Tentang Menanam

Tentang Menanam – Tahu banget kalau di kulkas isinya daging dan daging, dan saya nggak terlalu doyan sama daging, akhirnya pagi-pagi saya panen kangkung.

Kangkungnya seadanya sekali, karena salah tempat waktu semai benih, akhirnya mereka kurus dan tinggi seperti yang menanam. *wohhh. Tapi nggak masalah. Bersyukur saja lagi-lagi bisa makan hasil tanaman sendiri.

Emak yang Masak… Saya Masih Sibuk Sama Tanaman Lain

“Kok setitik temen? Iki sih kanggo wong siji gah ora wareg.”

Paham nggak?

Katanya kok sedikit sekali. Ini buat satu orang saja tidak akan kenyang.

Akhirnya cuma buat saya. Makan pakai lontong. Tiap kunyahannya saya seperti diputarkan kisah-kisah lama. Yoohh tapi nggak lama-lama banget. Umur kangkung satu bulan juga panen.

Perihal saya yang selalu takjub bahwa benih kecil-kecil tumbuh. Sibuk siram kalau cuaca kemarau dan kalau males suka berdoa minta hujan sebab sedang malas menyiram. Sibuk pindah tanam sana sini dan cari yang kena banyak cahaya matahari.

Belajar Pada Bumi dan Tanaman

Tanaman apapun sering saya panggil Sunbae-nim. Itu bahasa korea yang artinya senior. Tanaman jelas ada dan lebih tua dari umur manusia. Saya suka sama yang tua-tua sebagai tempat belajar.

Saya belajar pada sunbae-nim yang hidupnya nggak ke mana-mana tapi mampu bertahan.

Ketika dihinggapi hama, mereka masih di tempatnya. Tidak lari. Saya bertanya-tanya apakah mereka bersedih dihinggapi hama sebagaimana saya yang sedih kalau mereka dihinggapi hama.

Ya begitulah manusia. Padahal tanaman yang dihinggapi hama adalah hal yang netral-netral saja. Karena sudut pandang saya terhadap ketakutan gagal panen atau hasil panen yang mungkin sedikit. Serangan hama dianggap sebagai sesuatu yang buruk.

Pernah waktu tanam pare untuk  kedua kalinya. Setelah sebelumnya gagal diserang kepik. Saya semprot pakai air sabun cair ketika pare diserang macam kutu di bawah daun. Padahal langsung disiram air kembali usai iseng sekali disemprot sabun. Hasilnya? Daun bolong-bolong dan menguning besoknya.

Eettt daah. Ternyata saya juga hama. Saya menjadi perusak karena kurangnya ilmu.

Mikir juga. Apa Pare Sunbae-nim bilang saya bajingan?

Tidak. Mereka diam saja.

daun pare kena detergen

Akhirnya saya minta maaf sama Pare Sunbaenim. “Mianhae… Mianhaee.. nomu… nomu mianhaeee….sarangeeeeee.”

Yaahh. Sekarang para Pare Sunbaenim sedang masuk musim panen. Masih sering dihinggapi semacam telur-telur di bawah daun. Saya cuma bersihkan dengan cara manual. Kadang semprot sama air bawang. Lagian cuma tanam 7 pohon, nggak banyak.

buah pare

Menanam Itu Belajar Mengelola Tanah

Karena sempitnya lahan. Saya biasanya tanam di polibag. Urusan buat media tanaman biasanya cukup merepotkan. Mulai dari ngurus kotoran kambing yang harus difermentasi dulu, sekam bakar, sampai cari tanah. Kadang pakai cocopeat tapi mahal jadi agak jarang. Kalau mau media tanam dari hasil pengomposan, itu cukup lama. Minta serbuk gergaji sama tetangga sisaan bikin kandang tapi itu pun jarang ada.

Harus banyak sabar di sini.

Bikin kotoran kambing yang difermentasi aja harus sabar bener. Campur mol (mikro organisme lokal) dan gula. Aduk-aduk. Dan menunggu. Nanti kapan-kapan diaduk lagi. Dibanding ingat-ingat waktu fermentasi. Saya lebih senang mengendus aromanya. Kapan sudah bisa dipakai biasanya kotoran sudah punya aroma yang beda. Aromanya sudah kayak tanah. Makin lama fermentasi makin bagus.

Kalau saya nggak sabar pakai pupuk kandang dengan proses fermentasi yang masih berjalan. Biasanya tanaman yang tumbuh akan menguning dan seperti terbakar.

Pernah kayak gini? Gagal karena media.

Yaaa jelas. Wong saya amatir dalam segala hal kok.

Karena urusan tanam menanam ini, saya sadar bahwa dalam tanah ada banyak sekali kehidupan. Bumi, memberikan kehidupan pada banyak hal.

Bicara dan Menyanyi di Depan Sunbaenim

Agak gila emang sih.

Tapi nggak apalah.

Sering saya bicara di depan tamanan, kadang nyanyi-nyanyi korea lagunya Jung Seung Hwan yang judulnya if it is you. Nggak tahu lagu itu yang sering keluar dari mulut. Bersyukur aja, para sunbaenim tahan sama suara saya yang nggak enak ini.

Sayuran yang Terhidang Sebagai Makanan

Ketika uang bisa membeli banyak hal, termasuk sayuran yang tergolong murah. Di dalamnya tidak ada kenikmatan seperti saya menanam sayuran sendiri kemudian dimakan.

Bagaimana bahagianya tahu benih yang disemai perlahan tumbuh, saat tanaman mulai berbunga, kemudian diam-diam menunjukkan buah. Bagaimana para tanaman bertahan di tengah serangan hama. Tidakkah mereka adalah makhluk menakjubkan?

Tiap suapan, berasa punya energi yang besar. Energi yang nggak cuma memenuhi perut.

tanaman tomat

Tanaman itu…

Tanaman-tanaman nggak pernah ribut, mereka diam, tidak juga lari. Waktu bunga matahari daunnya dimakan belalang, mereka masih diam. Masih setia besok-besok tumbuh daun barunya.

“Terima kasih sudah bertahan.” Sebuah kalimat yang sering saya ucapkan sama para tanaman. Atau diam-diam saya bisikkan kepada diri sendiri.

Makanya, saya bisa bilang kalau tanaman adalah “guru besar”, senior yang paling senior dalam bertahan. Paling setia pada nasibnya. Mereka udah kayak filsuf yang selalu bilang “iya” pada apa-apa yang menimpanya.

Tapi ketahanannya mereka sampai detik ini. Siapa yang meragukannya?

Usai Berurusan dengan Tanaman. Mau Sampai Kapan?

Tanaman akan selalu ada. Tapi saya yang menanam nggak selalu ada. Itu juga pertanyaan saya sih. mau sampai kapan doyan menanam.

Sampai detik ini saya belum pernah bosan. Berurusan sama tanah dan tanaman nggak pernah membuat suasana hati menjadi buruk. Beda banget sama manusia. *eh.

Saya juga punya pegangan bahwa yang penting dalam pendidikan adalah kesungguh-sungguhan pada ilmu. Di menanam, saya ingin sungguh-sungguh belajar. Saya bahagia meski lelah, meski kulit belang karena terbakar sinar matahari. Meski gagal panen pun tidak jadi masalah. Nanti nanam lagi.

Lucunya.

Pernah ada momen dimana lihat daun-daun yang terkena angin dan bergoyang perlahan mampu membuat suasana hati menjadi lebih baik. Para tanaman-tanaman itu seperti menyanyikan lagu.

Saya pikir, mereka juga penghibur sejati.

 

Previous Post

No more post

Next Post

No more post

21 Comments

      1. Lah iyo, sedino mangan pisan sing penting akeh, sego padang teros nganti tipes 😂🔫

        Guyonan jaman High School, apa2 kalo keliatan menikmati makanan digodain dengan kalimat tersebut. Lagi enak minum Tomingse dibilang “Enak? Nggo sego ben wareg”, teman2 pun tertawa sejenak setelah itu berhenti karena joke tersebut termasuk overused sambil berpikir dalam hati dan kepala masing2, “what have I done with my life?”. 🐉

        Seperti nya dekat sekali dirimu dengan tayangan tersebut…

    1. baiklah. ini kenapa sampai dua segala sih. yaaa udah ggp lah biar komennya banyak. gumawo Yuulye, selamat ultah juga. sama-sama july bukan yaa? eeh sok tahu saya.

      yaaa sih. momochan jelas pseudonym yang kadang kalau mau ikutan lomba nulis blog jadi susah gitu.

      1. Hahaha, terima kasih, anda orang pertama yang mengucapkan tahun ini

        Comment section below my agak aneh sih, suka ilang2an 😂 gapapa lah, bonus, ben akeh komen e

  1. Mantaaap Kak Momo, tanamannya tumbuh subur 😍
    Saya hanya ngajak ngobrol sama tanaman bilang Terima kasih udah tumbuh sehat, belum pernah nyoba sambil nyanyi 😂
    Kayak asik juga Kak

  2. Tanaman mengajarkan sesuatu tentang bertahan, yak. Tetap bertahan dan menerima. Uwow sekali.

    Ini lagunya diputer yang sedih sengaja biar gak usah nyiram, kan? Jadi gini, tanamannya menangis lalu mengeluarkan air mata sendiri. Air matanya jatuh ke tanah, lalu terserap akar sendiri.
    Cuma masalahnya adalah….. emang punya mata?

    Uljima~ 😦

Tinggalkan Balasan