Cerita Momo Cuma Nulis Aja Tentang Rumah dan Manusia yang Mengalir

Tentang Rumah dan Manusia yang Mengalir

Akan saya ceritakan sebuah kisah. Tentang rumah dan manusia yang mengalir.

Dulu. Dulu. Dulu. Dulu sekali. Manusia ada dekat sekali dengan alam. Manusia menyesuaikan dan berendah hati pada alam. Tak masalah bagi mereka menghuni gua-gua yang disediakan oleh alam. Tapi, manusia adalah manusia. Ia beranak pinak, entah dengan jatuh cinta atau tidak. Hingga pertumbuhan manusia makin banyak.

Manusia bertumbuh semakin cepat sedangkan gua tidak. Mulailah manusia meninggalkan gua-gua mereka yang lama. Mereka membangun dengan apa yang disebut dengan rumah. Apakah manusia masih berbaik hati dengan alam?

Masih.

Mereka membuat rumah sesuai dengan alamnya. Mereka memperhitungkan bagaimana bentuk rumah yang selaras dengan alam. Akan berbeda rumah di daerah yang terletak di daerah dengan curah hujan tinggi dan rumah yang punya empat musim. Saat itu, barang kali, alam masihlah seorang ibu yang sulit dilawan.

Waktu berlalu….

Jika dulu manusia berendah hati terhadap alam, dengan jumlahnya yang banyak, manusia bisa menjadi penakluk alam. Manusia tidak selaras dengan alam. Di mana pun mereka berada, ia membangun rumah sesuai dengan keinginan mereka. Tentunya dibantu dengan keberadaan teknologi.

Ketika manusia membutuhkan udara segar, ia tidak lagi berusaha menanam tanaman di lingkungannya. Udara bisa dibersihkan dengan air purifier. Di ruang-ruang gelap dalam ruangan, manusia tidak pusing dengan membuat jendela-jendela, manusia menggantinya dengan lampu-lampu gemerlap.

Membersihkan udara bau dari toilet pengap? Itu mudah. Udara-udara itu bisa dikeluarkan lewat exhaust fan.
Kegerahan? Kepanasan? Ada AC. Tidak perlulah manusia merindukan udara di musim tertentu, ia bisa merekayasanya dengan remote yang ia pegang. Semudah itu. Lucunya, jika di luaran bisa merasakan suhu sampai 38 derajat celcius. Manusia bisa merasakan udara 18 derajat celcius di ruangannya, tak masalah jika menggunakan pakaian hangat.

Teknologi serba bisa merekayasa hunian manusia. Lihat saja, manusia-manusia yang membangun bangunan minimalis zaman now? Bangunan kotak mirip kaleng-kaleng kerupuk di warteg. Menjulang lengkap dengan kaca-kaca besar. Pernahkah mereka berpikir apakah tipe hunian seperti itu selaras dengan kondisi alam yang ia tempati? Saya yakin tidak. Mereka tak lebih sebagai manusia yang sedang sibuk mewujudkan keinginan mata mereka belaka.

Maka. Jangan aneh. Jika model bangunan klasik yang cocok di benua Eropa sana tiba-tiba saja muncul dekat sekali dengan lingkunganmu hidup. Barang kali muncul di kawasan elite di perkotaan. Bisa juga menjamur di daerah dekat gunung. Asal manusia punya uang, keinginan bisa diterjemahkan di mana pun.

Kemudian tidaklah bangunan-bangunan menjadi tak lebih dari ruang-ruang yang seakan sekarat? Katakanlah bagaimana sebuah gedung itu benar-benar menjadi fungsional tanpa bantuan teknologi? Bagaimana bangunan dengan 20 lantai tanpa adanya elevator. Bagaimana nasibnya ruang parkir bawah tanah tanpa adanya lampu-lampu dan exhaust fan?

Tidak pernahkah kalian berpikir bagaimana jadinya sebuah mal yang asyik kamu datangi dengan kekasihmu itu tanpa adanya AC? Tanpa lampu gemerlapnya?

Bangunan-bangunan megah itu… mati. Matilah mereka jika tidak ada teknologi yang menyertai. Maka tidak berlebihan jika dikatakan, ruang-ruang megah itu tak lebih dari “orang sekarat” yang jika kabel-kabel padanya dilepaskan. Ia tidak akan berfungsi. Ia menjadi tidak bermakna.

***

Kemudian manusia-manusia menamai segala kemajuan yang ada sebagai penemuan besar, apa pun bidangnya. Teknologi dan kecepatan dipuja-puja. Manusia menjadi sibuk sekali dalam bekerja. Bahkan waktu di mana istirahat menjadi tidak jelas. Manusia mulai memaklumi manusia-manusia lain yang masih berkeliaran padahal waktunya mereka untuk istirahat.

Manusia menjadi sibuk sekali, katanya mereka punya keluarga yang dinafkahi, katanya mereka perlu rumah yang nyaman untuk ditinggali, katanya mereka perlu biaya untuk makan keseharian. Katanya mereka juga perlu hiburan. Mereka ingin bahagia padahal sering sekali mengeluhkan pekerjaan yang menjadi penghidupan mereka tiap harinya.

Seorang guru pernah berkata, untuk bersuci demi menjalani ibadah, diperlukan air yang mengalir itulah yang pertama jadi pilihan. Kemudian bisa menggunakan air yang tidak bergerak dengan syarat jumlahnya cukup besar hingga lama menuju kebusukan atau menghindari kebusukan. Manusia teruslah ia mengalir. Bekerja sangat keras. Tapi secara rohani pergerakan kehidupan mereka belum tentu bisa dipakai untuk bersuci atau tampil bersih di hadapan Tuhan.

***

Manusia dan hunian modernya, menunjukkan betapa manusia pelit sekali dalam sekadar merespon positif terhadap iklim, lingkungan, dan alam. Hidup manusia dengan alam jarang sekali berirama harmonis. Barangkali, untuk dewanya cinta tak terbalas adalah alam sang juaranya. Alam memberikan segalanya yang ia punya, kemudian manusia membelakanginya.

Diam-diam di akhir tulisan ini saya mulai berbisik pada diri sendiri. Bisa jadi segala hiruk pikuk dalam diri dan keseharian saya, sama sekali belum bisa digunakan untuk sekadar tampil bersih di hadapanNya. Namun, jangan sampailah saya seperti manusia yang tidak tahu diri, bahwa hanya kepadaNyalah sebenar-benarnya jiwa akan pulang. Rumah yang paling rumah.

Di penghujung tulisan ini. Di penghujung malam ini. Saya sedih sekali. Tidak jelas kenapa.

maaf cuma punya gambar kucinggg

 

1 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 Comment

  1. Tiba-tiba saja jadi inget salah satu bab di buku Batavia-nya Frieda Amran. Ceritanya tentang dokter Belanda yang baru tiba di Hindia Belanda. Pas di pesisir Banten, dia lihat rumah-rumah “cuma” terbuat dari kayu, dindingnya anyaman bambu, atapnya ijuk. Akhirnya dia insyaf bahwa “teknologi” konstruksi seperti itu memang cocok sekali buat daerah tropis yang panas. Tapi, sekarang, semua yang dari luar telanjur dianggap lebih baik dari sesuatu yang mengakar di tanah sendiri.

    1. yha, fokus manusia selalu dibuat keluar dari dirinya sendiri. sampai bingung sama dirinya sendiri.

      wew. bacaanmu ternyata banyak yaaa. bagosss.

  2. terus jadi mikir, seluas-luasnya rumah yang dimiliki yang akhirnya ditempati ya cuma serebahan badan atau selebar kita duduk.

    dua paragraf terakhir bikin ga jadi ngeluh mengingat besok senin dan liburan habis :’)