Tulisan Penutup (Mencoba Katakan Hai!)

Ketika buka blog dan tenyata ada orang yang mengetikkan kata “simomotaro” itu kayaknya gimana gitu. Berasa ada yang nyariin. Hahah… Rasanya pengen tak ajakin ngopi gitu orangnya, tapi entahlah siapa orang tersebut. *huh.

Tulisan ini adalah salah satu tulisan saya yang agak kurang faedah, karena cuma menyapa para penghuni wordpress.

*halo manteman… *dadah-dadah…

Mau Publish Post akhirnya Hanya jadi Konsep Tidak Matang

Nggak tahu udah berapa banyak tulisan “kentang” yang sudah dibuat. Sok-sok iya mau nulis ini dan itu. Akhirnya hanya seonggok tulisan tidak jelas judulnya, tidak jelas isinya, tidak jelas eksekusinya. Akhirnya, jarang ada tulisan yang dibagi-bagi di sini.

Masalah bagi membagi, saya kok agak pelit yah. Bahkan untuk membagi kabar saja kayaknya pelit. Beberapa waktu lalu saat diopname tiga hari dua malam aja nggak kasih tahu yang lain. Mentok keluarga sendiri yang tahu. Saya sampe dikatain “sombong” karena katanya nggak butuh doa orang lain.

Padahal, orang sakit mana bisa sombong? Gimana caranya menyombongkan diri dengan penyakitnya?

Urusan membagi status di WA aja jadi masalah. Karena bisa berpurnama-purnama saya nggak bikin status. Jadilah pas menyapa salah satu teman, malah ditanya “kemana aja? Kok nggak aktif?”

Padahal kapan woyyy WA saya nggak aktif? Kapan? Kaliannya aja sibuk sama apa yang dibagikan, bukan menjalin komunikasi *halah.

Waktu susah signal dan waktu tidur doang palingan. (jawaban WA kagak aktif :p).

Kenapa pula tanda-tanda kehidupan bertambah jadi harus membagi segalanya kepada banyak orang? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kzl kadang-kadang.

Tapi satu tahun ini hobi saya malah nyepi

Tahun ini saya stop main medsos. Tapi belakangan saya buat twitter lagi demi men-DM mimin Zalora Indonesia dan beberapa layanan pengiriman. Mendadak perlu banget. Akhirnya, saya buka puasa medsos. Hingga sampailah pada twitter awkarin yang katanya dia punya blog di wordpress.

Alamak…

Saya jadi inget blog sendiri yang lama tak disentuh.

Dan nyoba nulis kali ini.

Agak berat juga ternyata ya nulis di sini lagi. Kadang-kadang, hati ini kayak didedeli pas nulis di sini.

Gimana nggak hobinya nyepi coba?

Saya kalau banyak bicara, bisa sakit kepala. Jadi, saya irit banget untuk ngomong, seperlunya aja. Ngomong juga nggak bisa mangap lebar karena sakit. Alhasil, volume suara yang dikeluarkan jadi lebih kecil.

Untuk ngunyah aja kalau keseringan bisa sakit kepala. Jadilah BB saya turun 9kg. Awal desember ini 41kg saja. Persis kayak tulang yang dibungkus kulit.

Menyantap agar-agar adalah salah satu menu yang keseringan untuk saat ini. Saya takut mejelma seperti Jelly.

Kerjaan saya juga banyak di depan komputer saat satu tahun belakangan. Begitulah, pekerjaan banyak menuntut saya untuk lebih “sendiri”.

Ngeri…

Tahun depan saya 30 tahun *itupun kalau sampai

Tua.

Tua.

Tua.

Tapi rasanya pengen muda terus. Bisa nggak? Kayak Gong Hyo Jin yang tahun ini main When the Camellia Blooms. Masa? Doi nggak tua-tua? Padahal 2020 doi 40 tahun. Apa Gong Hyo Jin itu vampire?

Makin Tua… Obrolan Mengenai Melepaskan Lebih Menarik daripada Pencapaian

*tarik napas dalam-dalam.

Saya nggak akan nulis tentang resolusi di tahun 2020. Tentang apa-apa yang ingin dicapai itu… kok kayaknya nggak berani saya utarakan. Mau berdoa aja mikir keras, takut kesannya nyuruh-nyuruh Tuhan. Mau sebut sepatu Nike Air Force 1 Shadow, kan siapa tahu jatah saya bukan itu. Malah barangkali jatah saya sepatu Compass yang kuning, Adidas Ultraboost, sendal swallow dll kan mana tahu?

*lho.

Keras kepala sama apa yang dinginkan jangan-jangan malah nggak dapat apapun.

Tahun 2019 saya belajar banyak tentang melepaskan. Entah itu barang atau belajar melepaskan emosi.

Dulu saya suka dengan tumpukkan buku dan memang sih dibaca juga. Sekarang beda, buku yang ada bisa dihitung jari. Banyak buku saya lepaskan ke perpus, sebagian kecil dijual lagi. Buku yang yakin akan saya baca ulanglah yang saya simpan. Awalnya berat. lama-lama lega juga. Kamar nggak terlalu sumpek. Kalau berantakkan sih tetep.

Saya juga membatasi kepemilikan. Maksimal harus punya sepatu berapa? Tas berapa? Bahkan celana dalam berapa biji? Jangan sampai saya mengambil “air” lebih dari yang saya butuhkan.

Yang paling susah malah mengendalikan emosi. Saya harus belajar keluar dari diri saya untuk melihat diri saya lebih utuh. Saya melihat saya yang lain untuk mendapatkan gambaran saya yang lebih jernih.

*jangan tanya maksud kalimat di atas apaan.

 Tentang Menyederhanakan Keinginan

Apa-apa yang terjadi dalam hidup nyatanya banyak yang di luar dugaan. Saya dipertemukan dengan banyak hal yang tidak saya “setujui” tapi harus dijalani.

Sampai di suatu titik saya lelah. Bukan, bukan lelah hidup. Tapi lelah punya keinginan yang macam-macam. Tapi buka serta merta lepas dari semua keinginan-keinginan.

*mumet dewe kan?

Nikmatin yang ada aja. Momen yang ada.

Pokoke saya ogah banget direpotkan sama keinginan-keinginan yang menggebu itu. Jangan sampai keinginan ini terlalu mempermainkan saya.

Dipermainkan nggak enak cuy?

Baca Juga ; Menyoal Kesedihan dan Kebahagiaan.

Yep… Tulisan ini cuma sekadar katakan “hai”

Bahwa yang punya blog masih hidup, masih punya semangat ngeblog, masih suka baca menu makanan, suka banget buka paket, suka sepatu… dan suka berinteraksi lewat tulisan.

Betapa rindunya saya menyapa teman-teman di sini. Uwuwuwuwu…

16 komentar pada “Tulisan Penutup (Mencoba Katakan Hai!)

Tinggalkan Balasan