Sedikit Saja Tentang Kematian

Setelah tahu bahwa Kimi Hime ternyata bisa nyanyi dan suaranya bagus. Akhirnya saya kepikiran untuk membuat sedikit tulisan tentang kematian.

Lhaaa apa hubungannya?

Nggak ada. Nggak ada hubungannya memang. Justru kalau punya hubungan, malah nanti ruwet, susah mengurainya. *lahhh.

*sekian pembukanya. Wkwkwk….

Memang sudah hukum alam. Jika yang hidup akan mengalami mati. Saya pernah hidup. Pasti akan mengalami mati. Pada suatu hari nanti. Kematian akan datang tanpa peduli. Semau-maunya kapan datang di umur berapa. Dalam keadaan sehat atau sakit. Sendiri atau bersama. Tua atau muda dan kombinasi-kombinasi kemungkinan lainnya.

Kematian, pasti akan menemui saya. Pada saatnya.

Tapi sebelum ngomong soal kematian. Saya mau sedikit cerita tentang bagaimana saya lahir.

Katanya begini… Mencoba Singkat aja.

Ibu saya, kehilangan anak pertamanya saat masih bayi, mungkin belum genap setahun umurnya. Ibu saya sedih bukan main. Tak lama, Ibu mengandung dan melahirkan kembali. Bayi laki-laki *lagi. Tumbuh dengan ribuan khawatir ketika anak itu terserang sakit. Takut, anak itu diambil Tuhan lagi.

Yoih… Abang saya ini anak kesayangan pol dah. Yang diomongin doi melulu, sampai kayak radio rusak.

Sekitar tiga tahun kemudian. Bayi ketiga lahir. Bayi perempuan, yang katanya lahir tanpa rasa sakit dan keluar begitu saja saat tengah malam. *kok ngeri yaaa.

*nahh kalau yang ini anak kesayangan Bapak.

Tiga tahun bertambah lagi. Bayi keempat lahir. Bayi lelaki.

Sampai di sini. Kedua orangtua saya berhenti untuk memutuskan memiliki anak kembali. Dipikirnya sudah cukup. 3 anak sudah cukup.

Hingga kakak saya yang ketiga tumbuh dengan tidak sehat. Ginjalnya rusak, kedua-duanya. Bolak-balik rumah sakit dengan kondisi tubuh yang sering membengkak.

Kemudian vonis dokter itu keluar. “Kalau anak Ibu bisa hidup sebulan lagi. Anak Ibu jagoan.”

Disitulah Ibu saya memutuskan untuk lepas KB dan punya anak kembali. Sebagai cadangan kalau-kalau kakak saya tidak mampu bertahan.

Tapi, manusia selalu hidup dengan nasibnya masing-masing. Manusia bisa bilang apa saja. Dengan kehendak Tuhan, kedua ginjal itu sembuh. Menurut cerita, Ibu saya pusing lihat anak sakit sampai puasa 2 hari dan mimpinya bawa kakak saya ke rumah sakit.

Setelah puasa 2 hari. Kakak saya dirawat lagi, berobat jalan, kakak saya berhasil sembuh total. Tanpa kambuh sampai sekarang. Padahal kata dokter dibilang ginjal rusak begitu nggak ada obatnya.

Selang beberapa lama setelah Kakak saya bertahan hidup dan sehat… hamidun lagi dahhh Ibu saya…. (baca; hamil). Hamil siapa? Hamil saya. Satu-satunya anak yang dilahirkan pada rentang usia ibu saya 30an. Tepatnya 33 tahun. Jarak umur dengan kelahiran sebelumnya 8 tahun. Karena memang tadinya nggak akan mau punya anak lagi.

Aahhhh yaaaaaaaaa…..

Setelah tahu hal ini. Saya sering mikir. Saya lahir atas dasar pertimbangan pengganti Kakak saya, yang kagak mati juga sampai sekarang *wkwkw digeplak Emak. Suka mikir gini… Kalau saja…. kalau saja… kalau Kakak saya tumbuh dengan sehat. Kalau saja ginjalnya nggak rusak. Saya mungkin nggak akan lahir.

Saya nggak akan ada.

Walaupun sejatinya memang saya itu tidak ada. *ahh sudahlah.

Katanya pula, lahiran saya adalah yang paling menyiksa. Paling sakit dan nggak mau keluar juga.

Kakak perempuan saya selalu bilang pada saya begini; saya dilahirkan saat ibu saya sudah bosan punya anak. Saya lebih sering jadi bahan mainan Kakak saya. Saya bahkan punya pengasuh sampai saya kelas 3 SD.

Yang sedikit saya ingat. Saya selalu menangis ketika ditinggal pengasuh saya pulang ketika sore, kalau ditinggal Ibu saya sih bodo amat.

Dan anak itu pun tumbuh jadi saya…

Anak yang dari TK selalu berangkat sekolah sendirian. Tidak pernah menangis. Tidak pernah punya rambut panjang seperti anak perempuan lainnya karena selalu dipotong dengan alasan nanti nggak ada yang ngurus.

*percayalah…. urusan ngiket rambut itu cukup ribet.

Rambut saya hampir selalu pendek. Saya hampir seperti lelaki kalau nggak pakai rok dan anting.

Btw, kebiasan itu kebawa sampai sekarang. Saya males nyisir atau ngurus rambut. Suka-suka rambut saya mau gimana. Ahahha

*lhoooo kok malah curhatnya kepanjangan.

Kembali ke soal kematian…

Pernah sakit? Pernah sakit yang sekiranya kayak udah nggak tahan lagi?

Saya pernah. Saya merasakan malam dengan demam 40 derajat celcius begitu panjang. Saya merasa ruangan di mana saya tidur begitu mencekam sampai rasanya mencekik.

Rasanya sakitnya menusuk sampai saya bilang pada Tuhan. “Jangan lama-lama. Kalau mau saya pulang. Tolong segerakan.”

Tapi kayaknya Tuhan jawab gini. “Halahhhh…. jangan baper-baper. Baru sakit segitu. Belum waktunya, katanya mau jalan-jalan jauh? Yaaa udah sehat lagi aja.”

Wkwkwk…. *ngarang banget akutu. Lhoo tapi tiap hamba selalu punya cara untuk bermesraan dengan Tuhan ‘kan?


Berita Tentang Kematian yang Mendadak…

Suatu ketika, saya mendapat berita tentang kematian mendadak seorang teman. Belum lama saya melihatnya di mal. Beberapa hari kemudian ada kabar dia meninggal mendadak usai lari-lari sore hari.

Kabar lainnya, kematian seorang teman SMP. Meninggal di usia 21 tahun. Sebelum hari kepergiannya, saya pura-pura tidak melihatnya karena memang lagi males aja sama teman yang satu itu. Padahal, itu adalah hari terakhir saya melihat dia. Saya sangat menyesal tidak menyapanya. Sangat. Kalau saja, waktu bisa diputar ulang. Saya akan memeluknya.

Ada lagi, Kakak dari Bapak saya yang tiba-tiba menghembuskan napas terakhir ketika sedang duduk dan mengobrol di depan rumah. Tanpa sakit apapun.

Mikir juga…

Mungkin saya mati mendadak. Mungkin saja. Kalau memang sudah digariskannya demikan.

Lalu bagaimana nanti saya di hadapan Tuhan setelah kematian?

Sudah lama. Saya nggak pernah berani hitung-hitungan masalah pahala dan dosa. Sungguh saya nggak berani. Saya juga bukan orang baik, upaya saya hanya ada di level “semoga” Tuhan nggak marah atas apa yang saya lakukan.

Saya pun berdoa

Aaahhh doa yaaa doaaa… doa itu apa?

Berdoa bukan hanya urusan meminta atau menyapa. Berdoa adalah urusan menyadari, menyerah, memahami bahwa tidak ada yang berjalan pada diri kita selain kasih sayang yang diberikan Tuhan. Sehingga apa yang keluar dari kita adalah memberi kasih sayang yang lebih besar.

*ngutak-ngutik kata-kata. Bisa nulis ginian….

Yha.

Saya tidak bisa memilih dilahirkan dari keluarga apa dan bagaimana. Saya tidak bisa memilih kisah yang menyertai saya sebelum kelahiran. Saya bayi yang lahir dari kisah pedih seorang Ibu yang takut kehilangan anaknya lagi.

Dan jika kematian itu terjadi pada saya. Maka bukanlah sebuah kematian, ia hanya jalan menuju kesejatian.

Lalu doa saya adalah…

Jadi apapun saya nggak masalah. Asalkan Tuhan nggak marah sama saya. Entah saya itu ada, diadakan, atau ditiadakan kehadirannya.

Itulah… jawaban pendek saya kalau ada yang tanya. Apa keinginan saya.

Saya jadi apapun nggak masalah. Asal Tuhan nggak marah. *bucin nih.

Sekian tulisan saya… sedikit tentang kematian, kebanyakannya curhat. *judul sebenarnya.

 

2 komentar pada “Sedikit Saja Tentang Kematian

  • 15/05/2019 pada 3:47 AM
    Permalink

    “Kematianmu adalah apa yang terjadi pada orang lain.” — Sherlock Holmes.

    Balas

Tinggalkan Balasan