Tidak Mati, Selalu Muda, dan Hidup Bahagia – Homo Deus

Tidak Mati, Selalu Muda, dan Hidup Bahagia – Homo Deus

Sapiens membawa saya ke buku ini, buku kategori sejarah yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Ya ampun yha, kok saya baca buku sejarah? Padahal dulu ogah banget dan pernah ulangan sejarah dapat 33 dong. Remedial kan? Hah.

Seperti kata bukunya, Sapiens menunjukkan dari mana asal kita. Homo deus menunjukkan ke mana kita pergi.

Sepanjang tulisan ini dibuat. Saya belum kelar bacanya *memang asli pemalas. Baru sampai di halaman-halaman pembuka. PEMBUKA, yang artinya baca Bab 1 aja belum. *nyengir.

Terus di tulisan ini mau apa? Mau komentar doang dong. Kan saya netizen yang budiman.

Gini. Apa yang kamu pikirkan tentang masa depan? Kalau saya malah mikirin kapan sih Redme Note 7 masuk Indonesia? Kapan hah? Kapan? Saya mau beli. Ini hape suka tiba-tiba meditasi gitu. Diem-diem bae selama beberapa menit. Kalau mati dan nyala lagi, butuh waktu sampai 15 menit. sampai saya curiga, ini tulisannya ASUS padahal kayaknya ada huruf “K” di depannya. Itukah merk sebenarnya?

Yha. Saya nggak kayak Yuval Noah Harari yang emang cari tahu secara dalam apa yang terjadi di masa lalu, melihat apa yang terjadi sekarang dan bicara tentang kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Lalu ada apa sih yang ada di pembukaan buku ini?

Ada beberapa hal yang menarik. Diantaranya adalah….

Hak untuk Tidak Mati

Abad 21. Manusia kemungkinan akan serius dengan proyeknya menuju imortalitas. Melawan tua, melawan mati. Harari bilang, minoritas ilmuan dan pemikir yang terus bertambah jumlahnya berbicara lebih terbuka tentang misi sains modern mengenai mengalahkan kematian dan usia muda abadi.

Yang ngehits. Pada tahun 2012, Kurzweil ditunjuk menjadi direktur rekayasa Google. Tahun berikutnya, Google meluncurkan anak perusahaan yang bernama Calico dengan misi mengatasi kematian.

Google Ventures menginvestasikan 34 persen dari portofolionya yang bernilai $2 miliar pada sejumlah start-up  yang menekuni “sains kehidupan”. Diantanya mengenai misi ambisusnya tentang perpanjangan usia. Penganut impian seperti ini juga diantut beberapa pesohor seperti pendiri Paypal. Dan masih banyak lagi horang kayah yang memiliki kepercayaan bahwa kematian adalah hal yang bisa dilawan.

Apa yang terjadi jika sains ini mengalami perkembangan yang siginifikan?

Ahh Nganu… gimana ya?

Kadang mikirnya, ini kok betah banget hidup di dunia ya? padahal saya sendiri kadang nggak betah. Mungkin para dedengkot horang kayah itu ena banget hidupnya atau bagaimana sih? wajar nggak? Kalau manusia nggak mau tua? Nggak mau mati?

Tapi dipikir masuk akal juga. Orang yang mengutarakan kalimat “saya ingin mati” sebenarnya tidak begitu. Redaksi kalimat yang sebenarnya adalah “saya ingin beban saya berkurang atau hilang”. Toh naluri manusia yang pertama adalah bertahan hidup.

Tidak Mati, Selalu Muda, dan Hidup Bahagia – Homo Deus
sumber ; hape dewe

Jika ada kasus bunuh diri. Itupun selalu menunjukkan bahwa orang yang bunuh diri tetap ingin hidup. kasus bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di laut/sungai/danau, biasanya orang itu akan mengenakan pakaian yang lebih tebal dari biasanya karena takut air yang dingin. Sementara kasus bunuh diri dengan cara menabrakkan kendaraannya,  mayoritas ditemukan ada tanda-tanda pengereman mendadak. Dari mana saya tahu? Nonton drama yang gebak-gebukan detektif nyari psikopatlah.

Baca Juga; Penulis, rentan bunuh diri.

Melihat tren produk perawatan kulit pun nggak jauh beda. Produk yang dipercaya menghilangkan tanda-tanda penuaan selalu laris. Saya yakin, riset selalu dilakukan melalui proses dan biaya yang besar. Makanya jangan aneh skincare harganya suka nggak dompet care.

Takut akan lenyap juga membuat Voldemort membagi-bagi dirinya menjadi horcrux bukan? Sebuah wadah untuk menyembunyikan jiwanya menuju keabadian. Bahkan mungkin kalian, yang diam-diam menulis demi membuat horcrux?

Hak untuk Bahagia…

Kali ini, masuk pada proyek manusia selanjutnya. Menjadi bahagia. Entah berapa banyak sudut padang mendefinisakan arti kebahagian. Bahkan, mungkin kamu pun pernah menanyakan arti kebahagian, ataupun saya.

Di buku ini, pendapat dimunculkan, mulai dari filsuf, dan pandangan yang lainnya. Namun, kebahagiaan juga ditelusuri lewat pandangan sains. Sains bilang begini, nggak ada orang yang bahagia karena dapat promosi kerja, menang lotere, atau menemukan cinta sejati. Orang dibuat bahagia karena satu hal, yaitu, sensasi yang menyenangkan di dalam tubuhnya. Sensasi biokimia.

Kabar buruknya, sensasi menyenangkan itu akan cepat reda dan perlahan akan menjadi tidak menyenangkan lagi. Semuanya karena evolusi. Bahkan ketika ada yang bilang bahwa kebahagiaan bukan puncak tujuan dan proses pengalamannya yang membuat bahagia. Itu sama aja cuy… Tubuhmu menjawab semuanya.

Homo sapiens tidak dirancang untuk mengalami kebahagiaan secara terus menerus.

Tapi Harari selalu membawa berbagai macam sudut pandang di sini. Mulai dari wejangan Epicurus yang lebih dari 2300 tahun lalu bilang bahwa kesenangan yang berlebihan akan berbuah penderitaan, bukan kebahagiaan. Ada juga Buddha yang bilang bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah akar dari penderitaan.

sumber ; pixabay

Yha, pandangan Buddha dan biokimia dikatakan memiliki kesamaan, keduanya sama-sama setuju bahwa sensasi-sensasi menyenangkan menghilang secepat kemunculannya.  Di sini, sebuah agenda muncul, untuk memastikan kebahagiaan global, tentu saja merekayasa Homo sapiens sehingga ia bisa menikmati kesenangan abadi.

Ah nganu… nyari kunci kebahagiaan ya?

Lha saya tuh naruh kunci motor aja suka lupa jeeeeee….. apalagi kunci kebagiaan yang datang dan pergi begitu saja.

Disinggung mengenai menghasilkan keturunan terbaik!!!

Tahu bayi tiga orangtua? Inti DNA diambil dari dua orangtua. Sedangkan DNA mitokondria didapat dari orang ketiga. Atau bahasa yang bisa saya tangkap adalah bayi tabung yang diedit pakai DNA pihak ketiga. Sudah terjadi pada tahun 2000 pada bayi bernama Alana di AS. Tapi tahun berikutnya, AS melarang praktek kek begini. Nah, di Inggis tahun 2015, parlemen menyutui undang-undang mengenai “embrio dengan tiga orang tua”.

Jika praktek ini mengalami banyak perkembangan hingga menjebol banyak parlemen-parlemen di banyak negara. Harari bertanya, jika tetanggamu melakukannya untuk putra-putri mereka. melahirkan anak genius yang rupawan nan sehat. Apakah ingin anak Anda tertinggal?

Lhaaa kok…

Lha kok saya jadi ingat budaya operasi plastik di korea. Operasi plastik sudah seperti suatu kewajiban karena orang-orang di sana melakukannya untuk “bertahan hidup”.

Dan Yha…. itu semua hanya sekadar pendahuluan di dalam buku ini. Pendahuluan yang memakan sampai 78 yang sungguh padat sekali. Sama sekali belum masuk pada 3 bab inti yang disajikan dalam buku ini.

Menarik?

Kalau saya sih yes… nggak tahu kalau Mas Anang *Mo basi Mo… Baaaaaaasiii.

Jangan disangka tulisan saya mewakili 78 halaman pendahuluan itu. Tulisan aslinya jauh lebih dalam dan lengkap. Bahkan Harari dengan apiknya membahas rumput yang ada di halaman rumah. Kenapa rumput itu ada? Sejarahnya ternyata panjang sekali.

Mengingat membaca Sapiens, saya agak nggak nyangka pada diri sendiri yang betah baca buku sejarah yang setebel itu. Kalau di belakang sampul buku bertuliskan SEJARAH di atas bagian ISBN, saya bisa bilang bukan hanya itu, disiplin ilmuyang ada di dalam buku ini banyak sekali.

Udahlah… saya mau baca lagi. Ehh yaaa nggak juga sih ya. :p

5 komentar pada “Tidak Mati, Selalu Muda, dan Hidup Bahagia – Homo Deus

  • 14/02/2019 pada 8:13 AM
    Permalink

    Wah aku juga sementara baca buku itu, oh ya katanya udah ada yang seri ketiganya loh, “21 lessons for bla bla bla

    Balas
    • 14/02/2019 pada 10:07 AM
      Permalink

      iyaaa ada yang ketiganya. 21 lessons for the 21st century

      Balas
  • 26/02/2019 pada 2:39 PM
    Permalink

    mbuh ah
    sepertinya buku yang tidak bisa dibaca dengan sekilas
    berattt

    Balas
    • 26/02/2019 pada 4:47 PM
      Permalink

      baiklah baikkkkk

      Balas
  • 27/02/2019 pada 2:20 PM
    Permalink

    tulis lagi nanti yaa mbaak kalau sudah selesai baca … *kedip-kedip

    Balas

Tinggalkan Balasan