Sepeda Dulu dan Kini

Sepeda Dulu dan Kini – Prie GS menceritakan dalam bukunya, pernah ada di zaman ia hidup. Betapa motor sungguh berharga dan nampak dengan kemewahannya. Ketika naik motor, otomatis beberapa beban kehidupan akan berkurang.

Seperti mudah dapat gebetan dan dipandang “seleb.”

Ada momen dimana pengendara motor adalah yang ditunggu-tunggu. Anak-anak biasanya yang sering lihat. Imaginasi mereka bisa macam-macam, mungkin yang paling banter adalah memiliki motor tersebut.

Mungkin satu dua dimana banyak anak muda yang nonton ulasan atau buka kotak dari ponsel yang flagship.

“Cuma nonton.”

Saat ini motor sudah menjelma seperti barang biasa. Satu rumah bisa lebih memiliki motor lebih dari satu. Sudah seperti sandal saja.

Motor menjadi kendaraan yang jamak dimiliki banyak kalangan dan usia.

Umum banget pokoknya.

Tidak dipungkiri nanti akan hadir zamannya mobil. Tapi saya membayangkannya jadi “ruwed” banget. Dahla, jangan mengkhawatirkan masa depan yang agak jauh dari saat ini. khawatirkan saja cicilan bulan ini dan bulan depan.

*huw.

Ngomongin soal motor dan mobil. Sebenarnya tulisan ini tentang sepeda.

Begitulah saya, untuk menuju inti saja kalian saya ajak muter sana dan sini. Lah mau gimana lagi ‘kan? Tuntutan untuk membuat tulisan unik itu seperti pistol yang ditodongkan di kepala. Meski bayarannya tipis banget.

*hilih curhat duit mulu.

Begini sob.

Sepeda adalah alat transportasi yang saya gunakan waktu masih sekolah. Sebagai anak dari keluaga kere hore, sepeda adalah alat transportasi yang bukan hanya murah, tapi pelakunya juga banyak.

Tidak akan kesepian anak-anak yang sekolah naik sepeda, anak-anak yang lain pun sama seperti saya. genjat genjot demi sekolah.

Maklum saja orang kampung, memuju jalan raya yang suka dilewati orang-orang mudik itu butuh usaha. Naik sepeda salah satunya.

Sepeda yang kami pakai pun biasa-biasa aja. Tidak seperti sepeda keren zaman sekarang yang digunakan kaum di kota yang penuh dengan tekanan sosial untuk ganti sepeda yang harganya bervariasi mahal itu.

Kami-kami naik sepeda juga hanya karena alesan “ya memang begitu”. Alasan filosofis seperti tidak mencemari lingkungan jarang kami-kami pikirkan, atau mungkin tidak pernah kami pikirkan.

Entahlah waktu muda saya mikirin apa.

Di usia muda saya yang lain. Nyatanya saya menemukan banyak sekali keanehan. Fenomena ini muncul begitu kental. Susu kental manis aja kalah kentalnya.

Mulai dari anak-anak yang jarang naik sepeda ke sekolah (sebelum pandemi panjang sob saya jadi saksi bocil sekolah). Kemudian entah aturan dari mana, ketika naik jenjangnya, anak-anak malah ingin naik gengsi dengan menaiki kendaraan yang berbeda.

Misalnya, pas SD naik sepeda.

Pas SMP nggak mau naik sepeda. Maunya naik motor. Pas SMA, gaung naik motor ini lebih kenceng. Padahal sekolahnya deket.

Yaaa pokoknya orang kampung kayak saya sekolahnya deket-deket demi menghemat ongkos. Kalau ada keingininan sekolah di kota, maka harus siap dengan berangkat yang lebih pagi dan ongkos yang lebih banyak.

Pilihan sekolah nggak jauh adalah pilihan bijak.

sepeda dulu dan kini
sumber :pixabay oleh Engin_Akyurt

Alasan-alasan kepraktisan memang tidak bisa dihindari. Tapi alasan gengsi juga sama gaungnya.

Tetangga saya itu, karena ngamuk mau sekolah pakai motor, ngancemnya nggak mau sekolah.

Urusan nanti pas jenjang kuliah beda lagi. Seorang Ibu yang saya kenal, mempersiapkan anaknya untuk bawa mobil kalau anaknya kuliah.

Begitulah, ada hal-hal yang menanjak pada sebagian orang.

Mau ngomongin mobil lagi nih.

Dikalangan tertentu (tahan diri untuk tidak bilang), kalau ada kenaikan pangkat, seakan ada peraturan yang tidak tertulis kalau mereka harus bawa mobil. Teman saya yang masih naik angkot, terus saja disindir sebab belum punya mobil.

Ada apa ini ya sob?

Logikanya, ketika seseorang “naik ilmunya” maka akan jadi orang yang mudah bahagia. Mudah sekali bersyukur akan hal-hal yang ada.

Padi saja tahu maki berisi dia makin ngapain.

Tapi apa logika saya salah apa gimana.

Mbuhlah.

Ini bukannya mereka harus naik sepeda lho ya. Bukan itu maksud saya. Ini tentang pola berpikir saja.

Tiap Naik Sepeda

Meski di saat pandemi, orang-orang lagi getol-getolnya naik sepeda. Latah beli sepeda. Kalau di hari libur banyak yang naik sepeda, bahkan satu keluarga dengan sepedanya masing-masing.

Ada perasaan sepi dalam dada.

Apa karena saya naik sepedanya sendirian?

Lah gimana sih. Bukan itu deh. *nulis sendiri, menyangkal sendiri.

Ada hal yang saya rindukan dimasa lalu, ketika sepeda memang hadir begitu “organik”. Bukan karena dipupuk ini dan itu.

Entah mereka latah saja atau apa.

Tapi baguslah, rezeki orang yang jualan sepeda. Bertahun-tahun lamanya mereka jualan sepeda sampai berdebu sana sini.

Saya Masih Senang Naik Sepeda

Banyak hal yang bisa diromantisasi kalau naik sepeda.

Cuma kok masalah stamina, saya sudah beda dengan yang dulu. Akhirnya naik sepeda yang deket-deket aja.

Maklum, umur makin nambah aja.

Jadi, dalam tulisan ini saya ditampar lagi dengan fakta kalau saya sudah…

dahla.

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *