Soal Humor (Cuma Kepikiran Aja)

Soal Humor (Cuma Kepikiran Aja) – Saya kadang suka kesal sama orang-orang yang berusaha memberi candaan tapi kok bikin sakit hati. Di lingkungan sering nih kayak gini, apalagi kalau bahasan candaannya adalah status, tubuh, bahkan yang paling konyol adalah tentang profesi orangtua.

Perasaan mereka udah bukan bocah? Tapi kok begini ya?

Tapi anehnya, zaman sekarang suka banget pakai kalimat ini: “jangan dikit-dikit baperlah.”

Waah bukan di situ duduk perkaranya, tapi yaa nggak lucu aja. Banyak hal nggak bisa dibecandain.

Pernah Suatu Ketika Pada Pertanyaan Artis

Lupa di acara apa. Pembawa acara bertanya pada bintang tamunya, “Pilih pria humoris atau pintar?”

Langsung sang bintang tamu menjawab humoris.

Ada Pertanyaan dalam Dada. Yhaa, Dada saya sendiri. Bukan dada ayam.

Sekiranya apa yang membuat pembuat soal menyandingkan kepribadian yang humoris dan pintar? Kenapa keduanya menjadi seolah-olah berbeda? Kenapa woi? Kenapa?

Kalau saya bintang tamunya, yang nanya pasti saya tanya balik. Kemudian acara jadi ambyar.

Begini…

Kadang, kalau mau buat konten yang sekiranya bisa lucu-lucu. Ada yang sumbernya dari logika. Kemudian logika itu dipatahkan. Saya suka materi yang begini, daripada mematahkan hati orang ‘kan? *heh

Syarat agar logika menjadi patah adalah tahu lebih dulu struktur logikanya. Nggak bisa asal bacot. Bisa-bisa nggak bikin bahagia, malah bikin menderita.

Entah kenapa zaman sekarang itu sukanya memisah-misahkan ilmu seolah dua hal yang bertentangan padahal bisa jadi selaras.

Tapi ya sudahlah.

Bersama Orang-Orang yang Humoris Itu Menyenangkan!

Siapa sih yang nggak pengen hidupnya senang? Daripada hidup sumpek ‘kan?

Sayangnya, orang humoris di mata saya ini makin langka aja. Kalau dalam pertemuan apapun, orang-orang demen banget menjatuhkan orang lain demi konten yang katanya lucu tapi sama sekali nggak lucu.

Anehnya, orang-orang kayak begini, selalu dapat panggung aja.

Males saya males!

Kalau Kata Schopenhauer begini:

Humor itu keganjilan atau ketidaksesuaian antara konsep dalam pikiran dengan objek nyata. Humor sendiri juga bisa merupakan keseriusan yang tersembunyi di bawah lelucon.

Ada lagi ironi, semacam kelucuan yang tersembunyi di bawah keseriusan.

Lagi-lagi paradoks lagi bukan? Mumet nggak kalimatnya dibolak-balik? :p

Cerita Tentang Doa Gareng

Suatu ketika Emak saya ngeluh pada suatu pagi. Emak gusar sebab katanya kalau dia berdoa tapi nggak juga dikabul Tuhan.

Saya langsung bilang gini, “ada lho, cerita Gareng yang berdoa sama Tuhan, terus langsung dikabul.”

Begini:

Gareng ingin sekali sukses, kemudian ia berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan, jadikanlah aku yang hanya kipas-kipas doang dapat uang. Tak lama kemudian Gareng menjadi penjual sate.”

Gareng tidak puas. “Ya Tuhan, jadikanlah aku yang hanya goyang-goyang kali saja bisa mendapatkan rezeki.”

Tuhan mengabul. Gareng menjadi tukang jahit.

Masih tidak puas. Gareng berdoa lagi, “Ya Tuhan, jadikanlah aku yang hanya duduk diam sudah mendapatkan uang.”

Kemudian Gareng menjadi penjaga WC umum yang ada di terminal bus.

Hati gareng masih berharap. “Tuhan, jadikan aku yang bisa mengatur orang-orang kaya yang berkuasa.”

Kemudian seketika Gareng menjadi Tukang Parkir.

Hati Gareng belum merasa cukup. “Ya Tuhan, jadikan aku menjadi orang yang berwibawa, tatapan mataku bisa memengaruhi hati orang lain.”

Gareng pun jadi tukang penagih utang profesional.

Masih tidak terima. Gareng berdoa lagi. “Tuhan, aku ingin menjadi orang yang punya banyak pengikut dan pengikutku taat padaku.”

Tuhan menjawab doa Gareng lagi. Gareng menjadi Tukang Angon Bebek.

Gareng terus berdoa. “Tuhan, jadikan aku menjadi orang yang selalu dikelilingi para wanita.”

Dan Gareng langsung menjadi Tukang Sayur.

Pokoknya gitulah, tapi susunan yang saya katakan ke Emak nggak begini.

Gimana? kalian ketawa nggak?

Masalah Tertawa Juga Menarik

Coba kalian posisinya jadi Gareng. Mungkin kalian bakalan sedih. Gareng barangkali akan berhenti sedih setelah berdoa: “Ya Tuhan. Aku mau hidup biasa aja. Penuh tawa. Cerita dan menjadi hamba yang selalu bersyukur atas apa yang Engkau berikan.”

Misalnya lagi, ketika kalian lihat pertunjukan topeng monyet dadakan. Sebagai penonton bisa tertawa melihat monyet yang berlagak dengan alat-alat ajaibnya.

Tapi, saya punya pengalaman kirim foto ke orang tentang pertunjukan monyet tadi, dia bilang apa coba?

“Itu kasihan monyetnya, lehernya diikat.”

Waahh… Ni bocah memandang pertunjukan topeng monyet dengan sudut pandang emosi, dia pakai empati saat lihat monyet tampil. Ini pasti saat nonton sirkus pasti dia menderita sekali.

Setelah dipikir kembali, ternyata untuk tertawa lebih dibutuhkan kemampuan dari pikiran. Bukan pakai hati. Untuk menertawakan kisah monyet yang sedang berlaga, atau kisah Gareng di atas, harus dimatikan dulu sejenak hatinya.

Bebaskan hatimu sesaat. Kamu akan tertawa.

Sesaat aja.

Sesaat.

Lagian kalau ketawa terus jadinya kayak orang gila juga ‘kan?

Menertawai Hidup dan Menertawai Diri Sendiri

Ditulisan yang lama banget (Sudah nggak ada di sini). Saya kasih link ke temen saya yang sudah kenal dari zaman SD.

Sebut saja namanya Mimin.

Mimin bilang dia tertawa membaca tulisan saya. Tidak nyangka saya selucu itu.

Jadi?

Ada yang berpikir saya humoris?

Mungkin itu mitos belaka.

Seringkali saya cuma nulis asal keluar aja. Kayak tulisan ini.

Ujung pangkalnya nggak jelas.

Cuma enak aja menertawai hidup sendiri.

You May Also Like

14 Comments

  1. Humor jdi lucu atau nggak itu juga soal selera sih mba. Sama kayk becandain soal orang tua. Mungkin kyk mb momo anggap gk lucu. Tapi buat orang lain yg gk deket atau malah gk ada ortu mah biasa aja.

    Trus kyk topeng monyet jg. Sy juga sebel klo topeng monyet dianggap lucu. Soalny ya buat sy itu gk lucu dn nyiksa binatang.

    Jd trgntung orang yg menangkap humor itu. Gimana dia nerimanya. Gmpang trsinggung apa nggk. Jadi lucu atau nggak. 😀

    1. Sebenernya ini bisa jadi bahan diskusi sepanjang 3 SKS. Bisa dikaji secara filsafat. Tapi… Aaahh sudahlah. 🤣🤣🤣

      Yoo bisa jadi menurut selera. Manusia itu ‘kan kompleks.

  2. Aku tertawanya tergantung mood kadang. Gak lucu kadang aku ketawain. Yang gak sedih malah aku tangisin. Kenapa aku begini…

    Btw, suka banget bagian gambar anjing gak jelas. Itu kan gak jelas, kok bisa tahu kalau itu anjing? Bisa jadi kan itu kucing terus pura-pura jadi anjing?

    1. Bisa tahu dong itu anjing. Karena pura-pura tahu.

      ‘Kan zaman penuh dengan kepura-puraan?

      Emmmmm… Mungkin karena kamu sudah terbiasa tidak dipahami. Makanya begitu.

  3. Membaca tulisan anda saya biasanya sampai terpingkal2 tapi kenapa sekarang tidak demikian? Eh loh eh #pakeNadaNyaTretanMuslim

    Padahal cerita tentang Gareng nya sangat lucu untuk saya pada waktu normal, mungkin akan saya jadikan guyonan waktu ada yang ngajak ngobrol *kalo ada

    Apakah anda sedang menahan sesuatu? Sepertinya anda sedang… Ah sudahlah, semoga antum baik2 saja.

Tinggalkan Balasan