Cerita Momo Seputar Blog Tidak Pernah Ngeblog dengan Sungguh-Sungguh

Tidak Pernah Ngeblog dengan Sungguh-Sungguh

Tagihan untuk perpanjang domain biasanya sudah muncul 1 bulan sebelum domain exp. Tentu saja hal ini sangatlah wajar sebagai tanda kalau tagihan harus segera dilunasi untuk memperpanjang usia domain.

Tapi belum saya bayar. *huah

Kalau simomotaro.com lahir di tahun 2017, saat ini sudah 2021 maka sudah masuk usia 4 tahun. Sudah lama juga. 4 tahun kedepan nggak tahu kayak gimana.

Menilik 4 tahun kebelakang. Satu hal penting yang sangat terasa adalah bahwa saya nggak pernah sungguh-sungguh ngeblog.

Serius. Tidak pernah serius ngeblog.

Kalau pada perjalanan ngeblognya saya. Saya masih males-malesan untuk ngblog. Apalagi masih ada saja domain yang saya miliki dalam kondisi mati tidak, hidupun tidak jelas.

Malah Ngelamun

Tiap kali mau nulis. Saya malah ngelamun panjang. Pikiran saya malah kemana-mana padahal pekerjaan nulis masih numpuk.

Bahkan yang sudah jelas-jelas sudah dibayar dimuka untuk segera dipost malah belum segera dibuat juga.

Menyoal kategori bahwa tiap porsinya harus cukup adil. Saya masih nulis sekenanya saja.

Menyoal tema blog saja masih sulit sekali untuk konsisten.

Padahal…

Ngeblog Sudah Diam-Diam Saya Yakinkan Diri Untuk Mengisinya Sepanjang Hayat

Ya. Sepanjang saya masih hidup. Apapun yang terjadi dalam hidup saya. Mengisi blog akan menjadi kebiasaan saya. Begitulah saya membuat komitmen dengan diri sendiri.

Ketika anak dari sepupu saya mengerjakan tesis di depan mata saya. Saya bilang, “Kamu ngerjain tesis nggak selamanya. Kalau sudah selesai, maka selesai. Beda dengan saya yang ngeblog. Tidak pernah habis.”

Soal Kesungguhan

Jangankan soal 4 tahun ngeblog. Banyak hal dalam hidup tidak pernah saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Soal pekerjaan, menanam, memelihara hewan, memperhatikan kesehatan diri, apalagi soal hubungan.

Kadang ngerasa juga, “hidup kok gini-gini aja.”

Saya pernah ada di hari-hari sangat sibuk. Sampai urusan nyuci baju nggak pernah ketemu waktu luang. Ketika pulang, boro-boro langsung mandi. Bener-bener buka laptop dan mulai ngedit ini itu dan masih melanjutkan tulisan yang lagi ditungguin.

Seneng sebenarnya kalau sibuk. Apalagi kalau bayarannya bagus. Jadi makin semangat. *nyengir.

Tapi di beberapa kesempatan, rasa-rasanya apa yang saya lakukan tidak pernah sepadan dari apa yang saya dapatkan. Masih bisa ngadem-ngadem diri sih, ingat hukum kekekalan energi. Energi tidak pernah musnah, ia hanya berpindah.

Cinta saya nggak pernah musnah. Cinta saya cuma berpindah.

*loh.

Kembali Menulis

*lah ini bukannya nulis?

Dibanyak momen bekalangan. Saya mengesampingkan hasrat saya dalam menulis seperti saat saya lebih muda dari sekarang.

Dulu, saya kayak Mbak Kang Whee Roo dalam Matrimonial Chaos (2018). Seneng nulis dongeng yang bisa banget dibaca oleh bocil. Sekarang-sekarang karena alasan kepraktisan, saya menjauh dari kebiasaan lama.

Dulu juga, saya rajin bikin puisi. Sekarang? Saya tidak ingat dan selalu ragu untuk membuatnya.

Belakangan, saya bikin cerpen. Ternyata keasyikan itu datang lagi.

Jangan ngomongin masalah publikasi dan timbal balik dari karya dulu yaa. Ini proyek yang masih ranahnya ada di kepuasan pribadi.

Sebelum Mati

Hidup bisa saja diartikan dengan keterlanjuran. Ada momen berat yang seakan membuat diri meyakini bahwa tidak penah hidup adalah keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang.

Saya pernah minta kematian pada Tuhan. Saya mengutuk banyak hal.  Tapi mengingat bagaimana saya masih punya mimpi-mimpi dan merasa kalau tidak pernah sungguh-sungguh dalam menjalani hidup. Saya jadi malu sendiri.

Bahwa selama ini daya juang saya tidak pernah digunakan dengan optimal. Bahwa saya lebih sering ngeluh di banyak hal dan mendefiniskan keinginan-keinginan yang terlalu jauh.

Hari Demi Hari

Saya belajar mencintai diri saya lagi.

Saya belajar lebih banyak hal kembali.

Saya belajar bahagia lagi sebagaimana saya sungguh-sungguh dalam merasakan kepedihan.

Kalau terlalu berat. Saya bilang pada diri sendiri, “Bertahan sehari saja…”

Teman Setia

Pada akhirnya, saya merasa aktivitas mengisi tulisan di blog adalah semacam menemui teman yang setia.

Begitu setianya. Sampai selalu menerima apa yang saya tulis.

Termasuk tulisan saya kali ini, yang mungkin terasa sangat klik bait.

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *