Saya Minimalis untuk Urusan Lipstik (1 Tahun Cukup 1)

Saya Cukup Minimalis untuk Urusan Lipstik (1 Tahun Cukup 1)

Gileee, udah kehilangan bahan tulisan Mo?

Eemmm… tolong, itu suara siapa? Tolong dibungkam dulu.

Halooo para pembaca keturunan penduduk surga yang bisa budiman dan tidak budiman. Apa kabar? Semoga kalian baik-baik saja. karena tiap lihat berita, saya selalu ingin mengelus….

Dada?

Bukan.

Mengelus kucing.

Tapi saya nggak punya kucing.

Jadi saya mengelus….

Mengelus bagian kepala sendiri.

Hoho.

Belakangan saya baru sadar kalau saya punya kebiasaan baru mengelus kepala kayak Park Saeroyi di Drakor Itaewon Class.

Yep, malam ini saya sudah mandi, sudah pakai skincare, sudah pakai lotion, sudah pakai kaos kaki, waktunya untuk jadi kamu rebahan kemudian molor, tapi apa daya saya belum nulis di sini. Jadi, marilah buat tulisan soal dunia minimalisme.

Nganu… Begini. Di tilisin ying ini siri pirnih nilis tinting sini hidip minimilis.

Saya banyak melakukan audit dalam hidup saya. Beberapa saya anggap berhasil, sebagian lagi dalam masa percobaan yang sulit sekali.

Niatnya mau saya bahas di sini semuanya. Tentang hubungan saya dengan barang.

Manusia Memang diciptakan Nggak Bisa Serakah

Coba pikirkan, walaupun hidup bergelimang harta seperti Nia Ramadani, dia tetap saja nggak bisa mengupas salak. Kalian harus bangga.

Oh bukan. Bukan ini. Maafkan jari-jari saya yang suka membelot, mungkin karena menu makan pagi sampai malam menunya sambel goreng terus. *okeh ini nggak nyambung.

Begini saudara-saudara, meski kita kaya banget, celana dalem yang kita pakai satu doang, makanan yang kita makan sangat terbatas meskipun makanan di prasmanan begitu menggoda untuk dicobai sampai teler. Meski rumah banyak di mana-mana, rumah yang bisa ditinggali hanya satu. Meski banyak ruangan dalam rumah, hanya satu ranjang yang bisa kita tiduri. Meski ranjangmu sepanjang lima meter kayak Nia Ramadani, sejatinya kebutuhan lahan kasur kita tidak sebesar itu.

Paham?

sumber pixabayntuk ap

Saya yakin kalian paham. Kalian bukan orang-orang yang kapasitas otaknya sebesar setengah sendok nyam-nyam.

Baeq.

Lanjot, saudara-saudara itu masih pembukaan. Belum ke inti tulisan.

Berbekal penjabaran di atas, maka yang bukan merupakan fakta tentang Nia Ramadani adalah…

  1. Anaknya sudah 3
  2. Suaminya 1
  3. Senang sekali saat bisa memecahkan telur
  4. Berakar tunggang

Yap, kalian bisa isi di kolom komentar. Untuk setiap jawaban yang benar maka tidak akan saya salahkan.

Astagaa Dragon

Ini tulisan apa?

Maafkeun. Salah satu kelemahan tulisan nggak pakai outline bagi makhluk yang wangi seperti saya beginilah keadaannya…

Eemm… fokus.

Karena manusia hanya bisa menikmati secukupnya, maka hal itu pun saya terapkan di dinding.

Yha bukanlah.

Saya terapkan saat ingin sekali membeli lipstik. Sebelum benar-benar membeli lipstik, wanti-wanti diri sendiri. Contohnya begini;

“Bibirmu itu cuma segitu, kenapa lipstiknya banyak? Kan nggak masuk akal.”

“Kalau punya lipstik banyak, nanti kedaluarsa lho, pakai barang nggak sampai habis nggak enak bukan? Kamu tu yaa, pakai pulpen terus macet di tengah padahal isinya masih banyak aja sedih. Apalagi lipstik yang harganya melebihi pulpen? Pikirkan baik-baik.”

Kurang lebih begitu.

Alhasil saya hanya punya dua lipstik saat tulisan ini dibuat dengan segenap jiwa raga.

Satu, lipstik dari Makeover yang matte itu. Harganya 80an kalau nggak salah ingat. Dibeli saat 2018 dan belum habis sampai sekarang. Warnanya kayak warna bibir.

Kedua, airy ink velvet dari peripera. Harganya 70an. Dibeli tahun 2019, bentuknya kayak obat tetes. Warnanya begitu gonjreng seperti habis makan soang yang berkeliaran di kampung.

Kalau butuh warna “lain” saya campur keduanya.

(Catatan : Bagi saya soang adalah binatang yang lebih menyeramkan. Anjing nggak ada apa-apanya. Kalau ada anjing sering saya sapa. Ada soang? Langsung ngibrit.Entah apa yang merasuki saya kalau lihat soang.)

lanjut cuy.

Kalau ke mana-mana juga saya bukan tipikal yang oles lagi oles lagi kalau lipstiknya ilang dari bibir. Biarkan saja mau ilang, mau ketelen. Bodo amat.

Hasilnya, hingga maret 2020, keduanya masih tetap bertengger di meja saya.

Kalau lihat di marketplace rasa-rasanya pengen beli lagi. Tapi melihat keduanya nggak abis juga, saya urungkan niat itu.

Pokoknya bakalan beli kalau salah satunya habis. Punya dua sudah cukup.

Agak kesel sih misal pakai produk yang nggak abis juga. Tapi poin plusnya adalah saya jadi nggak menghambur-hamburkan uang.

Yaaa kalik kalau ada yang dihambur-hamburkan.

Untuk urusan lipstik, sujud syukur pokoknya bisa hemat begini. Kadang kalau bibir kering kerontang lebih suka pakai lipbalm dari nivea.

Berhasil nih saya jadi minimalis di dunia perlambe abangan.

Kalau kalian punya berapa? Bisa bertahan berapa lama?

Buat yang cowok-cowok kalian bisa jawab pertanyaan saya di atas? *ah ini sih pertanyaan biar ada yang komen saja.

Sekian tulisan dari Momo.

 

Previous Post

No more post

You May Also Like

15 Comments

  1. aku punya dua jugaa. satunya baru putul-putul kemarin, sampe ga bisa dipake akhirnya dikebumikan.

    eh, aku baru tahu nama lain angsa adalah soang. ditempatku namanya “banyak” karena bunyinya “ngak…ngak..”

    1. (((dikebumikan)))

      sama di sini juga punya nama lain, banyak juga termasuk.

      wkwkwk ternyata saya nulis soang ya, buka angsa. baru sadar

      1. pernah sampe dikejar doang. kena lodok mah untungnya blom ka mo.

        wkwkwkk… kali aja ka momo jadi berdarah biru kaan.

        *okey ini receh yang gk ada lucu2nya

  2. Aku juga punya dua, Mbak Momo. Persis sama kayak Mbak Momo. Satu warna kecoklatan, satu gonjreng wkwk

    Jadi penasaran, temenmu emangnya ada yang mengoleksi lipstik sampe banyak, Mbak? 👀

    1. harus bikin persekutuan dua lipstik nih.

      banyak pokoknya. sampe warnanya mirip mirip tapi dia beli juga.

      1. Setuju, lalu, persekutuan ini ketuai oleh, Mbak Momo 🙊

        Kawanmu kayaknya tipikal orang yang senang mencoba, mbak hmm

  3. Tiba2 mengingat masa lalu ounua berlusin2 lipstik sampai akhirnya capek sendiri. Sekarang cuman 2, matte dan merah mudah, biar ga pusing mikirin pake yang mana tiap kondangan ciin haha

    1. (((berlusin-lusin)))

      membuat sedikit pilihan membuat otak lebih efektif untuk memilih dan berpikir.
      mana lipstik benda mati, bukan? kita-kita yang punya kehendak bebas dalam memilih.

      beda kalau punya 24 musuh manusia dan kita harus milih satu untuk dihadapi. adu domba saja 24nya sampai sisa 1.
      wkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *