Saya Hanya Terlalu Lelah

Saya Hanya Terlalu Lelah – Ketika saya terbangun saat pagi hari, masih terasa sisa-sisa kelelahan sebelumnya. Badan terasa remuk redam. Tapi hal-hal itu harus segera tidak terlalu dirasakan. Saya harus kembali beraktivitas.

Saya pernah bilang ke Ibu saya, “Saya ingin bunuh diri. Saya ingin mati.”

Kemudian Ibu saya berkomentar bahwa hal itu adalah dosa.

Tentu, kalimat itu tidak pernah menghibur. Kalimat yang keluar dari Ibu saya memang jarang sekali yang sifatnya menghibur. Kalau mematahkan hati, lebih sering.

Bagaimana rasanya hidup di rumah tapi rasanya ingin pulang?

Rasanya seperti saat ini.

***

Saya mengutuk banyak hal dalam hati. Saya membenci banyak hal dalam diam. Saya menahan amarah.

Tunggu.

Apakah saya punya benar-benar punya waktu untuk bersedih?

Bapak  selalu marah melihat saya menangis. Saya hampir jarang menampakkan diri untuk menangis. Menangis dengan sembunyi-sembunyi sungguh hal yang  akrab.

Sering, terlalu letih tidak mengizinkan saya sedikit saja bersedih. Saya lelap dalam tidur dan tidak tahan dengan kantuk. Saya melewati perasaans sedih itu.

Tentang Bapak, ia bahkan tidak mengizinkan saya benar-benar bersedih bahkan di hari-hari terakhirnya.

Saya sibuk mengurus administrasi rumah sakit. Siap untuk tanda tangan dengan macam-macam tindakan yang harus diberikan pada Bapak. Selang makanan, selang pipis, dan entah apa namanya.

Tidak ada yang bisa diajak bicara saat kondisi terakhir menurut dokter adalah “tinggal menunggu keajaiban.” Pukul 00.00 lewat sedikit. Dokter menjelaskan hal-hal yang dialami Bapak. Semuanya kabar buruk.

Dari monitor CCTV, saya melihat kaki Bapak yang tertekuk. Bergoyang-goyang. Mungkin menandakan lambaian perpisahan. Dokter bilang, “Bapak mungkin sedang resah.”

Saya keluar dari ruang ICU. Memandang ponsel. Membuat kesimpulan tentang keadaan Bapak dalam pesan-pesan yang saya kirim. Tidak ada respon dari siapapun.

Saya duduk di ruang tunggu yang tidak semestinya. Hanya lampu temaram, sepinya lorong dan dinginnya AC yang menemani sekitar pukul 01.00 malam. Seorang satpam meminta saya untuk masuk ruangan tunggu pasien ICU sebagaimana mestinya. Saya menolak dengan alasan sedang mengisi daya pada ponsel. Di dalam ruang tunggu, tidak ada terminal listrik yang bisa saya gunakan. Semua penuh dengan kabel-kabel pengisi daya dan ponsel para penunggu pasien lainnya.

Alasan logis itu diterima oleh Bapak Satpam. Saya bisa duduk lama dengan perasaan aneh.

Diam dalam kekosongan yang lambat.

Tak lama. Suara bayi dalam kereta bayi yang dibawa perawat mulai terdengar. Mereka tepat berjalan di depan saya. Bukan hanya satu bayi, melainkan dua.

“Lihatlah. Bukankah Tuhan sedang bercanda?” Itu guman saya dalam hati.

Bayi-bayi yang lahir dengan sel-sel yang akan sangat aktif tumbuh adalah semacam hal yang bertolak belakang dengan situasi Bapak saat ini.

Saya menunggu. Menunggu ponsel terisi dengan daya penuh.

Atau mungkin  mengunggu keajaiban?

“Lihat, Pak. Apa gunanya punya banyak anak? Tidak ada yang datang atau sekadar membalas pesan.” Saya kesal dalam hati.

Saya menunggu sampai pukul 03.00 pagi kemudian kembali tidur di ruangan tunggu.

Subuh datang. Saya turun untuk solat. Ketika naik kembali ke dekat ruangan ICU. Seorang perawat meminta saya untuk masuk ruangan.

Menit-menit terakhir. Sampai saya dikonfirmasi bahwa “Bapak sudah berhenti bernapas.”

Mungkin pesan semalam yang terkirim belum sempat terbaca itu akhirnya tidak pernah terbaca dengan baik karena pesan baru yang mengabarkan bahwa Bapak telah berpulang. Pukul 05.22 pagi.

Masih belum boleh bersedih. Saya harus mengurus hal lainnya. Mengkonfirmasi pemakaman agar pemulasaran dilakukan sesuai protokol COVID-19. Saya sibuk membubuhi surat-surat dengan tanda tangan, termasuk surat jalan ambulance.

Saya menunggu di depan pintu ICU. Saya terduduk. Menanti Bapak. Pun Bapak saya juga menanti pegawai lain yang akan mengurus pemandian sampai dibawa pulang.

Saya duduk cukup lama. Sebentar saya ditemani seorang perempuan yang Bapaknya sama-sama ada di ICU.

Saya banyak diam. Perempuan asing itu pun diam. Kami belum sempat mengenal lama atau bicara banyak. Yang saya ingat, ia sering ditemani ibu dan adiknya menunggu Bapaknya. Sedangkan saya, sendirian.

***

Pandangan saya lebih sering melihat lutut celana saya yang berlubang akibat digigit tikus. Saya memakai celana olahraga panjang hasil lungsuran punya Ibu. Usianya lebih tua daripada saya, mendekam lama di dalam lemari. Menunggu saya tumbuh.

Keluarlah Bapak dengan kantung mayat. Lalu petugas membawanya ke ruang jenazah.

Hal yang saya tunggu.

“Ada anggota keluarganya yang mau bantu memandikan? Laki-laki.” Begitu kata petugas.

“Tidak ada yang lain. Ada adik dari Ibu saya dan menantu Bapak baru datang. Tunggu ya…”

Tapi, tentu saja dua pria yang asing bagi saya meski katanya keluarga itu, menolak dengan cara mundur beberapa langkah di depan pintu ruang jenazah.

“Saya saja. Cuma saya. Tidak ada yang lain lagi.”

“Mbak siapanya?”

“Anaknya.”

Dengan pelindung pakaian hazmat yang super panas dan sepatu karet yang terlalu besar. Saya masuk ke ruangan itu.

Saya masih belum diperbolehkan bersedih. Tugas masih belum usai.

“Mbak tolong bantu angkatkan kakinya ya.”

Ya. Begitulah. Saya membantu membopong Bapak yang dipindahkan ke bagian pemandian. Tentu dibantu dua petugas lainnya.  Cukup sulit karena sepatu yang saya kenakan kebesaran dan mobilitas gerak yang seakan terbatas karena pakaian pelindung.

Meniatkan memandikan.

Meniatkan untuk wudhu.

Saya dibimbing petugas hingga selesai. Menyaksikan proses demi proses sampai selesai.

“Lihat Pak, anakmu yang lain tidak ada yang datang.” Ucap saya sekali lagi dalam hati.

***

Petugas mengajak bicara saya.

Bertanya hal-hal biasa dalam hidup, seperti pekerjaan dan status. Kami bahkan sempat membahas soal CASN.

Setelah proses memandikan selesai. Dikafani. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam kantung. Lalu ke dalam peti. Peti ditutup rapat. Tidak cukup ditutup, tapi juga dilapisi kembali dengan plastik yang biasanya digunakan untuk membungkus buah-buahan.

Bapak sempat disolati oleh tiga orang di depan pintu ruang jenazah. Proses berlangsung cepat.

Kami pulang.

Saya duduk bagian depan mobil ambulance. Menunjukkan jalan untuk supir RS yang sedang bekerja. Tentu saja dengan bunyi sirine. Tepat di depan mata saya ada setumpuk tisu.

Saya menangis.

Setumpuk tisu itu rasanya seperti mendorong untuk menangis.

Sebentar. Saya menangis sebentar. Itu sudah cukup.

Saya muncul di pemakaman yang sudah siap dengan lubang galian. Bapak disolatkan ulang di pendopo kompleks pemakaman dengan posisi masih di dalam ambulance.

Lalu ucapan itu muncul dari Ibu saya. Untuk pertama kalinya setelah melihat saya. “Kenapa kamu memperbolehkan Bapak untuk mati?”

Sebuah kalimat yang kekanakan.

Konon, Ibu saya marah besar ketika tahu Bapak meninggal. Begitulah ia yang mengekspresikan kesedihannya.

Acapkali menjengkelkan.

Saya pulang ke rumah dengan keadaan lelah. Namun, ada amarah yang memantik dada melihat tingkah anak bapak yang lainnya. Bahkan belum sempat saya mandi. Ia sudah mengungkit barang-barang Bapak yang akan jadi miliknya.

Saya marah dalam hati. Tidak punya banyak tenaga karena saya belum sempat makan hingga jam itu.

***

Hari-hari yang sibuk berganti. Belum lagi saya ada ujian CASN. Merasa diri kurang bekal sebelum mengikuti ujian. Saya belajar siang dan malam.

“Saya tidak terlalu punya banyak waktu meratapi kesedihan, Pak.”

Hari dimana saya berangkat ujian. Di situlah saya menangis sepanjang jalan.

Mungkin karena ingatan saya yang terpelihara dengan baik; bagaimana hari pertama sekolah SD, bahkan kerja di hari pertama pun yang mengantar adalah Bapak. Hampir 1 tahun berobat jalan untuk sakit paru pun yang mengantar adalah Bapak.

Lalu kalimat itu saya ingat.

“Ujian kapan? Nanti Bapak puasa. Minta lulus kali ini.”

Puasa. Bapak diingatan saya lekat dengan puasa. 100 hari, 40 hari, dan puasa lain di luar puasa wajib. Bapak tipikal orang yang jika dalam kesulitan, ia memilih puasa.

Namun hari-hari sebelum saya ujian. Bapak tidak puasa karena harus mengurus ibu saya yang sama sakitnya.

Ibu positif covid 19 lebih dulu. Menangis meraung, berkata bahwa itu sakit terburuk dalam sejarah yang pernah dialami. Baru beberapa hari Ibu membaik. Bapak jatuh sakit.

Berbeda dengan Ibu yang mampu bertahan. Keadaan Bapak memburuk dengan terlalu cepat.

Diabetes, penggumpalan di dalam otak yang menyebabkan mendadak tidak bisa bicara, jantung, paru-paru yang kena pneumonia, sesak nafas di hari-hari terakhir, juga pengentalan darah yang merupakan efek buruk khas terinfeksi covid yang memperparah keadaan.

Bapak tidak mampu bertahan.

***

Usai serangkaian ujian. Tentunya saya sudah menduga mengenai hasilnya. Saya ujian di hari terakhir, yang mana sudah tahu bagaimana hasil dari pesaing saya dalam formasi. Saya yang terbaik dari sisi skor.

Hingga pengumuman dimunculkan. Ada nama saya terpampang di sana. Saya lulus.

Pada hari saat pulang ujian. Saya masih memangis sepanjang jalan. Untungnya saya masih bisa menyetir dengan baik.

Saya ingat Bapak.

Bapak saya tipikal orangtua zaman dulu yang menginginkan anaknya menjadi pegawai dengan penghasilan yang relatif stabil. Sedangkan saya merasa hal itu menjadi “tidak harus” selama hidup mampu dipertanggung jawabkan. Bekerja bisa apa saja.

Namun tentu saja hal itu sangat saya syukuri. Dimana penempatan untuk saat ini sangat dekat dengan rumah. Hanya beberapa menit sudah sampai.

***

“Saya nambah sibuk, Pak.”

Saya sibuk sekali setelah Bapak berpulang sampai lebih sering tidur di atas jam 12. Pekerjaan rumah yang menumpuk sampai urusan dagang kini menjadi urusan saya.

Kadang, saya merasa sendirian. Kadang, saya merasa terlalu banyak hal yang harus ditanggung. Terutama masalah keuangan.

Ibu saya menjadi tidak bekerja karena kemampuannya bekerja tidak sebaik Bapak.

Saya kadang meragukan kemampuan diri untuk bisa bertahan. Karena lapisan-lapisan hantaman masih sangat terasa gaungnya.

Sebelum menuliskan tulisan ini. Saya membuat rekapan uang masuk dan keluar. Jika masih bisa saya kerjakan, masih ada tulisan permintaan yang sudah masuk bayarannya dan harus segera saya selesaikan.

Saya hanya lelah hari ini.

Saya tidur saja?

Selamat malam.

Aahh yaaa.

Kurang dari satu tahun saya kehilangan dua anggota keluarga.

Saya tidak boleh kehilangan diri saya yang selalu piawai dalam menghibur diri itu bukan?

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment

  1. semangat ya kak, tidak ada hal lain yang bisa kukatakan selain itu.
    beristirahat lah sejenak, jika kamu lelah.