Tidak Punya Waktu Untuk Menulis dan Suasana Hati Sedang Tidak Mendukung Adalah Omong Kosong

Tidak Punya Waktu Untuk Menulis dan Suasana Hati Sedang Tidak Mendukung Adalah Omong Kosong

Judulnya panjang bener.

Itulah yang saya ucapkan pada diri sendiri. Sebuah mantra.

Akhirnya? Hampir ada aja yang ditulis. Entah nanti mau masuk kemana tulisannya bisa jadi urusan nanti. Nulis dulu.

Konsep tulisan yang saya buat ada dimana-mana. Di laptop, hape, di kertas nggak jelas *yang kemudian di tempel di buku sketsa udah kayak nota penting aja, dan buku yang emang khusus dipakai buat nulis konsep.

Hasilnya konsep nggak mateng yang pernah dibuat lebih besar dibandingkan tulisan yang dipublikasi (dimanapun).

Perasaan Malas Ada Aja

Malas…

Enak main game…

Enak mainan sama kucing…

Enak jalan-jalan aja.

Dll.

Oke baik. Semuanya distraksi ada kalanya saya ikuti layaknya manusia berhati lemah. Tapi saya punya janji sama diri sendiri. Sereceh apapun yang kepikiran harus bisa jadi ide. Nanti tulis dulu. Barangkali nanti bisa tema penting.

*gayanya ‘kan gitu.

Malu dong. Belajar matematika tapi nggak bisa konsisten ‘kan? *lho. Apa hubungannya?

Saya males jelasin di tulisan ini. Kapan-kapan aja.

Pernah nonton drama korea yang judulnya Partners for Justice nggak? Baik musim pertama atau kedua? Diceritakan seorang dokter yang kerjanya di forensik harus tahu dua kunci besar dalam tugasnya saat membedah mayat.

Satu, waktu kematian.

Dua, penyebab kematian.

Dan dua pertanyaan ini harus murni dijawab oleh mayat di depannya, tentunya dengan kaidah keilmuan yang dimiliki dokter. Hal kecil sama sekali tidak boleh terlewatkan karena bisa jadi bukti penting. Bisa jadi ada DNA pelaku kejahatan yang nyangkut di sela-sela kuku mayat. Dll.

Tidak pernah ada yang tidak penting dalam mengungkap dua pertanyaan yang sama di atas atas sebuah pekerjaan yang dilakukan seorang dokter Baek Beom.

Oleh karenanya, jangan sepelekan ide kecil. Jangan sepelekan tulisan receh yang dibuat oleh diri sendiri.

Saya juga belajar berkata pada diri sendiri kalau nggak ada tulisan saya yang nggak penting. *belajar. Yaa belajar. Kadang saya sering sih mikirin tulisan saya itu nggak penting. Kadang juga ngerasa nggak banget gitu kalau-kalau nanti dibaca orang.

Tapi saya ingat-ingat lagi.

Diingat baik-baik.

Pernah Lhooooo Gini Ceritanya…

Saya habis operasi. Habis dibius total. Muntah karena efek bius. Ngantuk berat saat di koridor rumah sakit sampe ketiduran di lorong (itu ceritanya saya bosan di dalam melulu). Kemudian saat diperbolehkan pulang dan sampai rumah jam dua siang. Besok paginya usai mandi. Saya bener-bener kembali ke depan laptop dan menyusun kalimat lagi.

Saya nulis lagi. Tentunya setelah menelan pereda nyeri dan antibiotik.

Setelah selesai saya baca lagi tulisannya baik-baik.

Awalnya cuma mau ngecek kalau ada kalimat yang belibet apa nggak. Tapi saya terdiam memikirkan hal ini, “tulisan ini capek-capek dibuat sama orang yang hidupnya seperti di awang-awang beberapa hari lalu. Tapi orang tidak tahu karena tidak saya beri tahu. Jika diberitahu, nggak ada kaitannya sama tema yang sedang ditulis.”

Masih cerita dalam keadaan sakit juga.

Karena masih dalam demam. Membuat hari-hari jadi nggak enak banget. Rasanya uring-uringan. Tapi lagi-lagi ketika saya menjatuhkan jari-jari pada papan tik dan memutuskan untuk merangkai kata. Akhirnya satu buah tulisan jadi juga.

Ada lagi…

Saya bahkan bisa sekali menulis yang masih hahah hihihi padahal belum lama saya patah hati. Lebih tepatnya masih merasakan sakit hati. SAKIT BANGET WOIII BAJINGAN RASANYA PENGEN DIANESTESI AJA. GPP NANTI MUNTAH JUGA. GPP.

Ada juga yang…

Nulisnya udah kayak nonton My Mister Episode 15 dan 16. Nangis melulu. Tapi tulisan itu jadi.

Saya juga menulis saat marah. Isinya hanya umpatan. Tapi tidak masalah, asal nggak dipublikasi aja. Tulisannya miriplah sama kucing kalau lewat papan tik.

HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA BAAAAAAAAAAAAAAJINGGGGGGGGGGGGGGGGGGAAANNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN….

INGIN KUKUTUKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK KAMUUUUUUU JADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII ZEMPAAAkkkkkkkBOLONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG nan roooobeeekkkk 86529361@$#%$#^$%^#Q^#@

Misal.

Namanya aja misal.

*kalian kalau pakai kalimat di atas jadi kata kunci pasti sangat kuat itu. jaminan!!!

Tidak Punya Waktu Untuk Menulis dan Suasana Hati Sedang Tidak Mendukung Adalah Omong Kosong

Memang sebuah kalimat yang agak “sok”. Untuk membuktikannya perlu waktu. Perlu cinta juga. segala sesuatu akan sangat berat kalau nggak pakai cinta.

Bertanyalah saya kepada siapa cinta itu diberikan?

Apakah pada honor yang saya dapatkan?

Apakah pada pembaca yang kemungkinan akan hilang kalau saya nggak update?

Apakah pada eksistensi diri yang takut tidak ada yang sadar bahwa saya tidak pernah hidup?

Saya bertanya itu. Kemana cinta itu dipersembahkan?

Jawabannya adalah pada hidup itu sendiri.

Adakalanya saya butuh perasaan takjub atas diri sendiri yang sudah melewati banyak hal. Ketika saya memposisikan diri sebagai pembaca. Kemudian memberikan jarak. Saya sadar bahwa sebuah tulisan mungkin hadir pada momen tertentu. Tapi momen di belakangnya juga banyak. Bahwa ada seseorang yang sudah melewati banyak hal sebelum sampai pada titik di akhir tulisannya. Bahwa ada konstuksi pemahaman yang nggak sudah-sudah untuk dibangun. Bahwa ada kesadaran yang harus terus menerus dihidupkan.

Bahwa entah sudah berapa hari suka dan duka yang dialami tapi masih tetap mau konsisten pada jalan yang ia percayai. Bahwa selagi tidak melukai dan merugikan orang lain, kenapa tidak terus dilakukan.

Kemudian perasaan itu diterapkan pada tulisan orang lain.

Bahwa momen membaca tulisan yang jujur dari orang lain adalah hal-hal kecil tapi berharga. Bahwa hubungan dengan manusia adalah anugerah seperti kata Nenek di My Mister.

Jadi. Buat saya dan kalian. Jangan pernah kecil hati sama tulisan yang dibuat. Mungkin belum menulis hal-hal besar seperti tokoh di luar sana. Mungkin juga nggak akan pernah viral sampai kapanpun. Mungkin boro-boro masuk di mesin pencari halaman satu. Mungkin juga tidak pernah menggetarkan hati siapapun. Jangan menyerah kemudian menyalahkan hal-hal seperti tidak ada waktu untuk menulis dan tidak dalam suasana hati yang baik untuk menulis.

Teruslah menulis.

Buat kamu…

Yaa… kamu.

Tulisan yang sempurna itu nggak ada. Tulisanmu yang terus ada jauh lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah ada itu.

Angin harus berhembus agar ia berlalu.

Saya masih mengharapkan kamu menulis. Di manapun itu kamu berada. Di kisah manapun yang sedang kamu mainkan.

Masih.

Saya harap kamu baik-baik saja.

You May Also Like

4 Comments

  1. Huhuhu. Aku merasa tersindir. Soalnya belakangan aku merasa tidak sanggup buat menulis bagus. Tapi, kamu benar sih. Bagus atau gak, viral atau gak, yang penting nulis dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *