Sebuah Tulisan, Sebuah Jendela

Sebuah Tulisan, Sebuah Jendela

“Seorang pejalan kaki”. Demikian sebuah kalimat yang pernah saya tuliskan pada blog lama pada halaman “about me”. Sebenarnya bukan tanpa sebab saya menuliskan demikian, selain saya memang agak kesulitan menulis “about me” di blog.

Heuh, masih saja kurang kreatif kalau nulis “about me” sampai sekarang pun.

Jadi maapkeun, buat yang buka halaman “ini” dan kecewa. Padahal ada aja yang klik halaman itu tiap harinya… Merasa dikepoi.

Ada apa dengan seorang pejalan kaki?

Saya suka jalan kaki, di manapun. Di sebuah kota yang saya kunjungi atau kota sendiri. Berjalan kaki adalah hal mendasar bagi manusia untuk “mengalami”. Akan banyak ketidaknyamanan saat berjalan kaki, tapi di situ letak menariknya. Mungkin saya akan kepanasan, kehujanan. Bisa juga kemungkinan ditabrak, diganggu, atau hal buruk lainnya menimpa saya.

Tapi…

Kita bisa berjalan bersebelahan dengan seseorang tanpa canggung. Sekedar tersenyum pada orang asing yang kita temu di jalan, atau berkata “permisi”. Ruang personal bisa sedikit terbuka tanpa perlu kita mengenal dengan siapa kita berjalan, tersenyum, atau bertegur sapa.

Kita tidak pernah tahu perihal apa yang kita temui saat berjalan kaki, mungkin bertemu dengan teman lama yang kencang sekali memanggil nama kita (saya pernah begini), beberapa obrolan ibu-ibu di pinggir jalan yang kadang terasa begitu lucu, mungkin juga kejadian aneh, atau mungin juga menemukan – cinta. *halah pret.

Kemudian, dalam dunia blog ini saya juga suka berjalan kaki, blogwalking lah istilahnya. Di hari dan jam tertentu, saya membiarkan diri saya mengklik dari satu blog ke blog lainnya. Sangat random.

*intronya kepanjangan ya? ah sudahlah namanya juga kategori obrolan. Tugas kalian membaca, tugas saya menulis. :p

*lanjut…

Saya memberikan kesempatan pada diri saya untuk “mengalami” (blogwalking). Dan saya melihat tulisan kalian seperti sebuah jendela. Sebuah jendela yang memberikan  kesempatan pada saya untuk masuk pada “kehidupan yang lain” namun levelnya bisa ditentukan sendiri.

Emm… gimana yha maksudnya? Levelnya bisa kita ditentukan sendiri?

Setelah membaca (mengintip pada jendela), kita hanya bisa menerka, menduga, memberi kesimpulan menurut pandangan kita, berprasangka. Oh sepertinya yang menulis itu begini, sepertinya begitu. Begitu kurang lebih.

Jadi, kalau kamu sedang membaca tulisan saya, kamulah pengintip/pengamat. Kalau saya membaca tulisan kamu, berarti saya sedang mengamati kamu, ngintipin kamu. *eh

Yup, sebuah tulisan, sebuah jendela.

Sebuah Tulisan, Sebuah Jendela
sumber gambar : pixabay

Sebenarnya ada apa dengan jendela?

Saya pernah bertanya pada salah satu bloger mengapa dia menggunakan nama djendela pada web yang sedang akan dibangun? Jawabannya cukup singkat, “karena berangkat dari komunitas baca dan buku adalah djendela dunia”.

Masih banyak ungkapan menggunakan jendela. “Mata adalah jendela hati”, katanya kalau mau melihat orang berbohong atau tidak, ulus atau tidak, tatap saja matanya.

Yakkk. Mari tatap-tatapan. Haha…

Ada lagi, jendela menjadi sebuah metafor, Bill Gates menggunakan “jendela” sebagai merk dagang.

Coba bayangkan jendela secara sebenarnya

Sebuah jendela. Ia ada secara fisik dan memisahkan bagian dalam dengan luar, sebuah sekat. Tapi, secara visual dia membaurkan kedua ruang tersebut. Orang di dalam bisa melihat ke luar, yang di luar bisa melihat ke ruang bagian dalam. Di sini muncullah peran, ada yang diintip dan pengintip. Pengamat dan orang yang diamati.

Pada kenyatannya lewat sebuah jendela, kita bisa mendapati banyak kejadian, bisa sengaja diperlihatkan oleh orang di dalam ruangan atau memang tidak sengaja diperlihatkan.

Lewat sebuah jendela, kita sebagai pengamat mungkin akan melihat penghuni rumah yang sedang bertengkar dengan pasangannya, seorang suami yang mencium istrinya sebelum berangkat kerja, seorang gadis yang sedang meminum teh sambil membaca, seorang lelaki yang sedang ngupil, seorang istri yang menghabiskan banyak waktu seorang diri karena suaminya kerja di luar kota, sepasang pengantin baru yang sepertinya enggan keluar kamar (karena gordennya tertutup terus), dsb.

Tapi “jendela” yang kita buat di jagat raya blog adalah…

Adalah sesuatu yang memang sengaja kita tampilkan. Sesuatu yang memang secara sadar dibuat, telah mengalami penyuntingan sebelum tomblol publish ditekan.

Lalu ketika ada yang bilang saya seperti bukan saya pada blog ini…

Saya hanya menampilkan jendela yang berbeda. Rumahnya masih sama, yang menulis tetap saya. Mungkin memang jadi jendela kecil dari jendela sebelumnya. Itu saja.

Jendela lama saya tetap ada. Jika ada tulisan yang memang OOT sekali dengan niche/ceruk yang dalam blog ini. Rencananya akan saya lempar ke portal web lain atau saya simpan. Hehe…*eh nulis apa yha emangnya? *Mbuh sih *ditoyor pembaca.

Peran sebagai pengintip pengamat

Kita tentunya adalah pengamat. Kita adalah pembaca tulisan orang lain di samping memang kita juga penulis.

Pengamat tetaplah hanya bisa menduga. Apa yang terjadi di balik jendela, seutuhnya kita tidak tahu. Karena semua hanya dugaan, kita bisa salah. Hanyalah sesuatu yang kita pikir tahu.

Masalah gorden yang ketutup terus di atas, bisa jadi kan gordennya rusak? heu.

Dan…

Saya masih Momo yang sama 😛

6 thoughts on “Sebuah Tulisan, Sebuah Jendela

  1. Selalu keren tulisan mbak Momo mungkin sekeren orangnya , itulah dugaan saya setelah mengintip mbak Momo dari jendela he he he ….
    Yang pasti ide jendela dikaitkan dengan dunia ngeblog ini, luar biasa ….. sy rasa belum pernah ada bloger menuliskannya.
    ok sukses selalu mbak Momo!

    1. kayaknya saya nggak ada keren-kerennya sama sekali Bu.
      hahaha…

      terima kasih sudah membaca deh pokoknyaaa 🙂

  2. Akhirnya ngeklik laman about juga.. dan isinya “sedang perbaikan” 😀
    Selamat benah-benah, Mbak. nanti saya intip lagi lewat jendela.~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *