik dari pihak suami/istri). Semuanya ada di lingkungan saya. Sampai, kasus orangtua sendiri yang hampir cerai.

Dulu, saat ditanya mau ikut siapa. Jawaban saya adalah cerai dulu aja nanti baru tak pikirin ikut siapa. (masih SD kelas 1 lho). Hoho…

Ahhh yaaaa… sebuah hubungan pada akhirnya memang akan berpisah. Sebuah hati juga punya perjalanannya masing-masing.

Ngomongin soal perceraian, sebenernya adalah topik yang berat bagi saya. Karena punya efek yang luar biasa. Nggak cuma sekedar berimbas antara suami dan istri yang masing-masing sudah menjadi mantan.

Saya hanya bisa mengelus dada. Duduk diam sambil mikirin kalimat apa yang akan menjadi penutup di tulisan saya yang nggak jelas ini.

Perempuan yang sedikit saya kisahkan di sini adalah para perempuan yang kuat. Ada yang bertahan, ada juga yang berpisah. Saya hanya bisa berdoa agar mereka selalu dikuatkan apapun yang sedang mereka hadapi sekarang atau besok.

Sedang yang mengetik di sini suka sekali bingung dengan hatinya. ….Bahkan hati kita sendiri sering gaib bagi kita sendiri….

Apalagi bikin penutup ini.

*ngeselin kan bloger yang satu ini? Yeee kan???? Kalau nulis suka nanggung!!!

4 komentar pada “Saya dalam Lingkaran Kisah Perceraian

  • 23/05/2019 pada 3:58 AM
    Permalink

    terbukti dah, sisi ngeselinnya mbk mo. wkwkwk. nanggung, ih mbak 😦😦😦
    penutup ada di kepala masing-masing ya berarti, tidak harus selalu ditutup sama bloger. 😂

    Balas
    • 23/05/2019 pada 12:59 PM
      Permalink

      Yhaaaa kasih penutupnya pembaca aja. Tapi akutu tida bisa nyuru-nyuru

      Balas
    • 25/05/2019 pada 3:58 PM
      Permalink

      *tarik napas…

      Balas

Tinggalkan Balasan