Cerita Momo Cuma Nulis Aja Sebuah Pengalaman Tidak Punya Motor

Sebuah Pengalaman Tidak Punya Motor

Sebuah Pengalaman Tidak Punya Motor

Kenapa sebuah?

Kalau sekilo kebanyakan. Jadi sebuah aja.

Mengawali tulisan dengan kalimat garing rasa-rasanya kriuk sekali.

Yha. Ditambah dengan kegaringan lainnya.

Hidup Makin Ke Sini, Makin Ke Sana

Dulu, tiap saya berangkat sekolah dari SMP, SMA selalu naik sepeda. Sepedanya jenis sepeda keranjang merk cina.

Rasanya?

Biasa saja.

Padahal sepeda yang saya pakai itu nggak enak. Rada berat. Apalagi dengan kualitas seadanya.

Sepeda ini dibeli sama Bapak pas saya mau masuk SMP. Harganya saat itu… nggak tahu berapa.

Rumah saya di desa. Untuk menuju “jalan besar” harus menempuh jarak sekitar 1,2 km. Saat itu ada angkutan pedesaan, mobilnya kayak angkot tapi warna kuning. Rata-rata mobil tua yang sudah reot.

Setelah hampir ke area “jalan besar”. Saya titipin sepedanya ke penitipan, zaman dulu 200rupiah. Sekarang sudah naik jadi 1000 rupiah.

Saat pagi, anak-anak sekolah sangatlah umum naik sepeda. Berangkat dari rumah jam 06.00 tanpa ngeluh capek dan bereng-bareng sama pesepeda lainnya sangatlah syahdu.

Eehh sekarang?

Anak-anak sekolah yang masih bocil itu sudah naik motor. Sudah pintar bawa motor. Anak-anak yang naik sepeda memang masih ada. Namun sudah bisa dihitung dengan jari.

Jadi, naik sepeda bukanlah hal yang baru bagi saya. Masa lalu sudah membuktikan ketabahan mengayuh sepeda.

Setelah Kecelakaan Naik Sepeda Motor

Saya kecelakaan naik sepeda motor pas kelas XII.

Setelahnya nggak naik motor lagi sampai di tahun 2013. Sekitar lima tahunan.

Anggap saja saya nggak bisa naik motor.

Selama periodesasi itu, hidup saya dianter Bapak, jalan kaki dan naik sepeda yang lebih jelek dari sepeda cina saya tadi.

Sepeda cina kemana?

Dijual.

Kalau nggak bisa diantar, saya naik sepeda yang kondisinya memprihatinkan.

Gensi?

Ah tidak.

Saya belajar dari kondisi untuk tahu diri.

Saya Sebenarnya Tidak Pernah Punya Motor

Mulai kerja di tahun 2013, saya naik motor beat warna hijau. Untuk ke tempat kerja ditempuh dengan jarak 21km. Kalau bolak balik jadi berapa?

Ya, itung sendiri saja.

Beat hijau ini hanya bertahan sebentar saja sebelum dijual. Beat hijau ini milik kakak perempuan saya.

Cuma minjem doang.

Kurang lebih satu tahunan pakai beat ijo.

Datanglah Vario CBS ISS. DP 2 jutaan, kredit sampai 3 tahun.

Milik siapa?

Milik orangtua. Meski nama tertera di atas kertas adalah saya.

Saya bantu cicil motornya dari penghasilan saya yang tidak seberapa itu.

Kalau diceritakan detail. Sedih pokoknya. Motor ini bersama dengan saya dari tahun 2014 sampai tahun 2022. Masih sangat enak dipakai. Bentukannya juga masih baik.

Motor ini dijual dengan urgensi untuk menutupi tanggung jawab yang harus dibayar.

Jadi, memang benar kalau yang ada cuma titipan.

Bye motor.

Bukan Urusan Gaya-Gayaan Kalau Naik Sepeda

Kalau saya bayangkan misalnya tempat kerja saya jauh kayak dulu. Tidak memiliki motor adalah jenis cari capek yang lebih dan boros banget.

Berhubung hampir dua tahunan saya pindah tempat kerja, jarak dari rumah hanya 1.8km, pilihan naik sepeda saya pikir jadi pilihan bijak.

Naik sepeda buat kerja ada aja yang saya dibilang “keren”.

Meski jadi heran sendiri.

Saat pandemi lalu, tahukah kalian harga sepeda melambung seiring dengan peminatnya yang banyak?

Sekarang? Sudah lebih mereda.

Sepeda yang saya pakai ke tempat kerja adalah jenis sepeda gunung. Enteng dipakai dan ringan diangkat di atas trotoar kalau saya males puter balik dan pengennya langsung nyebrang aja.

Kalau mode males goes, bisa sampai ke tempat kerja 20 menitan.

Kalau lagi kebut bisa 15 menit saja.

Efeknya saya lebih gosong dari sebelumnya.

Tapi, meski dilihatnya ngenes di mata Ibu saya.

Saya baik-baik saja.

Mungkin saya sedang ditagih Tuhan karena punya kaki yang sehat.

Kalau ada pilihan, saya akan naik motor seperti biasa. Namun, tiap pilihan menanggung tanggung jawabnya sendiri-sendiri.

“Lho kenapa tidak beli motor? Kan punya gaji.”

Saya cengngengesan aja kalau ditanya begini. Berpikir kedepannya agar tidak berkomentar panjang-panjang tentang kehidupan orang lain dengan pengetahuan yang sedikit tentang orang tersebut.

Saya Melihat Kebanyakan Orang Terburu-buru

Saat naik sepeda dengan santai apalagi di pagi hari. Saya banyak melihat orang terburu-buru.

Sedangkan saya melaju sesuai dengan gerakan tenaga yang bertumpu pada kaki.

Saya coba nikmati. Hari-hari belakangan terasa begitu panas. Tapi kalau sudah naik sepeda jadi kerasa anginnya.

Alhamdulillah.

Pernah nyobain jalan kaki. 28 menit dengan kecepatan saya jalan kaki yang kayak orang mau buru-buru mau eek.

Capek banget ternyata. Telapak kaki juga sakit. Gimana mamang-mamang yang jualan dengan cara jalan kaki sampai jauh yaaa?

Setidaknya…

Sepeda yang saat ini saya pakai adalah sepeda terbaik yang pernah saya miliki.

Dipakainya enak.

ban sepeda milik sepeda *eh

Enteng banget.

Memang ada capek-capeknya jika dibandingkan naik motor.

Kalau dikaitkan dengan kepemilikan akan barang, hidup saya masih gini-gini aja. Malah lebih banyak yang harus saya relakan.

Saya juga pengen punya motor sendiri. Tapi nanti deh, belum mampu.

Hahaha.

Kalau ingat motor lagi. Saya bikin kalimat, “buat apa sedih atas apa-apa yang tidak pernah saya miliki? fokus sama yang dipunya saja.”

2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.