Sedikit Tentang Rumah

Sepertinya membaca tentang bagaimana orang-orang punya mimpi bagaimana ia akan membangun rumahnya sangat menarik ya? Ingin rumah dengan sedikit ruang di bagian depan untuk bercocok tanam, ingin ruang dengan jendela besar dengan pemandangan yang bagus atau ingin ini ingin itu banyak sekali… Semua-semua dapat dikabulkan… Dapat dikabulkan dengan dengan… *kemudian membekap mulut sendiri.

Kalau saya sih belum punya rumah dalam arti kepemilikan atas tanah dan bangunan yang berdiri di atasnya. Seperti yang kalian tahu, kalau saya punya tanah pun itu masih dalam pot atau polibag. Itu saja.

Sedikit Tentang rumah di Lingkungan Sekitar?

Seorang yang saya kenal (sudah meninggal tahun lalu) sama sekali tidak merubah rumah miliknya walaupun dia mampu untuk itu. Saya yakin, Kakek ini mampu beli hotel kalau dia memang mau. Tapi, ia tinggal di rumah lawas yang wajahnya tidak pernah berubah sejak pertama kali rumah itu dibangun. Paling-paling yang baru hanya cat rumahnya saja.

Alasannya? Rumah itu adalah titik awal di mana ia memiliki sesuatu. Di mana ia dan mendiang istrinya dulu membesarkan anak-anak dan membangun semuanya. Berbanding terbalik dengan rumah milik anak-anaknya yang seringkali berrganti wajah tiap ada tren baru.

Mimpi Kakek tersebut terwujud, untuk hidup dan mati di dalam rumah itu.

Ada lagi, satu buah rumah besar yang letaknya tidak jauh dari rumah orangtua saya. Rumah dengan dua lantai yang punya kamar mandi super besar dan tangga yang meliak-liuk seperti bodinya Lucinta Luna. Jendela rumah yang besar dan halaman depan yang besarnya bisa menampung amarah netizen Indonesia. Pokoknya gede-gede lah kaya punya Lucinta Luna.

Sayangnya rumah sebesar itu hanya difungsikan sebagai ruang transit di mana baru dihuni jika yang punya rumah memang sedang pulang kampung. Gosipnya rumah itu banyak dihuni hantu. Saya bahkan pernah melihat sosok Mbak-Mbak rambut panjang bergaun putih di teras belakang rumah tersebut sedang berdiri membelakangi saya yang posisinya lagi di depan rumah sepupu saya.

Alih-alih takut, saya malah mikir jadi hantu kayaknya enak juga ya? tinggal di rumah segede gitu tanpa mikir banyar listrik dan anu-anu lainnya.

Sebentar Saja Menengok Drama Korea

Dalam Full House (2004), kita disuguhkan bagaimana seorang perempuan rela menikah secara kontrak demi mendapatkan kembali rumah yang ayahnya pernah buat. Reply 1988 (2015) adalah drama di mana setiap sudut rumah sederhana ataupun gang-gang kecil menjadi saksi bagaimana penghuninya hidup. Kalau dalam  drama Korea Because This is My First Life (2017) ada karakter Nam Se Hee yang membagi otaknya menjadi dua bagian yaitu tentang rumah dan kucingnya. Menariknya, Se Hee bahkan sudah merencanakan akan meninggal di kamar yang mana.

Saya Pikir Rumah Bukan Sekedar Ruang

Menarik memang melihat orang-orang yang menginginkan detail pada rumah impiannya. Tapi, saya pikir rumah bukan hanya sekedar mengenai apa yang direncanakan, tapi juga ruang tentang “apa yang terjadi di dalamnya”.

Jika ruang adalah tentang sesuatu yang visual maka di dalamnya ada komunikasi. Pernah nonton Reply 1988? Di episode terakhir ada adegan di mana tiap sudut lingkungan rumah diperlihatkan. Tidak ada yang mewah di dalamnya, hanya ruang-ruang yang dikosongkan karena penghuninya akan pindah dan jalan-jalan sempit. Hal itu sangat berhasil mengoyak-oyak saya ditambah dengan ruang kosong di sepatu seorang Ayah yang Putrinya melangsungkan pernikahan.

Curhat Seorang Teman

“Hotel yang gue tempatin sekarang bagus banget. Tapi, gue kok kangen kasur di rumah ya? Kamar yang sempit dan kasur yang sama sekali gak empuk itu.”

Pesan itu dikirim secara semena-mena pada pukul 1 pagi WIB. Saya balas secara semena-mena pada pukul 10 pagi. Masih lebih cepat dibandingkan JNE yang paket YES kan paling tidak?

Sudah bukan hal yang aneh, kadang suatu hal membuat kita pergi jauh. Dari ruang satu ke ruang lain. Ada ruang-ruang pergi kemudian ada ruang-ruang tinggal. Tidak ada yang benar-benar menetap. Saya bahkan lebih senang menggunakan istilah bahwa manusia hanyalah penghuni waktu, bukan penghuni ruang.

Karena penghuni waktu, maka wajar saja bahwa semuanya bergerak seperti waktu, begitu cair dan sulit ditebak. Barangkali, kita hanya sekedar perahu-perahu kecil di lautan lepas. Mungkin juga dibutuhkan jangkar yang akan membuat kita ingat akan pada suatu barang, momen, atau orang-orang. Sebuah jangkar yang meningatkan kita akan keintiman pada sebuah ruang dan tak lelah memberi makna padanya.

Jadi, apa sih rumah itu yang sebenarnya?

Yang jelas rumah bukan sebuah sekedar ruang transit.

Entahlah. Tapi, saya mau menggombal saja bagaimana?

Arti rumah bagi saya?

Kamu.

Tapi siapa ini, hahahaha….

ditulis sambil bersin sebanyak 12 x. Seandainya bersin bisa ditukar dengan tusukan sate.

ahhh sudahlah. Selamat liburan.

Nam See Hee dan AHHH SUDAHLAH

 

 

3 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top