Cerita Momo Sebuah Obrolan Terkadang Kita Memang Butuh Untuk Menjadi Tuli

Terkadang Kita Memang Butuh Untuk Menjadi Tuli

Terkadang Kita Memang Butuh Untuk Menjadi Tuli – Seekor siput mengikuti perlombaan naik gedung. Siputnya ada banyak banget, anggap aja begitu. Penonton bersorak-sorak sambil memberikan komentarnya bahwa para siput sedang melakukan tindakan yang sia-sia.

Banyak siput menyerah. Siput-siput itu tumbang sebelum sampai di atas gedung. Hingga satu siput memenangi pertandingan. Ia berhasil menuju puncak gedung.

Seluruh reporter riuh rendah. Mereka nampak semangat menanyai sang siput mengapa ia bisa sampai ke puncak. Sang pemenang hanya pahpoh tidak jelas, rupanya ia tuli.

Ketulian itu melindunginya untuk tetap melaju, sementara yang lain tumbang karena penonton terus mematahkan semangat mereka.

Yha. Terkadang kita memang butuh untuk menjadi tuli.

Minggu,  8 Maret 2020

Saya agak bingung hingga magrib mengenai apa yang harus saya tulis. Perjalan pulang setelah menemui seorang teman akhirnya berakhir. Saya pulang pukul 7 malam kemudian makan keong berserta antibiotik.

Rasanya buruk. Saya merasakan sensasi panas hingga leher. Kenapa begini…

Beberapa menit berjalan saya habiskan untuk nonton Sex Education Season 2 episode ketiga.

Sekarang pukul 20.22 WIB tenggorokan saya rasanya panas, di kepala saya muncul lagu “keong racun”. Kepala saya dangdutan. *lho. Tapi dangdutan ini dipersembahkan oleh rasa bertanya-tanya apakah perpaduan sate keong dan antibiotik adalah hal yang buruk?

Yha semoga saja nggak kenapa-kenapa.

Sang Teman Banyak Curhat!

Kami ini adalah teman yang nggak banyak ngomong di chat WA. Tapi kalau ketemu langsung bisa bicara A sampai Z. Kali ini dia membicarakan orang-orang di lingkungan kerjanya yang suka berkomentar aneh-aneh. Mengenai status lajang dan bagaimana teman saya ini menghabiskan waktu.

Kayak gini contohnya.

“Teh, kalo habis kerja ngapain sih? Kok nggak pernah main.”

“Deeggghh Teh, itu tuh tetenya kecil banget, makanya nggak ada yang naksir.”

“Teh, saya mau suntik putih. Biar nggak kalah sama Teteh putihnya.” *terus ampul vitamin C-nya pecah coba.

“Kapan kawin? Kok nggak kawin-kawin?”

Teman saya ini bilang kalau dia ditanyai terus hal-hal yang nggak penting kayak di atas. Hampir setiap hari.

Yha begitulah. Ada-ada aja emang.

Tapi emang sih. Orang-orang memang akan selalu bertanya atau berkomentar hal-hal yang kayaknya malesin banget. Saya cukup tahu kok rasanya kayak gimana.

Beberapa bulan yang lalu juga saya dicurhati teman lain (Sebut saja A) bahwa salah satu teman kami (Sebut saja W) menanyakan hal yang menurutnya menyakitkan hati.

“Kapan kamu punya anak? saya aja anaknya sudah dua.” Begitu katanya.

Teman saya bilang, dia sudah males bicara dengan W, karena baginya pertanyaan itu menyakitkan hati. Sebuah pertanyaan basa-basi yang nggak bisa dia jawab. Tentu saja, hanya Tuhan yang tahu.

A akhirnya cerita bahwa ia kena PCOS dan sedang berjuang untuk menyembuhkannya. Kata A ia lebih suka bicara dengan saya karena saya nggak pernah memberikan pertanyaan “mengganggu”, makanya ia cerita perjuangannya itu.

Sepanjang kami ketemu, kita bahas soal gaya hidup sehat. Sebuah cara menghindarkan kami dari berbagai macam penyakit.

Yha Saya Juga Curhat Sih.

Saya sedikit curhat mengenai kerjaan saya di menulis, sukanya banyak, tapi tekanan stresnya juga amat tinggi. Tapi, menulis juga memberikan sedikit peluang “drama” dengan mulut orang lain.

Kebayang nggak. Mulut orang lain itu uhhh suka nggak terduga pertanyaannya.

Pernah suatu ketika saya sedang menghitung uang (300rb doang padahal), seseorang yang melihat langsung bertanya hal aneh. “Kamu belum menikah kok duitnya banyak?”

Agak pengen ketawa sih. Tapi ya sudahlah.

Ada lagi yang lain meminta membuang baju yang saya pakai sebab kelihatan mbladus warnanya. Seseorang yang lainnya juga berkomentar kenapa saya pakai sepatu yang murah menurut dia.

Ibu-ibu yang lain berkata tentang status saya bahwa katanya saya pemilih. Sementara lainnya mulai menduga bahwa saya pernah disakiti hingga masih melajang hingga kini.

Adalagi yang tbtb komentar bahwa saya lebih baik menikah dan punya anak, supaya nggak kurus lagi. Biar ada yang ngasih makan sama menghamili katanya.

Beberapa orang lainnya sangat kepo, katanya, kenapa uang saya nggak abis-abis? Kerja apa saya? sumbernya dari mana? Wkkwkw.

Saya dapat rezeki dari Tuhan, dari mana lagi dong?

Dan masih banyak lagi.

maap lagi nggak ada ide buat kasih gambar apaan

Kalau dipikirin Yang Kayak Gini, Nggak Akan Ada Habisnya

Nggak akan ada habisnya.

Tapi saya melihat beberapa pola, orang-orang yang komentarnya aneh-aneh ini nggak sedekat itu dengan kami (saya dan teman-teman yang diceritakan di atas).

Teman saya yang merasa dibully karena status, tubuh, dan segala yang ada dalam dirinya, menerima komentar dan pandangan aneh dari orang yang baru dikenalnya kurang lebih satu tahun di tempat kerja yang baru.

Teman saya A, dia mendapatkan komentar dari yang katanya teman tapi nggak pernah ada di saat hari-hari sedihnya. Malah bertanya tentang sesuatu yang di luar kehendaknya.

Orang-orang yang melemparkan pertanyaan dan pernyataan aneh pada saya, nggak pernah lebih dari orang yang hanya sekilas saja mengenal saya. Mereka nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya.

Mereka nggak pernah tahu bagaimana gilanya saya kerja. Mereka juga nggak tahu hal-hal apa yang telah saya lewati pada hari-hari buruk saya. Mereka nggak pernah tahu bahwa kami-kami juga punya medan perangnya masing-masing dalam hidup.

Akhirnya….

Kenapa kita harus mendengarkan ucapan orang-orang yang pada dasarnya nggak pernah benar-benar menyayangi kita. Kenapa kita harus mendengarkan orang-orang yang nggak punya “pengetahuan dasar” mengenai kita.

Saya suka nggak paham sih, kenapa rahang orang-orang itu lemes banget bertanya hal-hal yang aneh. Apa mereka kehabisan topik untuk dibahas? Atau bagaimana?

Yha. Terkadang kita memang butuh untuk tuli. Karena suara yang sebenarnya kadang bukan berasal dari bunyi-bunyi mulut komentar.

Kadang suara sebenarnya adalah ketersediaan teman lainnya untuk terus berada di dekat kita tanpa kalimat yang terkesan menyemangati. Barangkali segelas kopi dingin dihari yang panas sudah cukup.

Semoga kita sama-sama bisa menyaring, mana yang harus benar-benar kita dengarkan dan mana yang tidak.

sering-sering curhat aja gpp, biar bisa saya buat konten. wkwkwk.

1 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 Comment