Cerita Momo Cuma Nulis Aja Semar Tidak Pernah Jatuh Cinta

Semar Tidak Pernah Jatuh Cinta

Semar Tidak Pernah Jatuh Cinta – Semar, mungkin tidak terlalu terkenal di kalangan milenial melebihi para influenser. Mungkin beberapa orang hanya tahu Semar Mesem dari lirik lagu dangdut. Atau beberapa orang lainnya tahu semar sebagai tokoh fiktif dalam pewayangan kemudian tidak lebih.

Seberapa jauh kalian tahu sosok Semar?

Kalau saya, sedikit mengingat ketika Emak bilang, “Semar itu Sang Hyang. Semar kalau kentut, dunia bisa rusak. Kalau sudah ngamuk. Semuanya jadi berantakkan. Tapi Semar jadi orang biasa, padahal ia setara dengan Dewa.”

Bukan setara dengan segelas… ahhh sudahlah. Sudah basi.

Kisah dalam Pewayangan

Berhubung saya adalah orang yang demen sama orang yang bercerita, jauh-jauh dulu deh mau ceritanya bohong atau tidak. Kadang suka sedikit mendengar kisah pewayangan yang dituturkan oleh Dalang. Menurut saya, Dalang ini unik bener cuy. Bisa cerita macem-macem padahal kalau diambil benang merahnya, itu bisa kelar beberapa menit.

Kalau ada wayang pentas, biasanya tanya dulu. “Lakone apa?”

“Petruk dadi ratu.”

“Ohh.”

Ohhhhhh yaa udah tahu. Tapi ya kadang masih aja dilihat.

Alhasil ada aja saya punya buku yang seperti komik tapi ceritanya wayang. Kalau ini bukunya Mbah Tejo.

Berbekal keingintahuan juga, belilah saya beberapa tahun lalu buku berjudul Arus Bawah tulisannya Emha Ainun Najib.

Cover depannya ada gambar Semar dengan peci Maiyah. Kali Semar membawa bendera yang berkibar di belakang tubuhnya bertuliskan Arus Bawah. Sebuah buku yang katanya masuk kategori Novel.

Padahal…

Pas saya baca terasanya kayak baca buku filsafat.

*kemudian menangis.

Sedikit Saja Tentang Semar

semar

Semar itu, seperti buah yang punya banyak lapisan. Dari bentuk tubuhnya saja akan jadi perbincangan yang panjang, tenang saja, tapi saya nggak mau panjang-panjang lah. Wong saya cuma tahu sedikit kok.

Semar, samar, tidak jelas. Ada juga yang menyebutnya Sang Hyang Ismoyo, berasal dari kata maya, tidak nyata.

Kalau dilihat, semar seperti lelaki, tapi sebenarnya tidak jelas lelaki atau perempuan. Wajahnya tua sekaligus anak-anak. Jenaka seperti anak-anak yang lugu. Tapi punya wajah tua. Ia punya jiwa tua sekaligus anak-anak. Polos sekaligus bijaksana.

Perutnya besar, bulat menggambarkan bumi. Warnanya hitam, yang lagi-lagi merupakan warna bumi. Btw, kalau kalian suka naman-naman, kalian pasti tahu ciri tanah subur diantaranya adalah berwarna hitam, karena menandakan unsurnya lengkap untuk membuat tanaman subur. Bumi juga sejalan dengan kebijaksanaan. Diapakan saja, bumi tetap setia memberikan yang terbaiknya. Ketika kita berpulang, bumilah yang menerima kita apa adanya. Hitam juga simbol keteguhan.

Melihat postur tubuhnya, Semar ini nggak jelas dia duduk atau berdiri.

Satu tangan Semar menunjuk ke atas, dan satu tangannya lagi menunjuk ke bawah. Segala ilmu pengetahuan berasal dari Atas dan harus diturunkan ke bawah.

Ini pas mandeng cover bukunya Mbah Nun, waahh kayaknya punya judul Arus Bawah salah satunya sebab hidup adalah aliran energi dari Atas ke bawah.

Apa bener? Yaaa mbuh. Wong cuma ngarang-ngarang sendiri. Kan baru lihat cover doang saat itu.

Kalau dengar suara semar tertawa yang dimainkan sama Dalang, Semar setelah tertawa pasti kayak terisak “hiks” gitu. Matanya selalu kelihatan mau nangis kayak jari kakinya kepentok meja, tapi bibirnya lebar seolah dia tersenyum.

Jadi, Semar sudah seperti kumpulan dari paradoks yang nggak ada habisnya.

Semar Tidak Pernah Jatuh Cinta

Yaahh. Sampailah pada kalimat Semar tidak pernah jatuh cinta. Ada banyak sih yang “tidak” pada Semar, diantaranya tidak lapar, mengantuk, jatuh cinta, bersedih, lelah, sakit, kepanasan, kedinginan.

Intinya, Semar tidak bergantung pada sesuatu yang di luar dirinya.

Kalau kita-kita ‘kan lihat yang bagus-bagus sudah gampang suka aja. Lihat foto bagus, ditekan love, lihat bacotan keren dikasih love, liat yang lain-lain dikasih jempol. Lihat tulisan muncul di beranda wordpress.com udah dikasih bintang aja. Padahal dibaca saja belum, aah ada yang begini?

Manusia-manusia seperti kita terlalu mudah terpengaruh sama sesuatu yang di luar diri kita. Melabeli segala masalah dari apa-apa yang ada di luar. Kemudian lupa tentang Sangkan Paraning Dumadi. “yang di luar diri” kemudian menjadi lapisan tebal yang menutup menuju tujuan sejati. Bahkan menjadi lupa diri. Jare Semar gitu.

Tapi kalau kepikiran lagi. Semar ini bukannya tidak cinta dengan apapun. Ada istilahnya Memayu Hayuning Bawana, artinya memperindah keindahan dunia, alias memberi makna hidup. *CMIIW lah.

Saya Sampai Heran Sendiri…

Heran bahwa sosok Semar ternyata ada di beberapa lembaran catatan pribadi yang bahkan saya sendiri lupa pernah menuliskannya.

Waah.

Kalau buka catatan sendiri, walaupun ternyata lebih banyak tentang aib. Banyak juga menuliskan tentang Semar. Bahkan Ponakawan.

Mong-ngomong Soal Jatuh Cinta (Lagi)  biar tulisannya tambah mbulet

Yaaah sama kayak yang semar bilang. Bahwa hidup sudah indah, diperindah dengan makna sejalan dengan pengalaman hidup masing-masing. Tetap teguh, toh hidup sekumpulan paradoks, jangan kagetan. Jangan gampang kepincut. Ingat asal usul dan tujuan.

Jatuh cinta, nggak jatuh cinta, dicintai balik, cinta sendirian aja, cinta dengan manusia atau makhluk lain. Jangan sampai salah makna aja.

Yha dalam hal apapun juga.

Tapi yaa tetep sih. Ngelmu iku kalakone kanthi laku.

Ohh yaaa ada catatan lagi dari Semar

Hidup itu jangan diam, ayo bergerak, ayo berkarya, nggak apa-apa sedikit. Nggak masalah jelek kata orang. Maka karyamu akan abadi.

Yolah bergerak dan terus memaknai.

Selamaaat paaagiii. Saya lapar dan terima kasih masih sudi mampir di sini.

Btw kok judulnya begini yaa? Aah sudahlah, suka-suka yang nulis.

11 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 Comment

  1. Aku gak tau pewayangan, mungkin aku tak pernah lihat pagelaran wayang di tempatku, padahal tempatku desa loh…
    Jadi pengen lihat, tapi biasanya tengah malam yah kalau ada acra wayang kayak gini.

  2. Semar mendem, nggak ngerti itu apa

    Kaki yang kepentok meja pas lagi cantengan…

    Ada yang begini? Banyaaakkk, termasuk saya, huehuehue.

    Kucing teros…

    Sudi nama bapak saya.

  3. Waktu SD aku suka baca2 buku wayang dari perpustakaan gitu dengan gambar-gambar begitu. Dulu tetap tak habis pikir kenapa harus begitu gambarnya.
    Tapi mungkin karena hanya sekedar baca, tak ada sedikit pun nempel. Baru tahu kalau Semar itu ternyata Sang Hyang, kirain hanya lawak2 seperti di Ria Jenaka TVRI dulu

    1. Wayang emang gambarnya penuh arti. Kenapa warna begini dan begitu punya arti sendiri.

      Begitulah Semar yang suka samar. 🙊

  4. tokoh semar, gareng, dkk, dulu sering liat yang di tv.
    dulu sering banget tanya, kenapa semar badannya gede. kenapa ga kayak tokoh lainnya. sampe mbah bosan jawab kayaknya. 😶

  5. Di lingkungan pergaulan saya, seingat saya ada yang mendapat padanan/paraban (julukan) petruk, bagong atau gareng…
    Tapi seingat saya gak ada yang dipadani semar. Gak tahu di tempat lain.., dan sepertinya “padanan/paraban semar kalaupun ada jauh lebih sedikit dari punikawan lainnya.

    Apakah itu mungkin wujud penghormatan terhadap semar?

    Yang paling banyak sih bagong, gendut dikit bisa dipanggil bagong, padahal bagong sama semar lebih besar semar bodinya 😀

    1. Bagong, konon katanya lahir dari bayangan semar. Mulutnya besar, tidak pernah manggil Semar dengan nama Bapak/Romo tapi punya alasan panjang kenapa demikian.