Sex Education Season 2: Mengingatkan Saya Pada Kejadian Tidak Menyenangkan

Sex Education Season 2: Mengingatkan Saya Pada Kejadian Tidak Menyenangkan – Wew. Kayaknya belum lama saya nulis tentang Sex Education Season yang pertama. Terus kelar aja gitu nonton season yang kedua sepanjang 8 episode hanya dalam beberapa hari saja.

Awal nonton Sex Education kedua episode pertama, biasa sih, masih OMG…!!!! PENGLIHATANKU!!! OTIS, DEMI APA? KOK RAJIN ANU?

Beberapa peran baru juga muncul di season yang kedua. Otis punya pacar Ola, Eric malah di PDKT-in sama lelaki bernama Rahim, padahal Adam juga naksir sama Eric.

Maeve sendiri hidupnya makin tegar aja. Dia berjuang kembali masuk sekolah dan memberikan prestasi. Keprok-keprok sama perempuan muda setegar ini.

Tulisan ini bukan review ya, oleh karenanya saya bakalan lumayan sedikit cerita hal-hal yang saya pikir menarik.

Dibanding yang pertama, saya malah merasa haru di episode 3 dan 7 saja. Selebihnya menikmati dengan perasaan stabil.

Saya Mau Bahas Soal Aimee yang dapat Pelecehan di Bus

Saat itu Aimee mulai belajar bikin kue. Ia mempersembahkan kuenya pada Maeve di hari ulangtahun Maeve. Aimee membawa kue pagi hari ke sekolah dan ia naik bus. Saat itu bus lumayan ramai, Aimee nggak kebagian duduk dan ribet banget sambil bawa kue.

Menyebalkannya seorang lelaki sengaja mendekat dan memainkan yahh itu dekat Aimee yang jelas susah gerak karena bus emang padat dan Aimee juga sibuk menjaga keseimbangan agar nggak jatuh. Gilanya, cairan si lelaki menempel ke celana jins kesayangan Aimee.

Awalnya Aimee nggak mempermasalahkannya. Ngobrol-ngobrol dengan Maeve dan hari itu juga Maeve mengantarkan Aimee pergi ke kantor polisi untuk mengusut masalahnya.

Tidak ada toleransi pada pelecehan. Begitulah Maeve bersikeras padahal Aimee agak nolak gitu memperpanjang sampai ke polisi.

Aimee membawa jins kesayangannya sebagai barang bukti valid, ia perlahan menceritakan kejadiannya dan pulang diantarkan Mbak dan Mas polisi, bareng Maeve juga.

Ternyata Kejadian Itu Bikin Aime jadi Trauma Naik Bus

Aimee yang doyan banget pakai sepatu cantik. Mendadak memilih menggunakan sepatu lari untuk ke sekolah, karena naik bus nampaknya jadi mimpi buruk buat dia.

Saat ia melihat bus melintas dan melihat “si bajingan” ada di dalamnya, ia nggak jadi naik dan malah jalan kaki ke sekolah.

Di kesempatan lain, ia sudah memberanikan diri naik bus. Saat masuk, ia melihat “si bajingan” lagi dan kembali turun.

Aimee Pun Sedih

Enam murid perempuan dihukum sang guru karena salah satunya diduga menulis ejekan pada gurunya menggunakan lipstik di cermin. Mereka diminta membuat kesepakatan yang sekiranya mempersatukan mereka.

Ngobrolah mereka berenam, Maeve, Olivia, Aimee, Ola, Viv, dan Lily. Remaja perempuan enam orang yang harus mencari kesamaan dalam diri mereka sebagai tugas itu hal sulit guys, berantem melulu mereka.

Hingga Aimee memegang pahanya yang dulu pernah kena cairan “Si Bajingan”. Ia tbtb menangis. Kemudian ceritalah Aimee bahwa ia takut naik bus. Rasanya sangat buruk. Saat sang pacar Aimee mendekat, Aimee juga merasa nggak nyaman jadinya. Bawaannya takut dan sedih.

Dan Yha, Akhirnya Para Remaja Perempuan Lainnya Mengisahkan Masing-Masing Kisahnya yang Nggak Enak

Viv bilang, saat masih bocah, kolam renang adalah tempat kesukaannya. Hingga suatu hari ia menyelam dan melihat Bapak-Bapak nggak jelas yang mempertontonkan hal yang seharusnya tidak dipertontonkan. Viv melihatnya di dalam air. Terus pas ia keluar dari air, Bapak-Bapak Gila itu senyum-senyum.

Viv yang polos bilang ke keluarganya, hingga keluarganya melarang ia ke kolam renang lagi. Kejadian itu merenggut tempat kesukaan Viv.

Yhaaa guys, saya juga pernah kayak Viv, cuma beda kisah aja, dulu banget di kolam renang. Saya masih SMP, dia orang pria nggak jelas tbtb memegang paha saya di dalam air. Dua orang. Saat itu saya menampik tangan mereka dan mencoba pergi.

Saya nggak pernah bilang sama siapa-siapa setelahnya. Namun, hari itu mendadak menjadi hari yang buruk dan sama kayak Viv, hal kayak gitu merenggut kebahagiaan saat berada di kolam renang. Bawaannya takut kalau lihat orang ramai.

Adalagi kejadiannya dengan dokter saat SD kelas III.

Saat saya bocah. Saya langganan berambut pendek, anting saya juga sebelah sebab menghilangkan anting salah satu keahlian saya. Saat itu saya sakit dan dibawa ke dokter umum di kecamatan.

Dengan basa-basi dokternya menanyakan jenis kelamin saya. Saat itu saya kecil ada di tempat pemeriksaan dalam posisi berbaring. Alih-alih menunggu jawaban saya lewat mulut. Dokter itu malah “mengintip” celana saya.

Kejadian itu membekas tanpa pernah paham apa maksudnya. Setelah saya sedikit lebih besar. Saya paham bahwa yang dilakukan dokter itu nggak masuk akal. Apakah logis? Bertanya tentang jenis kelamin dengan ngintip celana segala? Saat itu saya pakai celana dengan karet yang gampang banget untuk ditarik.

Setelah besar, saya baru mengatakannya ke Ibu saya. itupun saat kami ada di rumah sakit dan saya membaca nama dokter itu di papan, saat ini dia dokter spesialis jantung. Saya bilang semuanya ke Emak sambil berpesan. Jangan pernah bawa saya ke dokter itu. Jangan pernah.

Di Angkutan Umum Beberapa Kali

Dipegang betisnya sama bapak-bapak nggak jelas. Saya duduk di belakang dan tbtb dia memegang betis saya sambil memijit. Saya kaget, mendadak bingung dan langsung minta turun.

Di lain hari, akhir tahun 2018 di angkutan umum. Paha saya dipegang dan ditekan beberapa kali. Saya singkirkan terus tangannya tapi begitu terus. Sampai ada Mas-Mas lainnya yang ngebantu bilangin si berengsek tadi untuk tidak mengganggu saja.

Adalagi, di dalam kerumunan, seseorang sengaja menggesekkan “itulah” pada saya. Semacam mencari kesempatan dalam kesempitan kemudian ngacir pergi.

Saya Tahu Apa yang Dirasakan Aimee, Rasanya Ada yang Aneh

Saat kejadian turun dari angkutan umum. Saya mendadak diam. Kepala agak susah untuk dibuat mikir. Waktu minta diturunkan di jalanan. Saya nggak langsung naik angkutan lainnya. Saya malah jalan dengan tatapan yang agak kosong. Semacam bingung sambil berkata, “sumpah, saya nggak bisa diginiin.”

Untuk yang kejadian akhir tahun 2018, saat itu saya mau ke Bank. Setelah turun. Saya harus naik angkutan lain. Saya duduk di angkot di bagian depan. Karena masih kalutnya, saya buka pintu mobil aja nggak bisa.

Saat di bank. Saya malah salah nulis terus. Mungkin orang lain ngelihat saya aneh. Tapi mendadak saya lemes kayak lagi puasa dan nggak makan juga. Energi terkuras begitu saja.

Mau ttd juga salah melulu. Saya nulis nama sendiri juga bingung sebentar.

Saya yakin. Kalau saya ditanya pancasila, pasti saya nggak bisa jawab saat itu.

Bukan Tangan Aja yang Kemana-mana, Bahkan Mulut Juga

Stoplah bilang hal-hal nggak penting.

Di twitter, saya melihat potongan video komentator bola yang mengatakan saat kamera menyorot pada penonton wanita yang bersorak sorai. Bilangnya begini, “Ada yang menonjol tapi bukan bakat, ada yang besar tapi bukan harapan, perempuan-perempuan ini yang menghiasi tribun.”

Sedih saya dengernya. Masih aja ada kayak gitu bahkan di media yang disiarkan di mana-mana.

Catcalling itu menyebalkan sekali. Saya sering dapat catcalling ketika di tempat umum dan biasanya malam atau pagi buta. Kalau pengalaman saya di stasiun di kota saya. Mereka menyebalkan, sungguh, terus bicara dalam bahasa daerah dan dipikirnya saya nggak paham.

Saya cerita kapan-kapan deh udah panjang bener soalnya.

Kembali ke serial Sex Education Season 2

Saya nunggu yang ketiga deh. Untuk subplot, pada bagian Aimee saya hanya merasa perasaan senasib aja. Ternyata, saya nggak sendirian rupanya. Bedanya tidak ada tindak lanjut kayak Maeve yang berani menemani Aimee. Semoga di dunia yang katanya udah nggak karu-karuan ini, para perempuan diberi kekuatan yaa. Semoga saya nggak nemu kejadian buruk kayak di atas lagi. Kalian juga.

Terima kasih sudah membaca.

You May Also Like

10 Comments

  1. Ah..aku juga pernah ngalamin mba. Aku sempat tulis juga di blog. Rasanya ya campur-campur.. Sedih, bingung, marah, malu juga.

    Hapal pancasila?? Wkwk..mb momo kepikiran aja sampai ke sana..
    😄😄😅

  2. Betul mbak. Kalau diingat lagi pengalamanku juga dulu stl tbtb dilecehkan boro2 bisa teriak, maki2 pelaku atau ngegetok ubun2nya, justru malah blank. Kayak gak tahu mau ngapain, lemas-gemetar gak jelas. ☹️☹️ Dan sejak itu aku jadi sensitif sama model2 pelecehan dari level terkecil sekalipun, meski dalihnya itu bercanda aja. Susah respek yang begitu tuh meski pelakunya konon orang berilmu.

    Ganbatte Mbak Momo. Semoga kita2 gak traumaan yaa, saling kuatkan. Kalau aku gak berani pergi2 sendirian apalagi naik kendaraan umum kecuali rute pulang ke rumah/ ke Jogja.

    Btw sex education itu serial ya bukam film?

    1. eemmm. otaknya pelaku dijual terpisah layaknya, boro-boro respek sama yang katanya berilmulah kalau kelakuannya begitu.

      yeep. saya bahkan lama nggak naik angkutan umum setelahnya. masih serem kadang.
      waah saya kebiasaan sendirian dan lebih sering sendirian. jadi yaaahh harus maksa berani aja.

      sex education itu serial original netflix. saat ini baru musim kedua.

  3. Ternyata perempuan itu rentan bgt sm pelecehan ya, aku pun gitu. Pas SD tmen cowok sekelasku manggil, trus pas aku nengok dy buka celana & liatin ‘gajah’, aku teriak dy malah ngetawain.

    Gila msh bocah aja udah bs mesum. Seandainya kejadian diulang lagi, saat itu aku ga akan takut, justru malah bilang, “Apaan sih, punya lo kecil cuma segitu doang aja bangga!!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *