Sebelum Berlalu, Saya Tulis Saja

Sebelum Berlalu, Saya Tulis Saja

*tulisan ini diperuntukkan kepada teman yang nanyain soal nulis di blog.

Saya punya setumpuk buku gambar sketsa dari tahun 2012. Makin kuning bukunya, makin tua usianya. Tulisannya pun aneh-aneh saja. Mulai dari gambar nggak jelas, kata kunci masuk akun sana dan sini, puisi tidak jelas, cerpen yang kalau dibaca malah bingung sendiri, daftar belanjaan, sampai kalimat anjay-anjay pun ada.

Intinya, saya emang doyan nulis untuk entah siapa. Bagi saya, menulis adalah wujud cinta yang keras kepala.

*haa cieee….

Ini masih melanjutkan tulisan saya di sini (emang ini singkat banget kalau dibedah jadi banyak). Menyoal blog yang dijadikan cara mendapatkan pendapatan tambahan.

Biasanya pertanyaan seperti ini muncul.

“Saya bingung mau nulis apa ya? Apa ya? Apa ya? Apa sih? duhhhh”

Jangankan yang baru memulai blog, yang sudah lama aja suka bingung mau nulis apa. Itulah fungsi dari sabar “niteni” diri sendiri. Potongan ide sebaiknya tidak dilupakan begitu saja. Coba saja menulis sedikit demi sedikit, yang penting dibiasakan saja.

Nggak usah mikirin gaya ini dan itu. Udah jalan saja dulu, yang penting “selalu bergerak.”

“Dulu sempat punya blog tapi lupa.”

Selalu ada perasaan “wah” kalau ada narablog yang memang masih nulis dengan konsisten. Tidak putus begitu saja. Tidak peduli halangan dan rintangan. Sebuah blog yang masih terpelihara dengan baik dengan update tulisannya itu sudah bagus banget.

Kalau sempat iseng-iseng lihat arsip. Baca tulisan yang lebih lama kemudian baca yang agak baru. Biasanya ada perbedaan yang cukup menyenangkan. Kemampuan menulisnya biasanya nambah bagus. Nambah luwes.

Ingin saya kasih linknya di sini. Tapi nanti dia jadi besar kepala. Lebih baik jangan.

Lupa juga masalah saya di awal ngeblog. Semuanya karena blog ditinggalkan begitu saja.

“Duh bikin kalimat awalnya gimana?”

Di sini saya pernah nulis.

Kemudian saya kasih ke temen yang nanya.

Beberapa saat kemudian.

Teman saya lapor dan bilang bahwa dia susah mengerti tulisan yang saya buat.

SAYA KEMUDIAN MENGHENINGKAN CIPTA

Iya apa? tulisan saya sulit dipahami gitu? Padahal saya nggak ngomongin teori macam-macam? saya nggak nulis mata kuliah analisis real di sini. Itu saya ‘kan bodo di bagian itu. *eh.

Untuk tulisan di sini saya tidak menggunakan pakem SEO standar. Saya hanya mengikuti pikiran kemana ia ingin muncul sebagai kalimat-kalimat.

Dear teman,

Apakah kalimatku sudah kehilangan makna? Apakah hujan yang turun kali ini bahkan sama sekali tidak menumbuhkan benih yang disemai?

Haduuduudud… di situ saya merasa gagal.

“Nggak pede sama tulisan sendiri.”

Cobalah jatuh cinta sama tulisan sendiri. Gimana mau buat orang lain suka sama tulisan kita kalau kita nggak suka sama tulisan sendiri.

Emmm?

“Ide dari mana coba? susah cari ide.”

Katanya, untuk hidup. Sebenarnya manusia nggak perlu jauh-jauh memikirkan banyak hal. Hidup sedekat tetap bernapas dan memberikan tubuh kita hak-haknya. Sedekat itu. Langkahnya awalnya mudah, dengan tetap bernapas.

Ide. Saya yakin juga demikian.

Ide nggak pernah jauh, yang jauh hanya perasaan orang-orang yang telah pergi.

Pada perjalanan hidup sampai sekarang, entah perasaan, hal-hal apa yang saya alami sekarang, sayang kalau nggak ditulis. Akhirnya, saya memecahkan diri menjadi banyak ruang tulisan. Juga banyak nama. Bisa jadi “tone” tulisannya beda. Karena emang begitulah adanya.

Ruang ini untuk ini… ruang ini untuk sekadar nulis sambatan. Di ruang ini saya malu nulis tentang pengalaman pahit, di ruang lainnya saya bisa merasa sebebas-bebasnya menulis pengalaman pahit.

Pada satu kesempatan ada yang bilang katanya materi yang saya tulis bagus. Mereka tertarik membuat saya menjadi salah satu bintang tamu dalam kanal mereka. Sebagian dari saya tertawa, kok bisa-bisanya saya ditawari kerjasama seperti ini?

Saya menolak tanpa banyak berpikir. Tentunya setelah perbincangan panjang dengan tim yang bersangkutan. Saya menolak panggung di mana orang butuh panggung. Saya masih suka begini. Cukup senang mikirkan tiap harinya tulisan apa yang akan saya buat. Lagian, saya nggak suka banyak diatur untuk konten orang lain. Saya merasa nggak sanggup sama hal-hal yang mereka mau.

Jadi….

Sebelum Berlalu, Saya Tulis Saja. Menulis tentang hal-hal yang lekat dengan kehidupan. Meski kadang soal perasaan yang sia-sia. Sesekali ngarang doang. Sesekali meluapkan segala kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan. Sesekali pengennya nulis gombalan, tapi malah biasanya berakhir dengan diksi yang ngenes.

Katanya orang yang masih bisa menulis. Jiwanya cukup sehat.

Saya ingin itu sih. Menjadi orang yang damai.

Next Post

No more post

You May Also Like

11 Comments

  1. memang menulis pengalaman pribadi itu memang jauh lebih mudah, eh ini kok terus “mudah” terus yang muncul. hahaha
    awalnya memang ada perasaan gak pede, trus binggung nulis apa, namun saat sudah lama, rasa tidak pede juga tetap akan selalu muncul, aplagi kalau udah banyak yang follow, ew ew ew
    binggung nulis apa juga tetep akan ada, tapi untuk tetap bertahan adalah soal niatan, yah bisa jadi memang tentang cinta keras kepala itu juga sih, hehehe

    1. Manggut-manggut setuju.
      Tapi makin sepi kok dari sisi temen-temen bloger wordpress. Jadi, kadang yang follow hanya angka-angka semata. Yang masih update juga nggak banyak.
      Terus ‘kan pakai self host. Biasanya pada males baca soalnya butuh klik ekstra 🤣🤣🤣

      Ya begitulah. Cinta yang keras kepala~ tapi jelas cintanya nggak akan sia-sia.

  2. Sebelum berlalu saya tulis saja,,, memang benar ya kalau itu tipsnya. Dan hal inilah yang sering aki abaikan. Ide demi ide bersilewaran tapi aku selalu menunda dan akhirnya nihil he he he
    Btw, yg ini banyak banget pesan sponsornya mbak🤭🤭🤭keren😁

Tinggalkan Balasan