Seberapa Besar Kamu Memercayai Mata?

“Mbak matanya bagus sih. Boleh minjem matanya sehari aja?” – Rodo gilo wonge emang, mosok mata dipinjam.

Bukan tentang mata atau bentukkan mata yang akan saya omongin di sini. Tapi tentang seberapa besar kepercayaan diletakkan pada sepasang bola mata?

Mata- begitulah ia ada dan mendominasi persepsi akan segala sesuatu. Orang dengan mudahnya mencap orang jahat/baik hanya dari penampilan luarnya saja. Orang baik penampilannya pasti begini, orang jahat pasti begitu. Belum lagi tentang stereotip yang menghantui.

Pernah suatu ketika, tetangga saya yang notabene seorang pengusaha mebel hendak membeli AC. Di toko elektonik, seorang satpam mendekatinya dan memintanya keluar karena dikira pengemis.

Bu Haji marah-marah kenapa ia diusir. Karena kesal dikira pengemis, Bu Haji langsung menunjukkan segepok uang yang ia bawa. Tak butuh waktu lama, satpam tersebut langsung minta maaf.

Usut punya usut, Bu Haji diusir karena ia hanya memakai daster yang warnanya sudah mbladus sehingga dinilai tidak terlalu meyakinkan bahwa ia hanya pelanggan yang akan membeli alat elekronik.

Kalau orang-orang yang sudah tahu keseharian Bu Haji, orangnya memang demikian. Tidak terlalu memusingkan soal penampilan. Sukanya memang pakai daster ke mana-mana. Katanya lebih nyaman. Itu saja.

Ambil kasus lain. Seorang arsitektur misalnya. Begitu ia berhadapan dengan klien. Maka kalimat yang biasanya keluar dari klien pasti kurang lebih begini, “saya ingin design yang minimalis” atau “saya ingin design yang modern.”

Ohhh yaaa jangan jauh-jauh deh. Kamu-kamu misalnya ditanya tentang seseorang. Hal-hal dalam wilayah visual biasanya ada bahkan mendominasi jawaban. “Orangnya cantik, punya kaki bagus, hidung mancung dan rajin beli reksadana.” Yhaaa… hal-hal demikian yang kalian pasti paham dong ya?

Kalau ngomongin lirik lagu, malah lebih terang-tengan lagi;

“Dari matamu… matamu… kumulai jatuh cinta. Kumelihat-melihat…..” *lagu siapa ini yak!

“Wajahmu terindah, satu yang sempurna, indahnya dunia ketika kau ada….” lagunya ALEXA.

“Terpesona, kupada pandangan pertama dan tak kuasa menahan rinduku… senyumanmu selalu menghiasi mimpiku….” wis wisss jangan nyanyi.

Sama sekali nggak ada yang salah dengan hal itu. Hidup dalam waktu yang sebentar ini, kita kadang “dipaksa” melabeli macam-macam orang hanya dengan informasi-informasi yang sedikit. Mata, jelas ia adalah salah satu alat di mana kepercayaan bisa ditimbulkan.

sumber : pixabay

Padahal mata selalu terbatas….

Manusia jelas punya keterbatasan.

Saya jadi ingat tentang konsep kegelapan dan cahaya. Adanya gelap dan terang, bukan merupakan adanya gelap dan terang, relitasnya bukan di situ. Adanya gelap dan terang hanyalah persoalan limitasi mata, alias keterbatasan mata.

Cahaya jelas merupakan gelombang elektromagnetik. Mau agak ruwed sedikit nanti ngomongin inframerah, ultraviolet, x-ray nganu-nganu…

Orang-orang sering mengartikan begini; pada pandangan yang tidak nampu menampilkan cahaya disebut gelap. Karena mata tidak bisa melihat. Sesederhana itu.

Padahal, sekali lagi. Kegelapan jelas nggak ada, kegelapan hanyalah muncul karena limitasi mata manusia itu sendiri.

*ini ngomong fisika lho yak!

Saya pernah baca buku begini….

Tahu Peter Zumthor?

Dia menulis Thinking Architecture (pdf-nya banyak di pencarian google cuy, hoho).

Pada awal bukunya, A Way of Looking at Things, doi malah ngomongin pengalaman sensorik tentang bangunan milik bibinya. Nggak ngomongin hal-hal kemegahan bangunan.

Peter, malah bicara hal-hal sederhana yang selalu ia ingat dari sebuah bangunan.

Konon katanya malah, hakikat arsitektur sesungguhnya adalah yang tidak terlihat.

*woh…

Peter Agaknya Sedikit Mengusik Hati Saya

Manusia, bukan hanya tentang penglihatannya. Namun juga sensor yang lain. Kita juga punya indra yang lain. Bahkan, saat kita baru lahir. Mata bukan organ yang langsung bekerja dengan baik. Medium komunikasi pertama justru adalah kulit.

Sedikit membaca tulisan Peter membuat saya bertanya lebih dalam jika ditanya tentang rumah impian. Jawabannya tidak melulu ada pada penglihatan dengan segala sumbernya. Bukan karena terlihat bagus maka saya mau. Tidak berhenti di sana.

Barang kali jadi begini… saya suka lantai yang dingin atau sangat dingin, suara pintu yang berat ketika ditutup, suara-suara batu ketika diinjak, bayangan air di tembok, hangatnya cahaya yang masuk ketika sore, cahaya yang samar masuk pada lubang angin, ada tembok yang kasar dan halus, ….. eemmmm hal-hal demikian.

Hal-hal yang lebih lama tinggal di memori membutuhkan lebih dari sekadar melihat.

Mungkin benar adanya jika Tuhan melengkapi manusia untuk “mengalami”, bukan hanya “melihat”.

Seberapa Besar Saya Memercayai Mata?

Kalau balik lagi ke bahasan gelap dan itu nggak ada. Saya boleh bilang nggak kalau bahagia dan penderitaan sejatinya nggak ada? Cuma sayanya aja yang suka goblok aja. Kalau nggak sesuai dengan keinginan jadinya disebut penderitaan.

Lalu. Saya tidak memercayai mata?

Saya bersyukur atas kehadiran mata dan punya mata bagus.

*sudah…. *sudah tidak fokus ini tulisannya.

 

 

Tinggalkan Balasan