Teman Minum-Minum

Minum-minum di sini bisa diartikan sebagai kalau haus terus minum, masih haus juga kemudian minum lagi. Jadilah minum-minum. Karena sekali minum nggak cukup. Atau begini; karena minumannya enak di gelas pertama, maka butuh gelas kedua, ketiga, sampai kembung.

Minumnya bisa apa aja.

Air zamzam juga boleh.

Marimas Melon boleh.

Jus sirsak boleh.

Kopi gooday juga boleh.

Apapun deh pokonya. Selagi bisa diminum.

Cap kaki tiga atau cap badak nggak jadi masalah.

Tulisanya ngomongin apa? teman minum macam camilan atau teman minum macam manusia? Atau suasana barang kali?

Jadi, begini cuy…

Saya pernah nonton drakor yang judulnya Be Melodramatic. Di dalam drama itu ada tiga orang perempuan, satu lelaki dewasa yang juga adiknya pemilik rumah dan satu anak SD anaknya salah satu perempuan tadi. Secara status jadi begini: ada 2 perempuan lajang, 1 lelaki lajang, dan 1 Ibu tunggal yang juga lajang. Tapi mereka satu atap. Sebagai saudara dan teman.

Momen yang paling saya tunggu dari drama ini adalah saat mereka minum-minum bareng. Biasanya tak pakai minyak wangi..minum bir sambil makan ayam goreng. Kadang soju dengan makanan lain. Terus teriak-teriak karena besoknya muka mereka bengkak.

Mereka ini suka minum-minum di depan TV. Wajah mereka lurus menatap TV. Tapi mulut mereka sibuk membahas hal yang baru-baru terjadi.

Perasaan paling kuat hari itu!

Di suatu titik. Saya iri.

Bukan soal bertaburan kisah manis di drakor. Tapi, saya iri sama orang-orang yang punya temen minum sebegitunya.

Punya teman yang berbagi tanpa melukai satu sama lain. Bisa bicara apa saja walaupun tentu saja masih ada rahasia yang nggak bisa dibagi. Punya teman yang rela menunggu kita benar-benar mau terbuka. Bukan memaksa bicara.

Punya teman bicara yang tahu kapan diam mendengarkan dan kapan mengizinkan kalimat-kalimat lainya dikeluarkan.

Tidak saling tindih menjadi pembicara. Tapi menyediakan ruang. Bahkan ruang untuk merayakan kesedihan dan kebahagiaan.

Jujur Saja, Punya Teman yang Nyambung itu Susah. Itu kayak yang “barang langka”

Jauhkan pikiran kalian dari kekasih, pacar, pasangan, atau apalah istilahnya.

Ini murni teman, yang nggak memandang status, umur, jenis kelamin sampai agama. Hahaha.

Teman minum-minum. Teman bicara. Teman diskusi, alias bisa sampai ke titik sinau bareng.

Saya hidup di keluarga yang punya kesibukannya masing-masing. Bicara terbuka dengan orangtua adalah ketidaknyamanan hingga usia saya saat ini. *ini nggak usah dibahas, nanti panjang.

Saya suka berinteraksi dengan orang lain kok! Bukannya nggak suka manusia.

Emak saya bilang rapot saya di TK bilangnya saya tidak bermasyarakat. Katanya saya anak yang cenderung tenang dan nggak punya banyak teman.

Emang! Sampai sekarang begitu kok.

Tapi kalau udah gila ya gila aja. Sulit dibendung.

Melihat tahun 2019 yang lumayan sepi dan waktu luang yang cukup di bulan tertentu. Akhirnya saya menuliskan daftar orang yang akan saya ajak minum-minum. Sampai ke luar kota pun saya jabanin. Demi ketemu sama teman-teman lama ini.

Beberapa sudah ketemu. Beberapa masih belum kesampaian.

Kesampaian deh  ketemu teman yang entah sudah berapa tahun nggak ketemu.

Kalimat pertama yang udah nggak asing lagi;

“Kurus banget lo, perasaan dulu nggak gini.”

“Nggak masalah. Biar kayak Gong Hyo Jin.” *terus kudu piye saya? Nesu? Sakit hati? Tentu tidak.

Dan diantaranya ada obrolan begini; *T=Teman dan S=Saya

T : Lama nggak ketemu. Bilang apa ke Mimi? Nggak diomelin?

S : Bilang sebenar-benarnya. Nggak diomelinlah.

T : Terus jauh-jauh? Berani?

S : Selain pemberani, saya manusia dewasa yang menghasilkan uang dan menghabiskan uang. Nggak usah banyak mengernyit. Heran.

T : *tertawa.

Kemudian pembicaraan mengalir apa adanya. Kebanyakan teman saya yang satu ini sambat tentang masalah keluarga, tentang anak juga. Tentu saja nggak akan saya beberkan di sini. Hingga pada perbincangan ini.

T : Saya udah males komunikasi sama Anu. Masa dia bilang kenapa saya kok anu sih? Itu bikin sakit hati.

S : *mengangguk.

T : Tapi kayaknya kamu berubah. Itu omongan yang tadi, belum pernah kepikiran. Tapi kayaknya masuk akal juga. Kenapa nggak dari dulu cerita sama kamu, Dam.

S : Tahu nggak?

T : apa?

S : Makanan dalam kaleng diciptakan pada tahun 1810. Lalu pembuka kaleng diciptakan pada tahun 1858. Aneh bukan?

T : Ya. Jauh jaraknya.

S : Tapi yang kayak gitu terjadi. Terkadang sesuatu yang berharga datang terlambat. Seperti hal lain yang terjadi pada kehidupan.

Kami pun tertawa. Entah bagian mana yang lucu. Seperti kata salah satu karakter dalam drama Because This is My First Life; lebih mudah menjadi gila daripada menjadi orang yang menyedihkan.

Namun, kami sama-sama tahu bahwa menertawakan suatu hal pasti butuh kelapangan hati.

Minuman dalam sebuah gelas…

Yang menggembirakan dari tahun kemarin adalah saya jauh dari masalah lambung. Minum kopi bukan masalah besar.

Tapi tidak dengan kacang merah yang ada dalam minuman. Kacang merah bisa bikin asam urat naik. Begitulah Tuhan sering bercanda dengan saya. Dia selalu menaruh alasan logis agar saya sedikit menjaga jarak dengan apa yang saya suka.

Btw, kayaknya bisa deh lihat masa depan dari sedotan chatime, gede gitu bolongannya.

Yang paling buruk.

Saya menumpahkan segelas susu di laptop.

Kesimpulannya…

Laptop, bukan teman minum yang baik. Minum susu aja mabok sampe nggak mau nyala lagi.

Begitulah.

Saya lebih suka manusia untuk diajak minum.

Hih.

2 komentar pada “Teman Minum-Minum

  • 03/01/2020 pada 11:32 AM
    Permalink

    Okey ka momo. Aku jadi lega setelah tau fakta tentang makanan kaleng dan pembuka makanan kaleng. Pokoknya lega aja.

    Huahahaha 😂🤣

    Balas
    • 04/01/2020 pada 7:00 AM
      Permalink

      eeh gimana gimana???

      Balas

Tinggalkan Balasan